Saturday, June 02, 2012,10:30 PM
Tenggur



Si Lia anak Mak Layur hari ini menikah. Kelas dua SMU, tiga bulan hamil oleh Jay pacarnya yang anak Kampung Lubang Buaya. Pestanya besar besaran, tiga malam anak anak remaja teman kakaknya begadangan. Puncaknya hari ini, pagi pagi ke KUA, akad nikah dengan maskawin uang seraturs ribu. Acaranya khidmat, si Mada Caplang kakaknya yang jadi walinya oleh sebab bapaknya lia sudah enam tahun di akherat. Seharian speaker besar melantumkan lagu lagu campur aduk, dari lagu Sunda, Dangdut, Barat, Betawi, bahkan lagu lagu alay jaman sekarang; girl band dan boy band!

Lia bukan jenis gadis periang dan banyak inisiatif, haus ilmu pengetahuan dan punya khayalan liar tentang penjelajahan, tentang pengetahuan dan pengalaman. Dia hanya anak bontot pendiam dengan sorot mata yang nyaris tak bercahaya, dan kabarnya jika ada kemauannya tidak dituruti, atau dia ada dipuncak marahnya, maka segala perabotan dan barang barang dirumah akan hancur lebur menjadi sasaran kedahsyatan amukannya. Dia sejenis anak yang harus selalu terpenuhi keinginannya dan emaknya tidak punya pilihan lain dikarenakan kecintaanya pada titisan darah dan ruhnya yang menjelma jadi cantik jelita, hamil pula. Pacarnya kebetulan sesama ABG, bermuka tiris dan punya potensi merusak kehidupan orang lain. Type cowok ABG yang diidamkan cewek cewek ABG karena tampang. Enah bagaimana ceritanya, yang pasti Lia hamil oleh lelaki yang hari ini resmi menjadi suaminya. Jay.

Sewaktu zaman dimana nilai moral masih menjadi azas yang berwibawa, kejadian Lia tentu adalah aib keluarga yang menghancurkan banyak aspek. Orang menyebutnya Tenggur, sebuah abreviasi dari Meteng Nganggur (hamil tanpa nikah). Berbulan bulan orang orang akan memperbincangkan dengan sembunyi sembunyi perihal kehamilan yang tidak dilengkapi dengan status suami bagi si hamil. Dari gossip, berkembang jadi desas desus yang selalu ditunggu kelanjutan kisahnya. Menjadi pembicaraan negatif orang orang dilingkungan tentunya aib sebagai hukuman yang sangat berat bagi nama baik keluarga. Sebab keluarga adalah investasi sosial.

Saking aibnya, banyak usaha dilakukan orang kurang cerdas ini untuk menutup nutupinya. Meng- abort proses yang sedang jalan menjadi solusi paling umum; gugurkan kandungan. Pada level yang lebih ekstrim, aib justru dicoba di delete pada saat si janin sudah menjadi orok yang berarti menjadi seorang manusia yang kelak mungkin jadi pemimpin dunia. Untuk menyembunyikan pelanggaran moral memang kadang diperlukan laku amoral. Sebuah jibaku dengan taruhan nyawa yang mengandungkan atau yang dikandungkan. Banyak contoh teman teman Lia yang mati dicekik pacarnya hanya karena diminta bertanggung jawab atas sperma yang mulai menggumpal di rahim.  Lia sungguh orang yang beruntung!

Miris juga, ternyata soal tenggur bukan lagi menjadi hal yang terlalu mengganggu. Ada degradasi moral di lingkungan kita yang sebenarnya sangat memprihatinkan. Mak Layur mungkin bisa menjadi salah satu prototype statement diatas itu. Nyatanya pernikahan anak bungsu tersayang berjalan lancar jaya, semua seusai dengan anggaran dan lebih melegakan lagi pihak mertua yang kebagian sebagai donatur wajib dan lagi tunggalnya. Mertuanyalah yang harus menanggung sejumlah angka atas kebejatan anak laki laki mereka membejati anak perempuan Mak Layur. Prosesnya sama dengan prosesi pernikahan Betawi pada umumnya. Pakai nyebar undangan, pakai datang kerumah rumah memberitahu, pakai pengajian majlis taklim, pakai acara resepsi juga meski kali ini tanpa organ tunggal.

Sama sama pernikahan, tetapi motif dari terjadinya pernikahan itu sebenarnya yang menentukan ruh yang dapat dirasa dari pesta perkawinan. Perkawinan normal datang dari dua orang dari dua lembaga berbeda yang menggalang niat sangat kuat untuk mendirikan satu lembaga baru sebagai penanaman modal sosial. Persiapannya bertahun tahun, kalkukasi segala macamnya termasuk kriteria pasangan pengantin sudah diperhitungkan masak masak dan hati hati, menghindari zero accident. Pernikahan seperti itu akan terasa memang khidmat, dihadiri teman dan kenalan yang datang mengucapkan selamat dengan tulus, membagi kebahagiaan dengan perjamuan dan suasana menyenangkan. Perkawinan karena tenggur kebalikan dari itu semua!

Betapa nikmatnya menjadi masyarakat sederhana, yang menjunjung tinggi kepatutan dan perilaku susila. Sebuah lingkungan beradab yang jauh dari intervensi hukum karena sedikitnya kejahatan dan pelanggaran norma sosial. Dari lingkungan seperti itulah semestinya bayi bayi lahir dan tumbuh dewasa dengan ketulusan dan memegang teguh misi untuk selalu mengumpulkan kebaikan dimuka bumi. Bukankah dengan mengumpulakn kebaikan maka seseorang akan memiliki kesempatan lebih untuk membagi kebahagiaan yang lebih besar (?). Ketika setiap perilaku tunduk pada mazab formalistis, niscaya setiap yang beridentitas Indonesia adalah agung dan mulia, oleh perilaku warga negara maupun tamu tamunya.

Betapa nikmatnya menjadi masyarakat sederhana, dimana setiap orang berlaku dan bersikap apa adanya. Ternyata, sejarah peradaban dunia bermula dari hubungan cinta antar manusia. Tidak peduli jenis kelaminnya!

Gempol 120602


 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Saturday, May 26, 2012,4:42 PM
Instan


Teknologi melahirkan kemajuan zaman. Mendorong terjadinya perubahan sosial instan pada hampir segala aspek hidup. Usia dilupakan, sejarah diabaikan lalu segala hal yang bersifat praktis dan instan menjadi berhala baru untuk dipuja dan diperbanggakan. Padahal kekunoan mengandung sejarah panjang hingga terjadinya revolusi diam bagi kebudayaan umat manusia.

Makanan yang dibuat dengan cara instan oleh kecanggihan alat modern akan menghasilkan rasa kenyang yang instan pula; cepat melesat pergi dari lidah dan perut untuk kembali ke status lapar. Proses instanisasi memerrlukan zat zat anorganik yang lambat laun akan menumpuk jadi residu dalam darah, dalam syaraf bahkan sampai ke lapisan daging dan tulang serta organ organ pencernaan.

Lalu hiburan instan, berupa kesenangan kesenangan sesaat yang didapatkan dengan cara kilat, mudah dan berbiaya. Kesenangan macam itupun pada akhirnya akan menimbulkan kepuasan sesaat, untuk kemudian menyeret penikmatnya kembali ke dunia hambar, dunia lapar akan sensasi.

Lebih parah lagi kawan isntan. Berkawan tidak lagi menggunakan metode metode konservatif yang bagi banyak kalangan dianggap tidak efisien alias tidak praktis. Teman bisa didapatkan dengan instan, hanya dengan menekan satu tombol permintaan melalui buku muka. Kehilangan atas teman instan ternyata semudah mendapatkanya. Sebab sesuatu yang diperoleh dengan mudah sama halnya mempermudah proses kehilangannya.

Tetapi sekali lagi, instanisasi berbagai segi ini adalah budaya baru yang melahirkan sensasi kembang api di zaman canggih yang semakin hambar citarasa. Teman yang dikenal bisa tiba tiba berubah menjadi saudara angkat, saudara hati, atau entah apalagi sebutanya yang menunjukkan sifat berlebihan tanpa melalui proses waktu yang semestinya. Tanpa disadari maka akibatnyapun akan menghasilkan sebuah hubungan penih atificialistik. Teman yang diperoleh dari menekan tombol akan cepat melesap lenyap hanya melalui sekali pencet tombol pula. Akan berbeda jika hubungan antar dua manusia diawali dari komunikasi sederhana, dijalani dengan pikiran sederhana untuk kemudian disimpulkan sebagai sebuah hubungan yang memberikan nilai kedamaian karena kesederhanaan itu. Jika pertemanan dibentuk secara instan apalagi dilingkungan dunai tempat kehidupan palsu, maka resikonya adalah sebuah pertemanan yang mungkin juga palsu.

Budaya instan secara perlahan mengeser nilai nilai mulia dari sejarah, dari tatanan sederhana yang mempersatukan umat manusia secara lahiriah dan batiniah. Keajaiban budaya instan dianggap mirip seperti wujud nyata dari khayalan khayalan yang dengan mudah berubah nyata. Hal itu sering melupakan orang dari cara berkaca, cara bertanya, cara berkomunikasi dengan nurani sendiri. Orang cenderung semakin jauh dari nuraninya sendiri, mengedepankanpencitraan dan demi penilaian orang lain.  Budaya instan mendangkalkan hati, dimana banyak hal manusiawi yang tidak dapat lagi diselami karena dangkalnya palung hati. Asumsi menjadi kebenaran umum yang disepakati diam diam, sementra obyektifitas penilaian dipertaruhkan dalam tatanan tatanan baru yang dilatarbelakangi  kepentingan dagang.

Tidak ada salahnya menari mengikuti gelombang perubahan zaman. Tetapi menenggelamkan diri dalam khayalan yang seolah kenyataan sesungguhnya adalah awal dari kebangkrutan identitas. Perwujudan jejak masalalu barangkali hanya benda mati warisan masalalu, tetapi manusia sering lupa bahwa di masalalu, interaksi antar manusia menggunakan konsep hati nurani, jadi tidak mengherankan jika kemudian kisah sejarah menjadi lebih abadi. Sedangkan sejarah yang tercatat dengan tinta instan, akan lekas terhapus oleh angin liar yang melintasi labirin waktu.

Sepatutnya kita menaruh hormat atas apa yang telah membentuk kita menjadi diri kita hari ini sebab dari sekian banyaknya rekayasa peradaban, maka hukum alam akan tetap menyajikan keadilan yang hakiki.


Gempol 120521
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Friday, February 24, 2012,8:28 AM
Kemaruk Jaya Makmur
Sebatang pohon itu memang bisa menjadi guru bagi kehidupan, asal saja manusia mau meletakkan ego dan kesombongannya di lantai terdasar kesadaran nurani. Sebatang pohon tidak akan menghisap jatah rezeki lebih dari apa yang dibutuhkannya, pun dia masih sanggup menghasilkan buah buah manis bagi kehidupan yang diberikan gratis untuk dunia. Kita belajar bersahaja dari sebatang pohon, kita belajar kukuh dan setia dari sebatang pohon pula.

Sayangnya manusia memang mahluk paling sempurna, yang dibekali dengan akan budi dan juga pikiran pikiran kreatif dalam segala hal. Segala atribut itu menjadi pembungkus sifat dasar bernama nafsu, nafsu diniawi yang tak berbatas langit atau bumi. Sebagai yang paling sempurna diantara mahluk lainnya penghuni dunia, ukuran kesempurnaan itu menjadi subyektif disesuaikan semau maunya. Acuan parameternnya adalah kepuasan, sedangkan kepuasan nafsu akan terus bertumbuh bersama keinginan dan lingkungan yang menyertai pertumbuhan itu. Pergaulan, kebiasaan, tata cara kehidupan semuanya berkembang berdasarkan taraf keserakahan masing masing orang.

