Thursday, June 18, 2009,1:51 PM
Surat Rindu
: matapedang
Belakangan ini komunikasi verbal terkesan agak berkurang, meskipun sekarang bisa menggunakan media fb, YM, Gtalk, email, sms, telpon, dan lainnya. Tapi rasanya, komunikasi yang sebenarnya jauh lebih dalam dan kental dibanding semua tools yang ada. Komunikasi itu cukup hanya dengan diam dan merasakan. Komunikasi perasaan. Dan tiba tiba belakangan ini terasa berjarak agak renggang. Penyebabnya? Begitu banyak kejadian yang teralami seolah sendirian, tanpamu didalamnya. Kejadian kejadian itu banyak yang terlewatkan karena dipasung oleh waktu dan jarak sehingga sulit menghasilkan pertemuan yang alami. Begitu banyak kejadian juga yang teralami olehmu dan tidak terbagi karena terlalu sibuk menunaikan tugas pekerjaan.
SMS itu mengkonfirmasi perasaan ‘berjarak renggang’ itu, dan tiba tiba diri merasa tidak rela. Tidak rela punya perasaan seperti itu, sebab rasanya memang tidak ada perubahan didalam persaan sana, dan tetap optimis bahwa pada saatnya nanti hati akan dimanjakan dengan pertemuan. Mungkin ini juga menjadi semacam tegoran kecil kepada kita yang menegaskan bahwa setiap pertemuan, sesederhana apapun dan selama apapun itu, adalah nikmat karunia yang sangat berharga dan layak untuk kita syukuri dan nikmati dengan hati senang. Tetapi perjalanan hubungan kita juga mengajarkan bahwa pertemuan kita selalu mengusung dua sifat individu kita masing masing, pembawaan masing masing. Kita memang tidak terbiasa untuk berusaha menjadi orang lain demi saling pencitraan.
Setiap kali pertemuanpun, terasa bahwa obrolan kita tak pernah selesai, terputus dipinggir jalan. Berserak ribuan kisah kejadian yang ingin kita bagi dan pertontonkan. Berserak begitu saja, menunggu kita memungutinya kembali sambil bergandengan tangan. Ya, rasanya kita memang tidak pernah berpisahan, hanya terkadang dijauhkan oleh keadaan. Keadaan itu yang membuatmu merasa terabaikan, yang sebenarnya kita sama sama merasa terabaikan. Sungguh tidak terduga dulu, jika pekerjaan yang sekarang ternyata berdampak juga kepada frekuensi pertemuan kita. Tetapi tidak menyesal memutuskan mengambil pekerjaan ini karena ini juga satu lagi mimpi masa lalu yang menjelma jadi kenyataan tanpa tersadari. Dan kita berdua mengawal proses itu dari awal. Barangkali juga tidak terduga bahwa konskwensi pekerjaan saat ini akan merenggangkan jarak fisik kita (tapi tidak jarak hati).
Diam diam cemburu sering terasa dengan teman temanmu di dunia maya. Mereka begitu setia dan begitu bisa selalu ada buat, sedangkan aku tidak. Tata cara berinteraksi merekapun tentu berbeda jauh dengan cara kita menjalin komunikasi dan memeliharanya. Kesadaran seperti itu kemudian melahirkan tanya yang terkirim lewat sms tadi, “bener xx sayang xxx?”. Pertanyaan itu mengikuti langkah kemana mana belakangan ini, dan gagal menemukan jawaban yang pasti atas pertanyaan yang menurutmu adalah aneh itu. Keraguan mulai banyak menggoda diri tentang format dan bentuk, meragukan diri sendiri di pekerjaan, dan dibanyak tempat dan suasana lainnya. Bagiku wajar menayakan itu kepadamu karena memang satu satunya jawaban terimpan disana, dialam hati dan angan angan si curly matapedangku.