Pada level tertentu, keserakahan ditolerir sebagai sebuah “kebutuhan dasar” yang diterima oleh peradaban. Satu orang manusia biasa dengan atribut titipan sementara berupa kekuasaan dan harta diatas rata rata akan sangat mudah terjebak pada paradigma ini. Kehidupan perkotaan yang dibuat seolah olah matematis dan artificialis menjauhkan diri dari pola pola kesederhanaan. Coba saja, sudah umum bahwa satu orang bisa memegang telepon genggam lebih dari satu buah. Bisa dua, bisa tiga, bisa lebih dari itu. Gaya kemaruk seperti itu dipertontonkan justru lebih banyak oleh orang orang yang tergolong intelektual dan berjabatan; sebagai identitas baru sebagai manusia supersibuk yang tidak cukup hanya mengandalkan satu nomor telepon kontak. Kemaruk!

Sebagai manusia supersibuk produk zaman teknologi, bersamanya juga tumbuh kastanisasi kastanisasi berdasarkan kesukaan dan ketidak sukaan semata. Telepon dengan harga lebih mahal dan jangkauan lebih luas diperuntukkan bagi kalangan sekelas yang disebut sebagai kolega, sedangankan pesawat telepon genggam yang lebih rendah nilainya diperuntukkan bagi orang orang yang berada dibawah selevel atau dibawahnya. Ini disebut teman. Kasta kasta tak terlihat nyata itu dibuat penuh keseolah olahan yang sebenarnya mengabaikan tatakrama dasar antar manusia. Sifat kemaruk penguasaan telepon genggam hanya sebuah cerminan, karena dibaliknya sebenarnya terdapat sifat sifat kemaruk untuk hal hal lebih besar lainnya dalam kebanggaan pribadi masyarakat modern.

Di kalangan kehidupan hedonis dan matrialistis, penguasaan atas satu bidang materi sepertinya tidaklah cukup. Batasan batasan tenggang rasa terhadap kondisi sosial sekitar menjadi abu abu dan cenderung terabaikan oleh keangkuhan serta pengakuan duniawi semata. Kekemarukan itu juga meliputi wilayah wilayah kekuasaan (power) serta pengakuan pada komunitas tertentu, jadi tidak semata pada soal kekayaan materi. Kekerabatan, keakraban yang divisualisasikan sebagai teman hanya sekedar pepesan kosong ketika bersentuhan dengan kebutuhan atas pemenuhan nafsu duniawi tersebut.

Kondisi seperti itu menciptakan akar rumput yang apatis, ibarat bara yang menjalar di bawah permukaan tanah gambut. Mereka yang kemaruk, jaya dan makmur sesungguhnya disumpahi, dan didoa doakan oleh mereka yang tebakar ketidak adilan, terinjak injak tak berdaya dibawah duli kuasa sementara. Doa doa terburuk yang pernah lahir dari mereka yang didera penderitaan bathin diam diam di dalam lautan kehidupan ini.

Sudah seyogyanya kita belajar dari sebatang pohon, yang tak merampas lebih dari yang dibutuhkan untuk memberikan hal hal manis dan berguna bagi kehidupan dunia.


Palembang 120224
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Monday, February 20, 2012,9:53 PM
Filsafat Pohon
Semakin tinggi pohon, maka semakin jauhlah daun dari akarnya. Bahwa memang dedaunan sebagai elemen kehidupan dibatasi oleh siklus usia sebagai penampung dan penampang seluruh silsilah si pohon. Dedaunan pula yang mencatat kisah sejarah si pohon dalam guratan guratan batangnya. Akar ada sejak sebermulanya kehidupan, dia pula yang menjadikan dedaunan yang merepresentasikan sebuah pohon. Daun tak lebih hanya muncul berbentuk kuncup, lalu hijau berjaya, kemudian perlahan menua, kuning dan akhirnya luruh ke tanah, kembali kepada akar yang sebenarnya ketika usia tak lagi membutuhkannya. Nasib daun tidaklah lebih baik dari batang apalagi akar. Terkadang ia terombang ambing dalam arus angin tak menentu, bahkan terkadang patah layu bersama ranting yang menyerah oleh derasnya angin nasib.

Maka semakin tinggi tingkat kehidupan seseorang, pada umumnyapun akan semakin jauh dari akar yang membuatnya menjadi ada dan tempatnya berada. Nilai nilai kesahajaan sering membias bersama dengan pola dan gaya hidup yang dipengaruhi oleh pikiran pikiran hedonis. Memang demikianlah sifat manusia pada umumnya, yang mengukur kejayaan dari segi segi yang dapat dihitung dalam bentuk angka angka. Jangankan pada akarnya yang menjadikannya ada, pada kepastian siklusnyapun terkadang orang menjadi sombong dan pelupa.

Pada ketinggian tingkat daun, angin segar dan langit membentang tak terbataskan garis apalagi dinding menjadi seakan kepemilikan atas kekuasaannya yang abadi. Seluruh kehidupan seolah menyoraki dan menyokong segala yang diperlukan untuk menyenangkan nafsu duniawi. Kaki kaki kesadaran nurani menjuntai tak menyentuh tanah kenyataan, apalagi mengecap becek dan kotornya lumpur dan debu dunia milik sang akar. Daun daun mati yang berserak tak lebih hanya akan menjadi gizi bagi daun daun lain di generasi lain, tak memberi makna apa apa bagi pohon dan akar. Ketika hidup berjaya, terkadang bahkan makna pertemananpun sering diukur dengan pasal pasal pengatur peradaban.

Sungguh malang mereka yang miskin akan kekayaan nurani, meskipun hidup dalam gelimang kemudahan karena materi. Mereka menjauhkan diri dari kehidupan dunia dan menjadi nyaman di kehidupan maya, kehidupan semu yang diciptakan demi melindungi kesenangan yang mampu terbeli. Kebiasaan pamer dan juga tidak peka terhadap perasaan orang disekeliling sesunggunya telah mematahkan anak anak tangga yang didaki dulu, dan karena sombongya menganggap takkan memerlukan anak anak tangga itu lagi. Ah, hidup itu hanya siklus. Sesuai hukum alam, bahwa segala sesuatu yang naik pastilah akan turun lagi. Bukankah akan bijaksana jika kita tetap memelihara anak anak tangga yang membantu kita mencapai puncak, untuk suatu saat nanti kita injak lagi jika tiba saatnya kita harus turun? Sebagian kita memilih jatuh terbanting dari ketinggian, menjelempah bagai sampah karena gravitasi yang diingkari justru dari tempat tinggi.

Memuja angin sama saja memuja ketiadaan, sedangkan langit yang tampak kosong tak selamanya berisi kehampaan. Segala yang hidup pasti akan mati, dan semua yang berwujud dimuka bumi tidaklah kekal. Pamer, sombong, congkak dan mati rasa sesungguhnya hanya akan menjerumuskan kita kepada perasaan antipati serta menebar benih benih kebencian yang pada saatnya kita terjatuh akan menjelma menjadi tepuk tangan yang meriah dari mereka yang berbahagia atas kejatuhan kita.

Kotabumi 120220
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 1 comments
Friday, January 13, 2012,12:37 AM
Darpin
Ini dongeng mistik masa kecil, yang menelikung keberanian setiap bocah lelaki kecil yang mendengarkannya. Konon Darpin adalah ilmu hitam yang menggunakan mayat orang lain untuk dirubah bentuk menjadi bermacam macam bahan pangan, seperti beras dan lainnya. Konon beras hasil Darpinan ini butiran butirannya lebih besar besar dan mrisih. Terlalu bagus sebagai beras dalam ukuran yang sewajarnya. Selain beras umumnya bahan pangan hasil Darpinan adalah kacang kedelai atau kacang tanah. Kedua komoditi itupun juga memilki cirri ciri yang sama; sempurna.

Konon lagi, orang sakti yang memilki ilmu hitam dan biasa melakukan Darpin menjalankan aksinya dengan cara menarik jasad orang mati dari kubur dengan ilmu gaib. Kabarnya, setiap mayat yang ditarik keluar pasti akan melakukan perlawanan sehingga terjadi perkelahian antara mayat dan tukang Darpin. Tidak jarang tukang Darpin kadang terluka pada perkelahian itu. Ciri ciri kuburan korban Darpin konon ditandai dengan adanya lobang mirip liang gangsir – sejenis jangkrik besar - pada sekitar gundukan makam.

Sangkaan tukang Darpin (yang kalau sekarang lebih dikenal dengan tuduhan dukun santet) yang santer beredar dalam bentuk rumor dari pos ronda ke pos ronda, dari desa ke desa adalah Ki Lurang Gondang. Pak lurah yang kemana mana menyetir sendiri mobil bak terbuka merk Datsun warna merah marun itu memang terkenal dengan kekayaanya. Kekayaanya bukan cuma rumah megah dan sawah berlimpah, tetapi juga usahannya yang bertebaran, dari usaha penggilingan padi sampai penggergajian kayu. Kata rumor, kekayaannya itu didapatkan dari hasil mendarpin.

Begitu santernya nyatannya rumor itu, hingga beredar melalui bisik bisik bahwa setiap habis ada orang yang meninggal, maka biasanya Ki Lurah Gondang akan tiba tiba menghilang paling tidak selama tiga hari. Konon menghilangnya Ki Lurah berkaitan dengan proses transformasi dari jasad manusia menjadi bentuk bahan pangan yang diinginkan. Itu sudah cukup untuk membuktikan betapa saktinya Ki Lurah, yang sudah mengalahkan mayat dan lalu menganiayannya menjadi bahan pakan manusia.

Waktu itu setiap habis ada orang yang meninggal dan dikubur di pekuburan desa, suasana malam tintrim selalu menindih perasaan. Sebuah atmosphere super horror yang diciptakan oleh pikiran kanak kanak. Malam terasa sangat menyiksa seolah olah monster monster bersama mayat mayat bergentayangan mencari anak anak yang ketakutan. Terutama anak anak laki laki yang menggigil sumpek bersembunyi didalam buntalan sarungnya. Kegelapan malam terasa begitu mengancam, dan rasa kantuk hilang berganti kecemasan luar biasa.

Jika seseorang meninggal pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, maka kuburan tersebut harus dijaga selama tiga hari tiga malam berturut turut. Para lelaki kerabat si mati, tetangga dan sanak saudaranya akan begadang di pusara yang baru jadi. Konon Darpin tidak akan bisa melancarkan aksinya jika makam sasaran dijaga oleh orang yang masih hidup. Tetapi konon pernah juga kejadian, kuburan yang dijaga sekalipun bisa kecolongan Darpin. Pasalnya, tukang Darpin juga menguasai ilmu sirep, dimana dengan ilmunya dapat membuat orang akan tertidur karena tidak tahan kantuk yang menyerang. Sewaktu para penjaga kubur itu tertidur, maka aksi Darpin terjadi.

Suatu kali, Ki Lurah Gondang pernah sakit bernama “Badan Mati Separo”. Penyakit mengerikan yang membuat tubuh seseorang akan separo mati fungsi, separonya lagi tetap hidup normal. Konon pula, sakitnya Ki Lurah juga berkaitan dengan aktifitasnya sebagai tukang Darpin. Hukum karma yang didapat dari cara kotor, mencuri mayat demi harta dan kehidupan dunia pribadinya. Sejak sakit itu, perlahan lahan tapi pasti kekayaan Ki Lurah semakin hari semakin menyusut. Malapetaka juga terjadi beruntun, mulai dari penggilingan padinya yang terbakar hingga kecelakaan yang memakan korban di penggergajian kayunya.

Tiga tahunan sejak sakit itu, Ki Lurah Gondang akhirnya meninggal. Sejak itu juga terjadi kelegaan magis pada orang ramai. Tukang Darpin tidak ada lagi, mayat akan lebih aman di liang lahat. Dan konon sejak meninggalnya, tidak ada lagi cerita tentang Darpin terdengar lagi, karena orang meyakini Ki Lurah Gondang adalah tukang Darpin meskipun itu hanya konon.

Andong 120113
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Sunday, January 01, 2012,4:07 AM
Tahun Baru
Ketika asap kembang api sisa perayaan perlahan melesap di udara, maka yang tampak adalah hamparan jalan berbatu dan tenaga yang berkurang satu demi satu. Tahun baru tak ubahnya lanjutan dari perjalanan panjang, titik penanda dimensi waktu yang diagung agungkan dengan kegembiraan yang berlebihan. Angka tahun yang lama seolah olah tamat mejadi benda mati dalam keterkurungan kenangan. Tekad tekad mulia dibangun dalam kuil kuil semangat, pundi pundi harapan ditimbun demi modal perjalanan setahun kedepan. Garis umur menjadi terkotak kotak oleh penyesalan. Lompatan lompatan peristiwa membekas bagai jeda dalam ketukan spasi.

Tahun yang berat hampir menyentuh ujung. Untaian waktu yang menyisakan catatan, torehan peristiwa demi peristiwa, kesakitan dan juga tawa. Tahun kehilangan yang juga berisi catatan tentang pelangi yang kehilangan warna. Dalam tanjakan usia, indeks prestasi tersusun layaknya cekung cekung kali yang kering dan pucat. Terkadang kenyataan menghantam keras dan bertubi, bahkan khayalan sekalipun tumpas tersapu oleh angkuhnya kekuasaan. Kuasa berpikir, kuasa berbijaksana bermakna juga kuasa nasib atas orang lain dibawah titah.

Usia yang mendaki puncak memerlukan pengorbanan disepanjang jejaknya. Terbelanjakan ha hak instimewa maupun kesempatan. Seolah merapuh titian asa, terkadang gelap bahkan tak mampu teraba. Bahkan jejak jejak indahnya menjadi prasasti mati, sesuatu yang layak dibanggai nanti sepuluh tahun lagi. Seiring berkurangnya jatah usia dan menumpuknya kebijaksanaan yang hanyut terbawa olehnya. Semestinya sebentar lagi kan sampai, ke tanjung kesadaran dimana benih benih kebijaksanaan usia akan tertebar disepanjang sisi laut pengalaman.

Jalan didepan sungguhlah lapang, namun akan ada kemarau dan hujan yang terjadi, juga barangkali badai dan bencana didepan sana. Selayaknyalah kaki dilangkahkan penuh keyakinan dan kepasrahan, bahwa jalan yang akan kita lalui barangkali akan kita lewati sekali dalam seumur hidup. Besertanya juga mengandung konskwensi dari perbuatan sepanjang jalan itu. Konskwensi yang kita jalani pada labirin waktu yang disebut orang seabagai tahun baru. Dan perlahan pada saat yang sama kita akan menjadi tua secara otodidak.

Maka sebenarnya tidak ada istimewanya pergantian tahun, kecuali almanak di dinding yang segera bergeser ke tempat sampah untuk ditempati cover yang baru. Segalanya toh akan berjalan sama lagi, menjadi rutinitas lagi dan menyelenggarakan jejak peradaban yang berjalan berulang dalam siklus waktu. Perayaan tidak ubahnya seremoni pamer kegembiraan yang mudharat. Sungguh menjauhkan kita dari nilai luhur kemanusiaan yang beretika tinggi.

Dari dukacita kita temukan pembelajaran tentang bagaimana menyiasati kemungkinan, dan dari ketidak adilan kita belajar mengenai kebesaran hati. Penolakan dan kekecewaan diredam agar tak jadi dendam, senda gurau dicatat sebagai tanda kasih keajaiban Tuhan.

Songgom – Prupuk 111226
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Friday, December 09, 2011,12:45 AM
Pelangi Tak Berwarna
Pelangi abadi tanpa warna mengimbangi kegetiran dan kecemasan alam fakta. Dunia temaram, tempat bersemayam kegaiban dan keajaiban dimana tak ada batas oleh dimensi ruang dan dimensi waktu Sepanjang dindingnya yang terbuat dari angin adalah lorong lorong petualangan yang tak terpetakan dan selalu menantang. Sebuah pengembaraan disepanjang ruang kubus yang terbungkus dalam rahasia yang pekat. Semua yang terasa hanya tinggal di rasa, tak menyisakan jejak sejarah sebagaimana layaknya sebuah risalah yang majemuk.


Ketika waktu merampasi hak untuk mampu, bersamanya samar tertampak gundukan demi gundukan kuburan masa silam. Didalamnya tertanam jasad jasad gambaran, keindahan tak bertara yang dianggap mati dalam hidup bekunya. Sungguh sebuah hadiah indah untuk bisa sekedar bernostalgia bersama catatan rahasia yang lama dikaburkan dari sejarah kehidupan. Dunia rasa dunia dengan pelangi tak berwarna, menyajikan pentas raksasa kepada jiwa jiwa petualang yang bermutan dari laku durjana.


Diujung horizon, dikaki pelangi tak berwarna kabut menggupal laksana peri. Jelmaan dari sesuatu yang menjadi pujaan, dan mengambang tak menginjak bumi. Ia menjadi sumber keindahan rapat dibekap misteri. Sepenuhnya berisi tentang petulangan petulangan sunyi antara dua hati, menjelajahi negeri negeri tempat pelangi memiliki warna. Kabut itu tetap menjadi keindahan nisbiah yang tak direstui oleh peradaban. Disembunyikan kepedihan dari tatapan orang, menembusi awan dan langit tak bertuan dengan tangis yang tertahankan diam diam.


Betapa tipis batas antara khayalan dan harapan. Dan pada salah satu keping ingatan yang berlubang, disana ada cerita cinta. Ingatan seperti berjalan dilorong temaram, dengan potongan potongan cermin disepanjang dinding. Dan tangan tangan yang kehilangan genggaman, dingin beku diterlantarkan perpisahan. Sesutu yang mati tiba tiba. Kenapa setiap nama membangkitkan kenangan indah. Kesedihan kesedihan yang membahagiakan itu. Dan pengalaman terus saja melahirkan sangkalan. Biarkan cerita tentang percintaan itu mengalir keluar bersama asap rokok. Cerita yang hanya berputar dan berpendar searah didalam kepala, melangkah ditempat yang sama sementara jejak terjarak di lantai masa.


Kata orang langit tempat pelangi tak berwarna itu tak berbatas. Membentang sepanjang kemauan hati dan bebas gravitasi.


Halim 111209
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Friday, November 25, 2011,2:26 PM
Demo Buruh di Hari Guru
Ukuran Kebutuhan Hidup Layaklah yang menjadi biang kerok kerusuhan berdarah demo buruh di Batam kemarin, akan menarik untuk dilihat agak bergeser memikir dan menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Yang pasti, peristiwa itu dipicu oleh suatu sikap pengabaian pejabat pemerintah terhadap tangung jawab moral terhadap rakyatnya, yaitu mensejahterakan. Sejahtera berarti aman sentausa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan).

Ketika banyak pejabat publik menjadi penipu dan pencuri uang negara bernilai miliaran, buruh menuntut revisi penghitungan nilai Kebutuhan Hidup Layak. Mereka merasa pemerintah yang diwakili pejabatnya telah salah memperkirakan kebutuhan layak para buruh yang dianggap tidak sebanding dengan tingginya tiap individu mengkonsumsi gaji. Secara teknis, penentuan Kebutuhan Hidup Layak memang dilakukan oleh pejabat mewakili kekuasaan negara, kemudian perwakilan buruh sebagai end user, dan organisasi pengusaha yang nantinya wajib membayar nominal minimal dari Upah Minimal yang ditetapkan. Besaran upah inilah yang dianggap layak oleh pemerintah dan dianggap tidak layak oleh buruh.

Mari sinis. Masuk akal jika angka yang ditentukan konsorsium tiga kepentingan tersbut kemudian diprotes oleh buruh yang menghitung kebutuhan hidup layak mereka dengan cara yang berbeda. Pejabat pemerintah sebagai regulator yang melegitimasi upah buruh menggunakan rasio matematis dari hasi survey sehingga tidak klop dengan kondisi nyata di masyarakat. Rasanya hampir (?) tidak ada pejabat negara yang tidak hidup makmur. Itulah makanya kepekaan terhadap kebutuhan kebutuhan dasar hidup dalam masyarakat biasa menjadi tumpul. Intinya, orang kaya tidak tahu dan tidak ingin tahu bagaimana rasanya menjadi orang miskin, sedangkan orang miskinpun tidak akan sanggup menyentuh angka angka ongkos yang dihabiskan untuk kebutuhan hidup layak bagi golongan kaya.


Tidak sesederhana itu, saudara. Upah Minimum yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah tentunya telah melewati tahapan tahapan perbandingan, bahasan bahasan mengenai kelayakan serta pertimbangan yang matang. Kepentingan pengusaha sebagai majikan yang memberi upah kepada buruhpun harus diamankan, karena dari kegiatan usaha itulah pundi pundi pendapatan daerah ikut membiayai ongkos managerial birokrsi pemerintahan dalam mengelola wilayahnya. Efek kegiatan usaha itulah yang menggerakkan roda ekonimi diwilayah yang dipimpinnya. Dilihat dari mekanisme yang dipakai dalam menentukan besaran angka, upah minimum sebenarnya adalah kesepakatan antara perwakilan buruh dan perwakilan majikan. Pengertian seperti itu tidak semua buruh dapat memahami; tetapi mereka tahu bahwa angka itu tidak sepadan dengan ongkos hidup. Bagi buruh, angka angka itu memang vital, lebih dari sekedar periuk nasi. Kebutuhan hidup layak tidak hanya makan, tempat tinggal, dan sandangan layak.

Ada tiga faktor inti yang menjadi pemantik pertikaian buruh di Batam; Pertama, zaman telah banyak merubah barang barang yang dulunya dianggap mewah menjadi biasa. Sementara ongkos kehidupan dan biaya pergaulan turut menanjak naik seiring membengkaknya volume komunitas mereka. Kedua, gaya hidup hedonis pejabat negara yang jauh dari kesederhanaan diam diam menjadi racun moral bagi masyarakat awam menengah, yang kemudian disimpulkan sebagai sebuah sikap tidak adil yang dipertontonkan. Ketiga, teknologi informasi yang sedemikian pesat ikut menyeret hampir sebagian masyarakat kepada dunia konsumtif dan imitatif.

Kaum buruh, sebagai komponen manual dari alat alat industri banyak direpresentasikan secara statistik dan menomor duakan aspek sosialnya. Sambil terus bekerja mereka menanggungkan beban mental atas rasa ketidak adilan majikan pemberi kerja, dan mencoba mengadu kepada pemerintah sebagai pemomongnya. Ketidak adilan dan ketidak bijaksanaan yang menjadi biang dari kekerasan. Tindakan represeif petugas Polisi beralasan juga karena mengemban kepentingan tugas sekaligus melindungi harga diri mereka sebagai petugas. Sayangnya, demo yang tujuannya mulia itu akhirnya berakhir dengan anarkisme, tidak ada konklusi, dan merugikan semua pihak; bahkan pihak yang tidak ikut ikutan dalam aksi itu.


Batam masih tegang, sementara nusantara memperingati Hari Guru Nasional, berbarengan lagi dengan pawiwahan agung kepala negara yang ngrabekke anaknya. Segitiga psikoligis; terliakan lapar, krisis tauladan, dan pembororosan seperti berebut perhatian dari rakyat Indonesia dewasa ini. Rakyat Indonesia yang tak berhenti berharap akan terciptannya negeri gemah ripah loh jinawi, aman, toto, titi, tentrem dan kerto raharjo. Barangkali, cita cita itu akan cepat terwujud jika setiap manusia lebih banyak bersyukur atas hidup hingga hari ini.


Selamat berjuang para buruh!
Selamat berulang tahun Bapak dan Ibu Guru!
Selamat ngrabekke pak SBY!

Gempol 111125
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Monday, November 14, 2011,12:14 AM
Bingkai Cinta
Cinta itu bisa membuat orang menjadi bertingkah aneh. Yang hari ini cinta setengah mati, besok bisa dicekik atau mencekik mati gara gara cinta yang setengah mati itu. Ketika orang lelaki perempuan diperkenalkan kemudian seolah merasa ditakdirkan sebagai jodoh, maka perkawinan kemudian dijadikan legitimasi atas hubungan dua orang tersebut. Tujuannya samar samar jelas; demi terciptanya kebahagiaan lahir batin. Kesejahteraan jiwa raga dan kenyamanan akal dan pikiran. Perkawinan adalah bingkai yang meruangi hubungan cinta itu dalam lingkaran penuh rambu dan aturan. Pelanggaran terhadapnya bisa disebut sebagai penyimpangan sosial dan menistakan sakralnya makna perkawinan yang diagung agungkan. Dan bagi pelanggaran akut, maka perkawinan tinggal bermakna sebagai ikatan hukum antara dua orang yang penyelesaiannyapun melalui jalur hukum negara, kembali kepada syarat syahnya hubungan perasaan yang terwakili dalam tulisan diatas kertas. Disini cinta tak lagi dibicarakan.