1000 kisses
(ditulis pada 4 Juni 2009)
Sunday, June 14, 2009,10:25 PM
Mengenal Iblis (2)
(diceritakan kepada MP pada Sabtu, 14 Juni 2009)Hatinya iblis, matanya iblis, pikiranya iblis, sikapnyapun juga iblis. Seluruh jalinan ruhnya mewakili semua sifat iblis yang tidak mengenal rasa kasihan maupun tatakrama kesopanan. Ia tidak punya ambisi kekuasaan, hanya nafsu menghancurkan yang ia turutkan, menghancurkan kebahagiaan, menghancurkan semesta isi kehidupan. Sebuah kehancuran yang menguntungkan bagi reputasinya sebagai penghancur kebahagiaan. Semua jenis kelicikan dan kecurangan ia kuasai, segala tehnik provokasi dan penghasutan ia mainkan dengan mahir.
Katanya, satu satunya yang unggul disetiap pertempuran antar manusia adalah iblis. Iblispun berhak berbahagia, mungkin ia mendapatkan kebahagiaanya dari mengeroposnya nilai kebaikan di hati setiap manusia. Katanya iblis pula yang membisik bisiki orang supaya berlaku jahat, dan juga menjerumuskan orang untuk mengambil keputusan yang menyesatkan. Dan, setiap keputusan yang kita buat menentukan apa yang akan kita jalani dalam hidup yang indah ini. Kegemaran juga bagi sang iblis untuk merekayasa sebuah keputusan menjadi sebuah penyesalan panjang.
Lalu, siapakah sebenarnya iblis ini? Apakah dia berujud atau hanya mitos belaka? Iblis tidak menyeramkan karena ia adalah sumber godaan dengan keindahan segala bentuk nafsu. Ia yang selalu mematut matut dirinya seolah barang pajangan pada sebuah pameran. Ia memiliki eksotisme luar biasa kuat dan kadang sanggup mematikan akal sehat. Jika divisualisasikan dengan binatang, mungkin hayalan ini yang paling mendekati; Macanan! Spesies laba laba tanah berukuran sebangsa lalat yang mencari mangsa tidak dengan jerat seperti moyang2nya, tetapi dengan melakukan pengintaian, penyergapan, pemerkosaan, pembunuhan lalu memakan korbannya. Dan korban favoritnya tentu saja; lalat. Itu keji namanya, dan iblis bisa beratus kali lebih keji daripada laba laba macanan. Tapi iblis bukan pula binatang, karena ia bisa menyerupai apa saja dalam kehidupan. Iblis bermain di alam fikiran kita sendiri, bergerak mengikuti dinamika emosi, dan selalu mencari celah untuk dapat mendobrak kemapanan dan stabilitas mental setiap orang. Kita semua memiliki dan membawanya dalam pikiran, karena iblis adalah pikiran kita sendiri sebenarnya, diri kita sendiri yang terbentuk dari susunan hawa nafsu. Iblis tak bisa mati, ia beranak pinak dan bersekolah didalam alam fikiran kita; binatang berakal yang paling sempurna di dunia ini.
Keragu raguan sering disimpulkan sebagai efek guncang dari benturan kepentingan antara kesadaran nurani dan godaan iblis. Hanya nurani (empati) saja yang sanggup menjadi lawan yang seimbang bagi sang iblis. Mengembalikan hati nurani kita kepada kesederhanaan dasar2 kebaikan bisa menjadikanya sebagai benteng yang kokoh dari rongrongan sang iblis. Belajar membiasakan diri dengan ketulus ikhlasan menerima setiap kejadian dan menebar cinta kasih tanpa prasangka adalah mantra yang bisa menjelma menjdi jari jari terali yang memenjarakan sang iblis di pengasingan sepinya. Semakin kuat iblis berpengaruh dalam otak kita, semakin jauh pula jarak tujuan yang menjadi akhir pencarian kita semua: kebahagiaan. Mengatasi iblis tidak perlu dengan konfrontasi karena itu permainan yang ia ciptakan, tetapi cukup dengan kompromi. Kompromi antara hati (nurani) dengan logika (otak), membagi rata ransum kebahagiaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Kepada kita semua. Sebab, semua mahluk punya caranya sendiri sendiri dalam mengupayakan kebahagiaan dan semua mahluk berhak serta semestinya berbahagia.
Termasuk iblis juga berhak bahagia!