Perkawinan menghasilkan rumah tangga, dan rumah tangga memunculkan banyak dinamika. Kuasa waktu kemudian membawa setiap cerita perkawinan dengan kisah kisah luarbiasa, kebahagiaan tertinggi tetapi juga penderitaan bathin terbaik bagi sebagian orang. Dalam perkawinan membujur garis pembatas yang memagari dimana jika semakin dilanggar akan semakin pudar hingga lama lama tak lagi terasa ada pembatas itu. Garis pembatas yang memisahkan antara dunia maya dan dunia nyata. Dunia maya tak terbatas daya jelajahnya, sedangkan dunia nyata hanya berisi simbol simbol peradaban yang ideal yang harus ditaati.


Pengalaman beberapa orang menunjukkan bahwa faktor lahiriah hanya punya andil kecil dalam mengenali orang lain. Kenal yang sebenar benarnya kenal adalah memahami latar belakang alasan atas setiap langkah pikiran yang dibuat orang yang kita kenal. Perbedaan perbedaan fisik seperti usia, maupun hal lainnya tidak cukup kuat intuk menyokong sebuah kesimpulan pengenal seseorang. Cara pikiran melangkah, cara otak mencerna dan sesudah diolah oleh nurani diubah menjadi energi budaya atau kepribadian adalah hal fundamental yang menentukan apakah seseorang berpotensi untuk membuat sebuah hubungan (apapun jenis bentuk dan sifatnya) menjadi nyaman untuk dijalani. Rasa nyaman yang lahir alami dan menjadi ruh sebuah hubungan sesungguhnya adalah intisari tujuan dari setiap perhubungan antara manusia. Rasa nyaman yang kemudian dikurung dalam bingkai hubungan suami istri, dengan keyakinan bahwa rasa nyaman itu tidak akan melewati garis bingkai yang mengkandangkan harap dan tujuan berdua. Abadi selama lamanya!


Tapi waktu punya kuasa. Garis maya pembatas mengikat sekaligus penuntun hati untuk patuh terhadap aturan main kadang tersamarkan oleh kilau dunia, kilau hal hal baru yang menawarkan petualangan lebih seru. Praktek perilaku tidak adil menciptakan kekacauan, dimana kemudian perkawinan berubah bentuk menjadi tirani kecil dengan sel sel penjara yang mengekang. Ikatan hak dan kewajiban dalam suami istri acap kali memunculkan raja raja kecil bermahkota arogansi di singgasana rumah tangga rintisan berdua yang diklaim sebagai ciptaan salahsatunya sendiri. Slogan slogan mulia dalam janji perkawinan perlahan kehilangan makna dan bingkai maya itu mejadi tandus oleh cinta yang sejak semula menjadi penyebab terjadinya. Dihuni oleh para hati yang gersang cinta, dengan bilur bilur luka disekujur permukaannya. Jiwa jiwa malang yang penuh cinta kepada pasanganya perlahan merana, diperlakukan culas tanpa bisa berdaya. Dan hanya dunia diluar bingkai semata tersedia penawar perihnya derita cinta. Hanya disana tersisa bahagia dari cinta yang terlarang.


Tinggallah kenangan cinta masamuda yang tersisa, teronggok menjadi barang mati tak bisa terulang kembali. Waktu bisa merubah orang, dan sebagian yang menundukkan diri pada cinta setengah matipun pada akhirnya terjebak dan terjepit dalam feodalisme suami istri. Ketidak adilan dan kesewenang wenangan akhirnya membuahkan ketidak adilan dan kesewenang wenangan baru yang terjustifikasi. Disinilah kemudian rasa cinta bertransformasi menjadi hitung hitungan matematis semata. Lex talionis, balas dendam dengan perbuatan yang sama tanpa berniat menyakiti demi menghormati rumah tangga. Ketika hukum balas dendam dianggap sebagai rambu baru dalam lingkaran bingkai cinta, maka rumah tangga sebetulnya telah kehilangan esensinya. Makna yang sesungguhnya tentang itu kemudian menjadi aus terganti ego yang menjulang. Kebahagiaan dicari dari luar bingkai ketika apa yang ada dalam bingkai hanya api dalam sekam, ibarat pasukan rayap yang telah melapukkan semua pilar pilar cinta penyangga perkawinan dari dalam. Tak jarang, pada saat badai datang, sang bingkai akan terhempas ke bumi dan hancur berantakan.


Hubungan antara manusia memang rumit, dan terlalu banyak hati yang baik menjadi sakit karenanya. Terlalu banyak kisah indah perkawinan yang berubah bentuk menjadi tragedi kehidupan pada akhirnya.




Gempol 111114
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Thursday, October 06, 2011,2:02 AM
Perkabungan
: Bue (13 Agustus 1942 - 06 Oktober 2011)


Kepada rindang pohon trengguli tertitip jasad ibunda yang terlelap dalam tidur panjang penuh kedamaian tanpa mimpi. Selimutnya bumi bertabur bunga setaman dan doa doa kami yang kehilangan. Isak tangis disembunyikan dibalik wajah wajah lusuh penuh duka cita. Kuning terang bunga trengguli, bergoyang pelan diatas makam. Kemarau yang membawa angin kering mengembara membawa kabar duka ke kota kota nan jauh. " pagi tadi ibunda telah pergi. . . "


Ibunda induk hidup, separuh akar dunia tercabut oleh karena kepergianya, pergi yang tak akan kembali lagi. Hati berlubang dilimuri puji ujian perkabungan bercampur kesedihan terhebat sepanjang hayat. Segala kenang kenangan atas indahnya masa kecil sepanjang perjalanan menggenang pada udara. Sejuk tanah merah menjadi peristirahatan terakhirnya, tanah yang sama ketika pertama mengenal dunia.

Ibunda ibu dunia, yang menitiskan ruh pada jiwa jiwa perkasa. cinta terbesar terbentuk oleh kisah kisah sepanjang masa. Kembang turi dan kecambah lamtoro memupuk anak anak panah yang melesat menjelajah angkasa tak bertuan, menejejaki bumi bumi nun jauh yang pernah teceritakan di temaram lampu tempel; atau dihamparan rumput teki ketika rembulan penuh menguasai langit dulu.

Ibunda cinta abadi, berpeluh kasih sayang mengalir sepanjang dan sepenuh nafasnya. Dari kedalaman batinnya bersumber cinta kasih, cikal bakal kehidupan yang menebar di lembah lembah dan bukit nasib dimana harapan disemaikan. Sejuknya menjadi jimat penyemangat ketika kaki kaki kecil kami belajar melangkah menapaki bumi, memungut setiap keping kenangan untuk dipersembahkan kembali kepadanya sebagai kebanggaan.

Ibunda yang terbaik hatinya. Bersama pergimu, separuh bumipun luruh jadi debu. Tinggal syahdu suara menggema di dinding jiwa, mengantarkan cerita dongeng tentang negeri yang jauh; mengantar kami ke alam mimpi masa kecil. Senyum ibunda menjadi mercusuar pengarah langkah setiap kali mata angin menyesatkan arah. Maka gugusan waktu akan mengaburkan hangat dari pelukan terakhir, lantunan doa yang mengalir melalui hatimu yang bening.


Ibunda Ibu surga, kepadamu segala cinta dan kebahagiaan berpalung. Yang menjadikan kita menjadi manusia, kemudian yang mengajarikan tentang tata tertib dunia, mengenalkan kepada hidup dengan caranya, menuntun sikap untuk selalu menuruti cahaya hati. Cintanya sebesar rongga antara bumi dan langit, sedangkan kasih sayangnya seluas ukuran dunia. Suci dan juga sepenuh hati. Tidak akan pernah ada cinta yang menyamai keagungan cinta ibunda yang bercita cita memuliakan anaknya dalam kehidupan dunia. Begitu besar cinta kasihnya sehingga ruhnya selalu tertitis kepada jiwa anak anak yang telah menjadi manusia. Tidak peduli hal apapun yang kita anggap sebagai hal buruk yang diberikan, maka ibunda tetaplah seorang malaikat utusan Tuhan untuk menjadi perantara keberadaan kita di dunia dalam keadaan hidup.

Hidup adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan melalui tubuh ibunda. Tidak ada kemuliaan yang melebihi hal itu Untuk itu terhaturkan rasa terimakasih tak terhingga sebagai pengantar perjalanan baru menghadap Sang Pemilik hidup.


Sugeng tindak, bue...

Andong 111006
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 2 comments
Wednesday, September 28, 2011,10:55 PM
Sepanjang Jalan Buntu
Perjalanan penuh petualangan paling seru sedunia itu memang menuju jalan buntu. Pengetahuan tentang bagaimana mensiasati jalan yang akhirnya buntupun tidak diperlukan, serahkan pada hati untuk berimprovisasi jika nanti ujung jalan buntu sudah ketemu. Akhirnyapun journey itu akan membentur jalan buntu bersama sama dengan hati dan pikiran yang tiba tiba beku. Romansa perjalanan sepanjang jalan buntu itulah memang yang menjelma menjadi candu ajaib, mengalahkan kemungkinan buruk yang mungkin akan ditemui di ujung jalan buntu. Semua terhenti, kecuali cerita yang akan terus mengakar dan menjalar, mengandung getah getah pengalaman dan kenangan yang tidak akan bisa dihapus dari catatan di sel otak, dan di palung hati. Sebab, cerita petualangan itu sendiri sangatlah hebatnya. Nomor satu di dunia.

Memang demikianlah keadaanya. Tak perlu menyalahkan keputusan yang kita buat sewaktu langkah pertama bersama terjadi. Semuanya semata mata pilihan hati yang sama sama dikehendaki, bukan untuk menuju kepada sesuatu atau menjadi sesuatu, tetapi memang semata mata hanya mengarungi pelangi perasaan jiwa. Dan kita terbenam dalam catatan kental kisah kisah khayali yang benar terjadi dimuka bumi. Semua catatan perjalanan mari kita kemas diam diam, untuk kita simpan dalam lemari kenangan abadi masing masing. Ia akan tetap hidup dalam angan angan dan perasaan. Tempat tempat dan kota kota nun jauh akan menyimpan monumen tak kasat mata yang akan selalu membawa kenangan itu hidup kembali dalam bayang bayang, seolah jejak jejak usang itu baru saja kita ciptakan.

Pada akhirnya kita harus menerima bahwa jalan buntu tidak akan membawa kita kemana mana, kecuali menyusuri kembali rute sebelumnya, kali ini dengan langkah terpisah jauh dan jemari tangan yang berdiri sendiri, kita tak lagi saling bertautan. Ya, kita menapak tilas kisah kita sendiri sampai tuntas, sehingga waktu akan mengantar kita ke dunia baru masing masing yang masih tetap rahasia. Tetapi jalan buntu itu akan selalu ada, dengan relief kisah kisah suka duka disepanjang tepinya, mengisahkan tentang perjalanan hati yang tak terekam dalam deretan frame di pita usia. Sungguh seluruh gambar dan suaranya mengisahkan sepotong kisah drama dua manusia pada suatu ketika.

Meskipun dirasa lara, tetapi kita tunduk tak berdaya kepada kekuatan lain lagi yang mengharuskan kita melangkah menjauh dari keinginan sederhana; berjalan besama.

Gempol 110928
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Friday, September 23, 2011,12:49 AM
Salah Rasa
Perjodohan antara tuduhan dan pengakuan atas sebuah keadaan melahirkan perasaan salah yang wajar dan tulus, yang tidak memberikan hak apapun untuk mencari pembenaran apalagi mencari sesuatu yang lain untuk disalahkan. Perasaan bersalah adalah sesuatu yang benar karena ia jujur seperti apa kata nurani. Sedangkan kesalahan yang kemudian dimodifikasi dengan berbagai alasan supaya tidak terlihat sebagai sebuah kesalahan adalah suatu tindakan yang salah. Tindakan itu tidak lain hanya akan melahirkan bibit bibit kesalahan yang bisa tumbuh subur sehingga menyembunyikan hal yang benar dengan sempurnanya.


Pengakuan salah dalam hati dan dalam pikiran bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Sebab rasa pengakuan itu diikuti oleh banyaknya tatanan norma bijaksana sebagai orang yang bersalah; pesakitan. Diam tenang lalu memasrahkan diri pada keadaan. Menempatkan kepentingan kepentingan ego nun jauh dibelakang kepentingan kepentingan lain yang bukan untuk diri sendiri. Atas nama kebaikan sematalah maka kemudian cerita menjadi berubah kelabu sebagai konskwensi dari benturan perbedaan persepsi. Setiap sikap ada akibatnya, dan setiap perbuatan akan memiliki nilai kebenaran dan kesalahan dalam tataran rasa jiwa.

Jiwa yang berani menanggung pengakuan rasa bersalah itulah yang sebenarnya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh para pendusta, yaitu mereka yang menyangkal kata hati sendiri. Dan sesungguhnya, perbuatan semacam itu tidak lebih dari membodohi diri sendiri dengan kebenaran palsu yang dikomunikasikan. Sebuah konstruksi keseolah olahan yang dibangun sangat megah, meskipun rapuh bersifat sampah.

Sikap terima salah terasa seperti mesin kapal yang tiba tiba mati, tak mampu dikendali lagi titik mata angin yang menjadi tujuan pertama ketika kapal menjejak dermaga. Terapung apung, dipermainkan oleh ketidak berdayaan atas keperkasaan angin dan ganasnya amuk ombak. Saat itulah langit mengajarkan kita akan kerendahan hati, betapa sesungguhnya nasib tiap mahluk sudah diatur dan dikendalikan olehNya. Maka sikap terima salah seperti itu akan menjadi penghargaan terbaik kepadaNya. Kesalahan harus diterima sebagai sebuah pelajaran berharga bagi mereka yang punya cita cita menjadi pribadi yang baik. Taat nurani.

Ketidak berdayaan atas tindakan melahirkan harapan harapan yang lama lama menjadi energi yang menguatkan hati . Bagaimanapun dengan lapang dada harus menerima apapun yang mungkin terjadi jika kapal mati itu bertemu daratan. Kehidupan dunia, kehidupan zonder khayali berisi rangkaian realita peradaban yang dipenuhi dengan dekorasi aturan kepatutan dan tatanan kepantasan sana sini. Sedangkan segala keinginan dan ketidak inginan domainnya ada di dunia khayali itu, bukan di muka planet bumi yang dikendalikan manusia dengan kemunafikan moral.

Rasa bersalah yang disikapi dengan benar sungguh terasa nyeri jika dihayati. Tetapi akan mematikan semua kesalahan lainnya yang merupakan ruh dari rangkaian keinginan dan ketidak inginan. Menyalahkan diri sendiri dengan bijaksana tanpa mengasihani diri menempatkan kita dalam situasi pengampunan dalam menjalani hukuman demi menebus kesalahan.

Semoga Tuhan Maha Kuasa senantiasa memelihara kesejahteraan orang orang yang menerima kesalahan tanpa mendendam, dan menolong mereka yang kurang tepat menterjemahkan makna sebuah kebahagiaan.

Gempol 110923
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Tuesday, August 16, 2011,10:50 PM
Perayaan
Hidup bisa jadi adalah rangkaian perayaan demi perayaan yang membentuk jalinan sejarah, catatan sambung menyambung yang menghubungkan masalalu dan masa depan. Semuanya masih hidup, berupa sel sel bersyaraf yang mengambil porsi peran masing masing dalam keseharian.

Ketika seseorang menguburkan janin iblis dibawah sekelompok batu pada masa lalu, maka janin janin itu sebagian mati kepanasan, sebagianya lagi tumbuh menjadi musuh laten yang tumbuh kekar di alam bawah sadar. Terkadang mimipi dalam tidur membawa diri kita kepada sekumpulan kisah masalalu. Dan sayangnya, didalam lingkaran kisah masalalu itu sang iblis tinggal beranak pinak. Tak jarang mereka tebawa pulang ke alam faktual, hingga tersisa iblis yang tetap meraja ketika pertama kali mata terbuka di pagi buta.

Jelas sekali bahwa dinding pembatas sebagai tembok pertahanan yang dibangun untuk menimbun kenangan buruk tak ubahnya lapisan kasar dipermukaan hati yang lembek. Kekuatan iblis yang tak terhitngkan tak ibarat pecahnya kepundan yang menyemburkan ribuan beling kenangan, beling kenangan yang terbentuk dari potongan potongan perlakuan buruk hasil muslihat dari orang yang dianggapnya hidup ekslusive didalam nafas hari harinya. Mereka tak ubahnya adalah sisi sisi tajam yang menginvasi kepala, langsung dari langit tanpa batas. Tak ada tempat untuk menghindar, tidak ada daya pula untuk mengalahkannya.

Maka diam menjadi pertahanan yang paling mendamaikan. Berdiam diri mendukung penuh upaya sang nurani untuk mengusirnya hingga cukup jauh. Gemuruh pertempuarannya menyerupai badai, kekuatan energinya laksana gunung api keramat yang tiba tiba menggeram memberi peringatan akan datangnya marabahaya. Niscaya pada setiap akhir dan sepanjang pertempuran itulah perayaan hidup digelar siang malam. Perang yang begitu dahsyat dan hanya terjadi dalam dunia ruh. Dan niscaya pada setiap perang selalu melahirkan korban cacat bagi mental manusia normal.

Dan korban perang bathin bagi manusian normal itulah yang di beri nama psycho atau kegilaan, sebuah perilaku diluar kendali akal waras; penjelmaan iblis yang tak lagi diakui oleh induk induknya, induk induk yang menamkan janin sang iblis di masalalu. Bagi para pembuatnya, aib acap kali terlalu mudah untuk dianggap cerita salah kisah, sudah expired dan tidak ada. Sayangnya, tidak demikian bagi mereka yang pernah mengampuninya dulu. Baginya yang berlaku adalah pertempuran ganas yang maha sunyi, yang hanya terjadi diam diam dalam hati sendiri. Sangat pribadi, hingga tak mungkin dapat terbagi hanya melalui telinga. Perlu hati untuk bisa mendengarkan intonasi yang lahir dari lenguhan nafas mempertahankan api mengamuk di dada dan kepala. Dan sayangnya, sambutan yang tanpa hati sama halnya dengan membuka dinding batu dimana ribuan iblis selama ini terkurung didalamnya.

Diadukanlah lelah kakinya kepada sang induk iblis, dan dijawab sambil lalu tanpa melewati saringan hati. Sang induk terlalu sibuk dengan perayaan lain lagi di dunia gegap gempitanya, perayaan demi perayaan penuh hasutan birahi. Akibatnya, sang iblis bagaikan direstui untuk berbuat sesukanya, mendatangkan lagi catatan catatan hitam yang menghalangi cahaya matahari yang menghidupkan hingga bumi menjadi muram. Nurani terkadang kewalahan, lalu diketahui kemudian bahwa ia tak mungkin mengalahkan iblis. Dan tidak ada yang kalah atau menang jika tidak ada pertempuran. Upaya kompromi dijalankan semstinya dalam dunia diam, di bikini bottom dimana tak ada manusia disana. Sebuah kompromi hanya untuk membujuk, agar iblis mau pergi menjauh dan kembali bersembunyi di kepundan ingatan yang menjelma gunung api ini.

Nyatanya memang, kedukaan seseorang bisa jadi hanya cerita harian dalam kehidupan. Apalagi bagi mereka yang mengartikannya tanpa hati. Maka dalam perang yang diam, segala bentuk perlawanan akan menggenang dalam diam, menjadi rahasia pribadi semata. Tapi perang itu memang ada!

Gempol 110816
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 1 comments
Thursday, April 28, 2011,10:39 PM
Tentang Sesuatu
Ia adalah seonggok tanah kering dari gundukan lumpur masa lalu. Tak berjiwa apalagi berhati. Ia benda mati yang bahkan tak tersentuh oleh jari jari. Tapi ia hidup, terbungkus oleh bayangan mendung serta gugusan embun. Dilewati hari harinya tanpa almanak, apalagi arloji menikmati kemutlakan atas kematiannya yang rahasia.

Dari dadanya yang retak mengalir air mata, membasah hingga ke lutut dan meresap kedalam tulang. Tapi ia tidak sedang berkabung atas kesalahan yang ditimpakan berulang ulang, di nisbikan makna atas nilai seorang pujaan hati dimasa lalu. Pujaan hati, perasaan cinta milik manusia yang mewakili kesejatian yang paling individual. Dan, status pujaan hati pada saatnyapun akan mangkrak menjadi dua gundukan tanah mati. Kehilangan rasa. Kehilangan kewajiban sebagai manusia.

Ia adalah seonggok tanah kering dari gundukan lumpur masa lalu, tersembunyi di rimbunnya kerinduan akan kedamaian yang pernah terjadi sekilatan petir lamanya. Tanah makam yang menyimpan beragam kisah prematur, putus ditengah jalan oleh kehendak kepatutan yang kemudian menjelma jadi kerangkeng kokoh pengurung harapan. Dalam persembunyiannya yang rapi, justru percintaan hidup dalam dunia angan angan. Bayang bayang yang berjodoh dengan bayang bayang, pikiran yang berpilin dengan pikiran. Semua tersembunyi dan diam, jauh di tengah rimba rindu yang menyesatkan.

Dari dua gumpal bayang bayang, maka akan lahirlah dunia baru, gelembung rapuh yang berdinding pelangi dan mengembara tanpa tujuan pasti. Gelembung kehidupan yang aman dan menentramkan, pun di tabukan.

Dari permukaan pandangan gelembung itu hanyalah seonggok kuburan masa lalu. Tak berjiwa apalagi berhati. Benda mati yang bisa jadi membebani, tapi tak bisa dilenyapkan dari tangkalan mata. Dan, ia tak punya pemilik lagi...




Gempol 110428
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Monday, April 25, 2011,3:54 PM
Makam
Gelembung udara berisi kehidupan mengambang, terbang mengembara pada hembusan angin masam. Maka telah tiba saatnya, dimana usia mencabuti hak istimewa, habis masa hidup si gelembung sebagai pengisi cerita dunia, lalu menghempas jatuh ke tanah dan menjadi hampa. Tinggal bercak bercak sesal yang menggenang dari pori ke pori bumi, mencari hati tempat mengadu yang tak ada lagi. Usia telah mewajibkan kaki untuk berdiri ketika badai beling menghantam dada, punggung dan telinga, menjadi cangkang bagi kehidupan lain yang lahir dan tumbuh oleh sebab persekutuan maksud. Pada saatnya, badai kambuhan yang rajin menyambangpun harus dihadapi sendiri, tak ada siapa siapa untuk bisa berbagi. Seseorang memandang dari balik gelap yang kekal; hanya dalam lingkaran angan angan.

Demikianlah kiranya hidup bersiklus, amarah dendam bahkan kesedihanpun perlahan akan membatu karang, mematikan rasa, bahkan menghambarkan siksa sang iblis. Ada kalanya ketidak berdayaan diterima sebagai sikap kukuh mengangkangi nasib, mengakui kedigjayaan aturan peradaban dan atau tatanan kepantasan sebagai kekuatan yang bisa juga menghancurkan dengan maskud baik yang terkandung didalamnya. Nyala pikiran yang tak berpola dan cenderung membabibuta di udara hampa hanyalah perusak gagasan akan masa depan gilang gemilang, masa depan seperti dicontohkan oleh garis darah keturunan. Meskipun yang terjadi bukanlah kisah rekaan, tetap saja semua tunduk pada aturan kehidupan dimana sang waktu menentukan segalanya.

Seperti gelembung udara yang tergantung pada senyawa oksigen dan asam, yang memberiknya kebebasan untuk menejelajah cerita demi cerita menyenangkan dan pada akhirnya akan musnah tak berbekas.Pada saatnya semua kisah hanya akan menjadi sejarah, sejarah indah ataupun penuh nanah. Kemegahan dunia yang memunculkan sisi sisi artistik dari setiap tempat dimana kaki dipijakkan hanya akan menjadi tanah makam kenangan, dengan ingatan berbagai rupa terkubur dibalik nisan dalam pandangan mata. Istana yang hampa hanya berisi patung patung bisu, menyaksikan waktu melaju mengabaikan rindu. Percakapan, pertanyaan dan jawaban akan terbungkam oleh sunyi yang meraja hingga semua hanya ada dalam alam pikiran seolah nyata.

Masing masing kita akan terus berlayar melanjuti kemana angin membawa biduk nasib, atau terus menjelajah kemana semak semak dan pohon raksasa menyeret langkah kita di belantara takdir. Sesekali menaiki gelembung dan lepas mumbul bersama tiupan angin surga, toh akan kembali lagi, terhempas ke perjalanan yang sejati. Masih baik, jika dalam pengembaraan yang gelap itu kita mengingat satu kilatan cahaya ketika kita dipertemukan di gelembung kehidupan, tempat cinta bersemai yang lalu membelantara. Dahulu ketika badai mengamuk ditengah kegelapan, dan kita tersesat tanpa tujuan. Sekilat cahaya dari persabungan petir di angkasa, cukuplah sebagai penanda kita saling mengenali luka di wajah yang menua.

Perpisahan usahlah diupacarakan, sebab selayaknya pertemuan, semuanya hanya lingkaran tanpa labirin, proses hidup yang tak direncana awal dan akhirnya. Bahkan ketika tiba waktunya kematian mengakhiri catatan biografi; laksana roda yang berhenti menggelindingkan cerita kehidupan semata. Kita tidak akan sanggup mengemudikan hidup sekehendak hati sendiri, maka kisah tentang perpisahan hanyalah penggalan episode panjang belaka. Sebentar saja arah akan menghilang, berganti muram mengurung langit pikiran. Nanti, bahak tawa masa muda dan canda ceria penuh birahi akan kembali mengisi hari hari; ketika sudah mahfum bahwa kita ada di dua dunia yang berbeda.






Halim 110425
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Saturday, February 12, 2011,10:58 AM
Kekerasan Beragama
“kesalahan orang pintar adalah menganggap orang lainnya bodoh, sedangkan kesalahan orang bodoh adalah menganggap semua orang selain dirinya sendiri adalah pintar” (PAT-Arus Balik)

Ini kisah di suatu negeri, dimana hukum tidak tegak tetapi doyong sana sini, dimana pengadilan menjadi tempat jual beli keadilan, dimana kebebasan bisa ditebus dengan aksi tipu tipu.

Ini kisah suatu negeri yang kacau, dimana penguasanya memperpintar diri memaling harta Negara, dan rakyatnya terperosok kembali pada budaya jahilliyah, mendewakan anarki; homo homini lupus. Memuja kebencian dengan mengatasnamakan ajaran cinta kasih sesama mahluk.

Hanya dalam satu minggu saja, dua amuk massa besar yang mengatasnamakan agama meletus, di Cikeusik Jawa Barat dan di Temanggung Jawa Tengah. Aksi barbar disertai teriakan takbir yang mengagungkan kebesaran Tuhan, dan pada saat yang sama melecehkan ajaran Tuhan yang diteriakkannya dalam aksi brutal diluar batas pri kemanusiaan. Di Cikeusik itu selain kerugian musnahnya harta benda, tiga orang akhirnya mati ditangan para kriminal yang berjamaah. Mereka mati demi keyakinan yang ada dalam kalbunya, keyakinan akan baktinya kepada Tuhan yang sama, Tuhan yang diteriakkan para pembunuhnya.
Aneh!
Ironis!
Tragis!

Kejadian di Temanggung berbeda lagi, kali ini masih dengan teriakan yang sama, masih dengan semangat ammar ma’ruf nahi munkar yang sama, masih dengan pemahaman tentang ajaran agama yang salah kaprah yang sama. Tiga gereja dan sekian banyak fasilitas umum hancur atau hangus oleh amuk para begundal yang merasa punya hak menjadi polisinya Tuhan.

Pada dua kejadian tragis itu, polisi kelihatan hanya menonton, masih mencoba melakukan pendekatan persusif pada saat massa sudah beringas dan mengancam keselamatan harta benda maupun nyawa orang. Orang disini adalah warga negara yang punya hak untuk dilindungi, dan petugas polisinya semestinya adalah alat negara yang punya kewajiban untuk melindnginya. Bukankah demikian tujuan dibentuknya negara?! Di video amatir yang kemudian muncul di Youtube, yang lalu juga disiarkan berulang ulang di tivi nasional, orang orang yang “mirip” polisi nampak terjepit kebingungan antara apa yang harus mereka lakukan dan ketakutan akan terluka atau bahkan kehilangan nyawa. Para lelaki berseragam mirip polisi itu membiarkan anarki, bahkan pembantaian terjadi diepan mata mereka. Tepat didepan mata.
Sungguh t e r l a l u.

Jika benar orang mirip polisi itu adalah polisi, sungguh penduduk negeri ini disajikan dengan tontonan kenyataan pahit betapa impoten akutnya para penegak hukum di negeri ini. Secara institusi mereka kehilangan wibawa, sedangkan secara individual, tandatanya tentang integritas tugas menempel di jidat dan di pantat mereka. Mereka yang bertugas di lapangan tak mengerti makna tanggung jawab, tetapi hanya keharusan berada di tempat itu sesuai plotingan. Persis sama dengan orang orang berseragam mirip polisi yang berderet sepanjang MT Haryono di pagi hari, yang penting tampil di trotoar, melambai lambaikan tangan mirip jablay, tak tahu persis apa esensi maupun fungsi keberadaanya disana; menonton kemacetan lalulintas di pagi hari!

"Sekedar pencitraan" demikian jika meminjam istilah yang digunakan oleh beberapa petinggi negeri yang gemar mencela presidennya.
Orang menjadi makin berani menggelapkan mata melakukan pelanggaran dan kejahatan terorganisir mengetahui aparat hukumnya tak ubahnya manequin yang tak punya kreasi. Sistem hukum dan bahkan konstitusi tak ubahnya hanya retorika pemantas sebagai syarat adanya sebuah negara. Permainan permainan kotor di elit birokrat diadopsi menjadi konflik SARA di level wong cilik cilik. Dan, ketika nama agama (otomatis nama Tuhan) dipakai sebagai motif melakukan anarkisme, maka sesungguhnya hal itu adalah kontradiksi dari hakekat ajaran agama apapun yang hanya mengajarkan kebaikan; bukan keburukan.Dan kekerasan atas nama agama merajalela. Sebagian orang pelakunya membusung dada dalam kebodohannya, sebagian orang korbanya harus menanggungkan penderitaan seumur hidupnya.

Sudah semestinya kita mengembalikan makna agama sebagai ajaran nurani untuk panutan tingkah laku akhlakul karimah, dan tidak lagi menempatkan agama sebagai sebuah logika di kepala. Sebab agama dan Tuhan letaknya ada di kalbu tiap manusia.

Serang – Sunter 110212
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Sunday, February 06, 2011,9:30 PM
I am Not Rappaport
· Nat: Hey, Rappaport! I haven't seen you in ages. How have you been?
· Midge: I'm not Rappaport.
· Nat: Rappaport, what happened to you? You used to be a short fat guy, and now you're a tall skinny guy.
· Midge: I'm not Rappaport.
· Nat: Rappaport, you used to be a young guy with a beard, and now you're an old guy with a mustache.
· Midge: I'm not Rappaport.
· Nat: Rappaport, how has this happened? You used to be a cowardly little white guy, and now you're a big imposing black guy.
· Midge: I'm not Rappaport.
· Nat: And you changed your name, too


Orang yang dipanggil Rappaport makin terheran heran karena si pemanggil keukeuh dengan keyakinannya bahwa dia adalah Rappaport, orang yang dikenalnya sejak lama dan sekarang sudah berubah sedemikian rupa. Rasanya tidak ada argumentasi apapun yang dapat dipergunakan untuk mematahkan keyakinan yang salah itu, oleh sebab keyakinannya yang sedemikian kuat hingga mengkooptasi pemikiran hingga ke pemahaman.

Cuplikan dialog itu sebenarnya inti dari semua hakekat komunikasi. Ketika semua piranti sudah dipergunakan dan semua cara sudah dilakukan dan hanya membentur pada ketidak mengertian, kehilangan korelasi antara maksud pesan dan kenyataan, maka kebingungan akan mematahkan langkah pikiran selanjutnya, bahkan menghentikan gerakan yang seharusnya dilakukan.

Sebagian orang cenderung mengandalkan waktu saja berlalu, supaya semua kejadian terkubur oleh tumpukan waktu, dengan demikian maka anggapan subyektif membenarkan bahwa tidak ada peristiwa yang membentuk kejadian hari ini, alias tidak ada hubungan kejadian sebelumnya dengan kejadian yang sekarang. Padahal, sudah menjadi rumus kehidupan bahwa keberadaan masa kini tidak lain terbentuk dari apa yang pernah terjadi sebelumnya. Tapi bagi sebagian orang memang tidak perlu merasa bersalah jika mengingkari kejadian masa lalu, apalagi jika itu kejadian yang tidak menyenangkan hati.

Langkah pikiran memang tidak berjejak, kecuali dilahirkan dalam kalimat dan disampaikan dengan maksud memberi pemahaman akan sebuah keadaan. Namun ketika keadaan yang disampaikan (yang sebenarnya adalah kenyataan berdasarkan kebijaksanaan nurani sebagai tanggung jawab usia) tidak memenuhi harapan, maka yang terjadi kemudian adalah aborsi niat, pengguguran tekad. Bahasa langit dan kalimat tinggi dipergunakan sebagai sarana untuk mengaburkan esensi, lalu menghilang meninggalkan rasa bersalah, seolah memanen gundukan sampah di muara sungai.

Terkadang kata cukup terasa tidak cukup ketika pertanyaan demi pertanyaan dibiarkan mengambang di awang awang, bagai segumpal tahi yang hanyut di bantaran kali, menunggu waktu sang lumpur menguburnya pura pura mati. Semua kepentingan diri diabaikan wahai demi laku kearifan yang terbentuk dari ketaatan terhadap rasa bersalah sebab kaki sebelah telah melanggar rambu larangan. Rasa yang nelangsa tak sepadan dengan makna mulia dibalik petuah bijak yang lahir dari mulut yang dihormat. Petuah yang tumbuh dari cermin diri, atas pengalaman bertahun tahun hidup tenteram dalam kemuliaan penuh kehormatan.

Jarak yang sengaja diciptakan tidak melahirkan darah sebab tidak ada hati yang terkoyak. Ada kalanya pertaruhan kehidupan dimenangkan oleh logika, dan mempecundangkan keinginan hati sendiri. Maka menanglah logika dengan seribu satu teori yang tak satupun membenarkan tali hati yang terlarang. Kenangan menyisakan jutaan kegundahan yang rapi tersembunyi dalam diam, menunggu hari hari baru datang membawa penghiburan sebuah pengharapan akan tempat tempat yang jauh dimana hanya ada langit dan tanah sebagai pijakan.



Bambuapus 110206
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 1 comments
Tuesday, January 18, 2011,10:45 PM
Dua Dunia
Inilah monumen sejarah, yang terbentuk dan terjaga kokohnya oleh tautan hati yang sahaja. Laksana istana Kaibon yang ditinggalkan kejayaan, merana, menganga nantikan peziarah taburkan bunga. Diatas pekuburan rasa yang dulu mengokupasi setiap celah udara. Sebuah monumen tak berwujud, tetapi terasa hingga pangkal jiwa.

Ketika iblis datang, pikiran hanya diam, menunggu luka membusuk dan berharap waktu akan menyembuhkannya; kiranya belatung memakan segalanya. Pikiran hanya diam, menyaksikan angin hampa mengangkuti bongkahan bongkahan penyesalan yang datang bertubi laksana banjir kemarau di gurun pasir. Menghapus setiap jejak peradaban, menenggelamkan setiap kejadian yang dulu pernah tercipta dengan kesengajaan hati. Pasrah pada grafitasi yang akan menyeret tubuh kita menuju pendamparan tanpa nama, tanpa rasa. Dan siapapun begitu tidak berdaya melawan keniscayaan, tidak sanggup menolak kedamaian yang berasa langka di setiap pertemuan . Tak terjabarkan dengan kata kata rasa itu.

Tangis dan tawa menjauh, sentuh dan sapa menguap ke udara, bersama keruh dan bising ibu kota. Sedangkan kisah kisah pejalan telah tersusun dalam lemari kenangan, terekam dalam tumpukan gambar gambar perangkap waktu. Konon segala yang hidup bakal mati, meskipun setiap kematian selalu datang terlalu dini. Pada saat itulah kisah kisah kejadian terhempas ke tembok waktu, beku menjadi goresan masa lalu. Sedangkan polah sang hati, sungguh tak akan mati. Ia hanya rebah menjelempah tak berdaya, dipecundangi oleh kekuatan peradaban manusia yang mengabaikan bahasa sunyi; perasaan yang hakiki.

Definisi telah membelah bumi, menjadi dua ruanga baru yang sama sama sunyi. Ranting kehidupan yang patah oleh badai tiba tiba telah melahirkan kehidupan baru yang asing lagi canggung. Menunggu waktu akan mengobati luka robeknya, menunggu masa akan memunculkan kembali matahari yang akan memberi kekuatan, bahwa hidup harus terus dipertahankan. Cita cita yang pernah tersemai bersama kini menjadi biji tunggal yang tumbuh di ladang ladang gersang dalam ruang baru.

Setumpuk cita cita dan segudang rencana akan berjalan dengan penopang kaki. Semua berhenti di angan angan, berharap akan harapan harapan baru yang tertabur bersama doa doa. Ikuti arah angin yang menjanjikan semua kebaikan. Abaikan saja rindu yang menidih dada, sebab ia hanya rasa biasa yang dari awal kita tahu bahwa waktunya akan tiba.

Sebentar lagi rindu akan jatuh merana, terepisah dua ruang dunia yang tak mungkin tertembus tanpa dosa. Keinginan yang membuncah harus bisa dikendalikan dalam skap pura pura, dan cerita cerita lama yang istimewa akan menjadi penghibur bagi batin setiap kali mengenangnya. Jemari tak akan lagi bersentuhan meskipun hati setia bergandengan. Dan percakapan kita hanya tersisa dalam susunan potong demi potong aksara dan angka angka; kembali menjadi teman di sabana kosmos maya tempat muasal segala kisah bermula.

Dua ruang baru itu ibarat gerbong waktu, dimana kita terpisah dan terus melaju, dalam gelembung dunia masing masing. Sesekali berbagi cerita, dan kebahagiaan yang mengharukan setiap kali yang muncul adalah kisah bahagia dari gerbong sebelah. Kereta akan semakin tua, melaju terlalu cepat hingga mengejutkan betapa telah banyak persinggahan dan kejadian teralami selama perjalanan kita menuju stasiun pemberhentitan terakhir, yang juga adalah ujung dari nafas dunia batin kita yang menyimpan monumen cinta paling indah di dunia. Kisah cinta yang pasti menjadi juara seandainya didunia ini ada kompetisi keindahan cinta manusia.

Di dua dunia yang berbeda itu, terdapat kedamaian yang tak pura pura…


Surabaya 110118
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Tuesday, December 28, 2010,8:50 PM
Surabaya Suatu Ketika
Dari balkon lantai tiga angin memempermainkan pucuk pucuk angsoka, menghembus menejelajah wajah sepi. Padahal malam masih juga belia.

Langkah kaki menyusuri pematang beton berliku, diantara kebun hijau berumput rapi.Kebun ini ditumbuhi warna warni bunga kamboja, batang pohonnya meliuk kekar diterangi lampu2 berwarna merah kekuningan laksana taman istana sang raja.

Pagar batas yang digaris dengan pohon bambu bambuan, menyususri malam, menyususri sepi, dunia tanpa suara. Pada saat itulah rindu yang sangat membekukan kalbu; rinduku padamu. Akhirnya badan sampai di restoran, satu lantai dibawah lobby. Rindu membagi moment surga denganmu.

Duduk di bangku kayu meja kayu berpayung kain terpal warna biru. Menghadap ke kolam renang, dengan bising mesin pompa sebagai iringan. Lalu gerimis kecil kecil, kopi sudah datang, tinggal nunggu kentang goreng disajikan. Di kolam renang dua remaja laki2 berenang. Badanya gendut gendut, mereka berpacu renang.

Kentang goreng sudah datang, pelayan melayani tamu ibarat seorang juara. Berdiri sambil setengah berteriak dipinggir kolam, bapak bapak sekitar 50an bertingkah seorang pelatih. " Dik...dik..! Gaya dada dik! Begini lho, tangannya kedepan, kebelakang teratur jangan begini begini" katanya sambil memperagakan gerakan berenang yang salah, sambil berjalan mengikuti laju renang dua bocah gendut yang jelas megap megap menggapai tepi kolam yang licin dengan sisa kekuatannya yang menipis. Seolah bertemu malaikat penyelamatlah ketika jari tangannya menyentuh porselen permukaan kolam. Keduanya mangap mangap merampas oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh mereka.

Setelah gaya bernafas ekstrim perlahan tenang, selebihnya adalah suara kecipak air, keduanya tidak lagi beradu balap renang lagi, dengan orang aneh yang tiba tiba menjadi pelatihnya berteriak teriak memerintah dan menyalahkan. No way!

Kolam semakin sepi, ketika bapak pelatih tadi tampak datang lagi (padahal tidak jelas kapan bapak itu perginya, tapi tahu tahu dia datang lagi), kali ini membawa kamera pocket warna silver, dan bersiap memotret sudah sejak dari kejauhan. " Papa...papa.....foto pa!” Rupanya masih ada kehidupan, dari dalam kolam renang. Salah satu dari 10 pohon palem dari yang mengelilingi kolam memang menghalangi pandangan. Rupanya pelatih itu bapak perenang kita, dan perenang kita adalah anak dari orang aneh ditepi kolam.

Kali ini si bapak diikuti seorang wanita paruh baya yang nampaknya adalah istri si aneh, ibu dari anak anak gendut di kolam. Sekarang si bapak sibuk menjadi fotografer dengan kaidah yang benar, terutama jika dilihat dari posisi posisi badannya pada saat mengambil gambar. Mulutnya sesekali mangap, memberi instruksi kepada obyek fotografinya yaitu anak2 gendut di kolam. Kedua bocah gendutpun tidak kalah berisiknya, bersahutan meminta perhatian sang tukang foto. Bapak itu semangatnya menggelora. Gaya tubuhnya sekarang lebih menggila, miring kanan, miring kiri, maju mundur penuh ekspresi.

Istrinya menempel ketat sang suami, berusaha turut andil dalam mengintip display dan me-review hasil jepretan suami tercinta. Si bapak berjongkok rendah, istrinya berdiri tepat dibelakangnya, setengah membungkuk turut menikmati sensasi fotografi bersama suami dan anak2nya. Posisinya singguh membahayakan dirinya, sebab jika sang suami tiba2 berdiri tak ayal akan membentur dada istrinya. Naaah! Kejadian juga! Dada busung si istri terbentur kepala si suami yang tiba tiba berdiri.

Formasi keduanya sekonyong konyong berubah, sama sama sempoyongan dan saling menyalahkan. Kata katanya pendek dan tegas, setengah menyentak dalam bahasa Jawa! Hanya sekejap kejadian itu kemudian si ibu menjauh kembali ke dalam bangunan, lalu proses memotret terus berjalan. Kilatan lampu blitz dari kamera pocket warna silver terus menyentak nyentak mata, seolah beradu dengan kilat di langit penanda cuaca. Gerimis perlahan turun semakin serius, butiran airnya seolah lenyap terbentur payung terpal warna biru.

Ya, gerimis turun dan kolam renang kembali sunyi, sesepi hati malam ini.


Surabaya 101228
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Friday, December 24, 2010,11:56 AM
Sendal
Jika diantara dua orang, yang satu tunagrahita dan calon yang satunya tunanetra, maka manakah yang akan lebih bijaksana dalam memimpin?

Dalam menjalankan fungsi kekuasaanya, penguasa tunanetra seharusnya lebih bisa bijaksana dibandingkan dengan penguasa tunagrahita. Sebabnya, ketunanetraanya adalah berkah untuk tidak melihat isi dunia yang terkadang menyilaukan mata dan bisa merubah perilaku orang. Ia mendengar dan memahami keadaan disekelilingnya dengan penginderaan bathin, dengan merasakannya sebagai pengalaman empiris yang menempatkan diri pribadinya adalah bagian dari sebuah sistem masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban, serta cita cita politik yang sama. Penguasa tunanetra mendasari keputusan keputusan yang dibuatnya dari apa yang ia rasakan dan ideal menurut parameter nuraninya.

Sedangkan dalam fungsi yang sama, pemi mpin yang tunagrahita memiliki kendala besar dalam mendengar dan menangkap suara suara yang timbul disekitarnya. Ia tidak bisa membedakan mana jerit kelaparan dan mana makian kemarahan. Penguasaan dan pemahaman atas alam kawula yang mendambakan kebijaksanaanya sudah melalui saringan saringan, individu individu penterjemah yang terkadang menginterprestasikan aspirasi kepada boss tunagrahita sesuai pesanan sponsor yang memberinya penghasilan sampingan. Keputusan penguasa tunagrahita cenderung tidak tepat sasaran, karena selain mengupayakan berfungsinya alat pendengarannya, kemegahan dunia telah mengurungnya dalam tembok tirani kekuasaan lewat bagaimana dia memandang orang membungkuk terhadapnya, tersenyum dan seolah olah selalu antusias untuk bertemu dengannya. Pandangan matanya dihiasi dengan kembang kembang plastik dan hal hal manis atribut penguasa. Karena ia mampu melihat, maka yang dinomorsatukan tidak lain adalah priviledge-nya sendiri. Karena dia penguasa, bukan karena dia tunagrahita. Sudah menjadi pembawaan alamnya, penguasa tunagrahita selalu pasti tamak sifatnya.

Bagi kawula, memang tidak ada pilihan lain kecuali menjadi kawula. Menjadi bagian kecil yang seolah olah diluar sistem kekuasaan yang hingar bingar. Porsi sikap dan kewajiban yang dimiliki adalah civil obedience. Ketaatan terhadap aturan aturan yang dibuat untuk menciptakan ketertiban, yang juga dikelola oleh penguasa atas tegak dan berlakunya peraturan itu berbasis rasa adil. Intinya, kawula tidak mempersoalkan penguasa yang tuli ataupun penguasa yang tunanetra selama penguasa dapat juga memenuhi kewajibanya sebagai pengayom dan pelayan kawula. Itu amanah mulia, bukan semata mata mata pencaharian, yang idealnya dapat memberikan rasa keadilan dan perlindungan bagi semua kaum kawula. Rasa adil harus menjadi jaminan untuk perlakuan yang sama sesuai porsinya. Jika penguasa baik yang tunanetra maupun yang tunagrahita tidak memiliki kepekaan terhadap rasa itu, maka doa kawula yang merasa terzalimi lambat laun akan dikabulkan Tuhan juga.

Tetapi penguasa tunagrahita maupun tunanetra tak jarang melahirkan tipe penguasa yang baru, yaitu penguasa tipe sendal. Ia belajar menjadi penguasan berbasiskan filsafat sendal jepit. Gaya kepemimpinan yang memanfaatkan anak buahnya ibarat sendal, alas kaki yang dipakai untuk keperluan2 remeh temeh dan receh, sebab jika keperluan penting tentunya orang menggunakan sepatu. Penguasa model ini membawa dirinya berdasarkan pandangan dan kepentingan pribadinya saja, dimana urusan performa organisasi atau kelompok menjadi bukan prioritas; apalagi bicara soal bakti negara.

Pada prakteknya, penguasa seperti ini sangat gemar memerintah dan sedikit memberi contoh, maka sulit juga dirinya dijadikan contoh bagi bawahannya. Bahkan hal sepele untuk keperluan pribadinya jika perlu harus menyuruh bawahannya. Lebih besar lagi, ia akan melimpahkan tanggung jawab yang berkenaan dengan citra dirinya kepada orang lain agar dia aman dari pandangan orang akan kekurangannya. Sifat egois yang menjadi pandangan hidupnya mengabaikan akibat akibat negatif yang terjadi pada kelompok yang dipimpinnya. Ia suka memberi perintah tanpa menjelaskan latar belakang perintah itu serta dengan mudah menungarahkan jari telunjuk kepada bawahannya jika sesuatu hal yang tidak dikehendaki terjadi. Penguasa sendal adalah type manusia yang gemar mengoleksi kambing hitam.

Idealnya seorang penguasa harus bisa menjadi contoh, bukan sekedar bisa memberi contoh. Agar maklum, penyandangan tunanetra dan tunagrahita disini yang dimaksud adalah nuraninya.

Selamat Natal,
Tuhan memberkati.

Jembatan Item 101224
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Thursday, November 25, 2010,8:22 AM
Tukang Monyet
Di tepi ruas ruas jalanan Jakarta belakangan ini kita banyak temui monyet monyet lucu yang tidak lucu. Berjam jam berdiri, atau mondar mandir dengan sepeda motor dari kayu, mengenakan topeng dari bekas boneka plastik, dikenakan baju kumal seolah manusia kerdil; dipaksa mengemis oleh tuannya yang duduk bersimpuh dibelakangnya. Berjam jam sang monyet menjalani pekerjaan yang bukan profesinya, tak kuasa melawan perkasanya tali kekang rantai baja yang melingkar di pinggang kurusnya. Nyeri dan linu terasa sampai ke ujung jari kaki kakinya setiap kali tuannya menyentakkan rantai itu jika sang monyet merasa bosan atau dianggap membandel dari kemauan sang majikan. Monyet itu menjadi mahluk yang sangat menderita di dalam hidupnya, terperkosa oleh kamauan duniawi manusia.

Sang tuan yang mengendalikan hidup si monyet, duduk ditanah seolah menengadah, mengharap derma. Baginya apa yang dilakukannya adalah sebuah pekerjaan, sebuah profesi yang menghasilkan materi. Hatinya kejam, jiwanya keji sehingga tidak mewakili karakter sebagai manusia yang berakal dan berbudi serta dianugerahi oleh Tuhannya dengan perasaan cinta kasih. Si tuan tidak mewakili hakikat manusia yang pengasih, bahkan mewakili karakter bangsa monyet pun tidak. Sebab seekor monyet tentu akan memperlakukan monyet lainnya sebagai sebagai monyet. Dan abang tukang monyet itu bukan mewakili kodrat bangsa manusia dan bukan pula mewakili kodrat bangsa monyet.

Sang monyet hanyalah alat tak berjiwa yang dijadikan sarana untuk seolah olah memberikan penghiburan selayak pengamen mengharapkan imbalan jasa. Monyet tidak butuh rasa iba dari manusia, dan seekor monyet tidak membutuhkan uang untuk kelangsungan hidupnya. Kesengsaraan yang dialaminya tidak ada hubunganya samasekali dengan kebutuhan hidupnya; kecuali kebutuhan hidup tuannya yang pemaksa. Sebagai binatang biasa ia hanya rindu kebebasanya akan berkehidupan di dunia monyet. Tapi sang monyet sungguh tidak berdaya dan tampaknya tidak ada satu manusiapun yang peduli atas nasib malangnya. Ia tetap akan berdiri menari, mengenakan topeng dari cuilan boneka plastik dengan sentakan rantai yang melingkar di pinggangnya yang suka datang menerjang tiap saat. Sang monyet sungguh tak akan pernah mengerti, mengapa manusia bisa berlaku keji.

Sang monyet juga tidak mengerti kenapa materi bisa menyebabkan manusia begitu rakus, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi lebih banyak dari orang lainnya. Iapun tidak mengerti jika ternyata bagi bangsa manusia, materi dapat dengan mudah mengalahkan nurani dan membunuh akal budi. Ternyata materi pulalah yang menyebabkan dunia menjadi penuh dengan kesewenang wenangan dan kekerasan. Diantara ketidak mengertiannya itu, sang monyet tidak berdaya memberontak dari penganiayaan panjang yang dialaminya. Gas beracun dari knalpot ribuan kendaraan yang melintasi dekat tubuh mungilnya seolah telah membaur dengan lapar haus yang ia tahankan dibawah panggang terik matahari didalam tirani tuannya; si Tukang Monyet. Ia sungguh tidak berdaya, tidak mampu mengakhiri penderitaanya sendiri. Sang monyet memang sial, hidup di negeri yang seolah tanpa kearifan penguasa, dimana tidak ada pejabat yang bersikap layaknya manusia; sebab manusia semestinya melindungi dan menyayangi binatang. Bukankah di negeri inipun sudah ada aparatur negara yang seharusnya melindungi bangsa monyet dan dari keganasan nafsu manusia? Aparatur negara yang digaji oleh rakyat untuk menegakkan undang undang yang miskin implementasi.

Lantas sebenarnya pertunjukan apa yang disajikan oleh Tukang Monyet kepada pengguna jalan? Pertunjukan topeng monyet tidak seperti itu meskipun sama sama mengeksploitasi binatang demi uang recehan. Topeng monyet yang asli membuat anak anak orang tersenyum bahkan anak anak bisa tertawa terbahak bahak oleh tingkah sang monyet melakukan aksi aksi yang diteriakkan oleh sang tuan. Musik sederhana mengiringi gerakannya, menambah meriah suasana. Orientasi Tukang Topeng Monyet lebih jelas, yaitu memberikan jasa hiburan keliling jalan kaki, dan berhenti jika tiba waktunya beraksi. Tukang Monyet tidak seperti itu; ia hanya duduk menunggu, dan sang monyet hanya bisa tertindas oleh rantai kekang dibawah terik matahari dan himpitan rasa bosan, lapar dan kesakitan.

Kalau saja abang Tukang Monyet mau kembali kepada kesejatian tujuan keberadaannya dipinggir jalan, yaitu demi derma dari para pejalan, sebenarnya saran ini layak untuk dicoba; balikkan keadaan. Dandani dan arahkan sang monyet untuk bertingkah seperti manusia, dan biar abang tukang monyet yang berperan menjadi monyetnya, bertingkah dan bergerak layaknya seekor monyet yang menghibur. Bertopeng, menari, dan berdiri dibawah matahari. Sementara buatkan sofa mini dan setelan jas sederhana untuk sang monyet yang berkacamata sambil memegang kekang rantai palsu ditangannya seolah mengendalikan si tukang monyet. Disitulah letak kelucuan sebuah ironi, suatu penampilan hal yang mudah dicerna dan bisa diterima oleh manusia yang katanya berakal budi. Penderma pasti akan menghampiri, memberi penghargaan atas kreatifitas berfikir untuk mendobrak kemiskinan dan mengesampingkan gengsi, tanpa harus menggunakan mahluk lain sebagai pijakan kaki. Niscaya, antara si monyet dan tuannya akan sama sama bisa menerimanya.

Tukang Monyet di jalanan Jakarta seolah mencerminkan kemerosotan akhlak bangsa. Dan lebih memprihatinkan lagi, tidak banyak yang menyadari degradasi moral akut negeri tercinta ini. Dan kita berhutang banyak kepada anak keturunan kita atas kekacauan nurani bangsa, yang tercipta dari apa yang kita lakukan hari ini.

Bambuapus 101125
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments
Saturday, November 20, 2010,12:13 PM
Indonesia Tertib
Kota purwokerto pada sembilanbelas november duaribu sepuluh pukul tujuh lewat empatpuluh dua menit malam menjadi seperti utopia mininy Indonesia. Jalan jalanan mulus melengang, berkendara bagaikan mengambang diatas genangan angan angan malam. Ketika semua orang ber deja vu dengan sepotong sepotong mozaik terbaik dalam hidup masing masing. Cinta dan orang lainlah yang membuatnya jadi terbaik, dan semua menjadi hak intelektualitas setiap individu. Kota ini menjadi bebas distorsi. Kota kecil yang sejuk dan makmur, dengan keakraban warganya layaknya tinggal di sebuah desa raksasa. Pengamen, pengemis, tukang pakir, pemulung, PKL dan pelanggar lalu lintas tentu ada, menjadi warna dinamika sebuah kota. Dan alun alunnya tetap menjalankan fungsi pokok setiap alun alun di setiap kota; tempat terbuka umum yang bebas diakses oleh siapapun dengan membawa sopan santun sebagai identitas sebagai orang yang berhak atas fasilitas komunal gratis; diatas hamparan rumput hijau sejuk, dibawah taburan sinar lampu berwarna biru muda serta kerdipan bintang yang menebarkan kegenitan. Sepasang sepasang manusia bedalingan diantara sela sela kegelapan, membagi hati membagi kehidupan.

Rumah rumah tua sisa peninggalan kejayaan Belanda berdiri kaku, menjadi saksi bisu atas arus zaman yang perlahan menggerogoti dinding dinding kearifan tanah Jawa. Gedung gedung batu selayak tanah makam tanpa pepohonan, menyembunyikan miliaran kisah hidup yang tertimbun oleh gundukan sang waktu. Dan diantara gang gangnya, nafas alam berliukan menukar siklus sejarah dalam catatan diam. Kehidupan kota ini datang dan pergi mengikuti adat dunia, selayaknya terwakili oleh stasiun tua bagaikan sungai baja yang mengangkuti kecemasan dan kebahagiaan yang datang dan pergi dalam kehidupan. Rasanya tak ada satupun orang yang akan sanggup menafikan eksotisme kota purwokerto di waktu malam. Terlalu sayang jika tak dilewatkan bersama pasangan. Cinta antar manusia telah memelihara kota kecil ini dari ganasnya globalisasi. Laksana oase ditengah carut marut dan semrawutnya ketertiban dan ketenteraman hidup di negeri subur makmur Indonesia.

Dewasa ini banyak pejabat negri menjadi maling, banyak mayat bayi terbuang di WC umum, banyak selebriti hamil nganggur, banyak kelompok menjadi jahilliyah homo homini lupus yang haus darah saudaranya sendiri. Mereka yang miskin dan bercita cita, terpaksa menjual diri menjadi babu di negeri orang., banyak sarjana berijazah tanpa menguasai ilmu pengetahuan. Negeri kita ini saudaraku, ibarat seonggok bangkai gajah yang dekerubuti ratusan juta belatung yang rakus akan kekuasaan dan harta benda. Aturan hukum yang menjamin ketertiban umum perlahan lahan menjadi retorika pemanis tujuan negara. Sesungguhnya tidak satupun kita merelakan jika aturan dan undang undang dihinakan dengan perbuatan laknat, dilecehkan dengan mengkomoditikan hukum menjadi barang dagangan yang dijual murah bagi mereka yang berkelimpahan jabatan. Sedangkan segalanya, bahkan Tuhan sekalipun seringnya dikalahkan demi kepentingan tahta dan harta oleh beberapa orang saja. Mereka menciptakan sejarah kelam, sebuah degradasi peradaban yang kelak akan diwariskan kepada anak keturunan. Generasi yang akan datang akan menjadi bentuk improvisasi dari kondisi integritas moral bangsa hari ini.

Bagi kita yang mungkin lupa akan bentuk kepribadian sebagai bangsa timur yang santun dan beradab, pengalah lagi relijius. Kondisi kejiwaan bangsa saat ini sudah semestinya menjadi alarm peringatan akan datangnya bencana politik yang akan dapat meluluh lantakkan citra bangsa yang Bhineka Tunggal Ika. Produk hukum bukan sekedar permainan tebak tafsir, tetapi harus kembali menjadi panglima bijaksana. Taat aturan serta tata tertib dimanapun bisa menjadi sebuah kampanye sikap perilaku dan obat mujarab bagi sakitnya bangsa. Kita sendiri yang harus mengupayakan kesembuhannya serta mengembalikanya menjadi sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi, disegani negara manapun karena kesatuan dan persatuannya yang solid. Jika kita sudah bisa tertib tunduk terhadap aturan dan rambu larangan, maka pada gilirannya mereka yang gemar melakukan pelanggaran akan kesepian, menjadi pemain tunggal seperti topeng monyet di pasar malam.

Sikap sikap utama sebagai ksatria yang beretika hanya bisa dihayati oleh mereka yang terpelajar sebagai kaum intelektual. Itulah sebabnya sekolahan diadakan secara massive, supaya setiap warga negara sadar dan paham betapa pentingnya turut menjaga kesatuan dan kesatuan bangsa dengan taat terhadap aturan hukum. Jika itu terjadi, Indonesia akan kembali menjadi surga dari timur. Setidaknya untuk anak cucu kita kelola kelak.

Pwt 101120
 
posted by buderfly
Permalink ¤ 0 comments