Bambua Apus 130609
Monday, May 11, 2009,2:21 AM
Sebuah Pertemuan

: Ve
(Pada setiap pertemuan, takdir yang berbicara)
Lambaian tangan dan tatapan mata terakhir di ujung tangga berjalan menutup pertemuan, lalu seluruh keberadaanmu mengikuti sepanjang jalan, sepanjang aspal basah yang tertindas ribuan langkah. Percakapan denganmu tak terhenti hanya oleh jarak yang semakin menjauh. Nanti, kita akan bertemu lagi di suatu hari. Atau bisa jadi inilah pertemuan terakhir kita. Sometimes, “next time” doesn’t exist, demikianlah kata kata peredam duka jika ternyata pertemuan kali ini adalah yang terakhir kali oleh sebab setiap hal dalam kehidupan selalu berpotensi sebagai hal yang terakhir yang kita alami.
Sepanjang sejarah peradaban manusia, tiap pertemuan selalu menghasilkan pertanyaan pertanyaan dan kesan pikiran. Sesaat setelah pertemuan ini begitu banyak hal yang menjejali pikiran, tapi tak satupun yang mampu tersusun jadi percakapan. Mungkin memang tidak diperlukan percakapan, ketika semua kejadian hanya ada di perasaan, dalam hati dan angan angan saja. Pertemuan membuka babak sejarah baru dalam cerita hidup setiap individu sebagai persinggahan kisah kisah yang kelak memperkaya isi cerita sejarah diri.
Bertemu dengannmu, bagiku adalah peristiwa tidak biasa dalam hidup. Setelah bertahun tahun hanya bayangan yang tak tersentuh, seperti peri bersayap kupu kupu yang menebar cantikmu tanpa suara; jadi buram di pandangan mata. Sungguh terasa bahwa anugerah apapun yang dalam hidup bermula dari keinginan sederhana yang terkadang menjelma mimpi, mimpi alam sadar yang dilumuri doa. Bertemu denganmupun menyadarkan bahwa diri pernah meminta sangat berharap suatu hari akan bertemu denganmu. Dan semuanya terjadi dengan cara yang sangat sederhana. Dan, terimakasih, hari ini telah kau lunaskan tunai mimpi itu. Tidak ada arah tujuan dari pertemuan ini, hanya menglir saja mengikuti apa kata sang hari.
Hujan diluar jendela sejak tadi tidak juga berhenti. Hujan ini seperti mengurung fikiran, memutar mutarkan pertanyaan tanpa jawaban; semua tentangmu! Aku begitu suka dengan hujan, dengan udara yang mengiringi, dengan bebauan dan suara yang datang bersama curah air sejuk segar itu. Aku suka hujan karena ia memberi indah bagi fikiran. Seluruh isi pikiran seperti berdesakan diujung jari, berdesakan saling menyumbat aliran darah ke jari jemari.
Inilah secuil dari bergumpal gumpal buah pikiran yang tertangkap lewat tulisan. Jika ini dianggap sebagai kesalahan hanya kata maaf yang bisa jadi tebusan, sebab kesalahan perasaan tidak termasuk dalam hal yang diatur dalam hukum pidana di Indonesia.
Bambuapus - 090511
Saturday, April 18, 2009,4:05 PM
Catatan Tulisan Tangan
: Embun

Sejuk hawa malam kota Bandung menyergap segenap batin, seluruh angan angan menghambur dan membaur dengan keberadaanmu dalam hati. Jam Sembilan lewat duapuluh satu malam, rembulan setengah lingkaran merangkak pelan. Perjalanan yang kurang menyenangkan sepanjang tol karena cuaca dan ramainya kendaraan seperti tertebus oleh gemerlap kota Bandung begitu keluar dari pintu tol Pasteur. Membaur dengan hiruk pikuk Bandung sebentar, membelok ke kiri di persimpangan pertama dan ajaib, tidak jauh dari situ berdiri gagah Universitas Maranatha. Ah, kehidupan alam batin masih begitu penuh tentangmu. Semua tentangmu, dan mengangankanmu memberikan kemewahan privacy yang tak terlukiskan dengan kata kata. Dan kemewahan seperti itu hanya bisa didapatkan bersamamu, tentangmu. Ah, rindu itu rupanya sudah menjadi bagian dari darah dan tulang yang menghuni kalbu, sampai saat inipun.
Malam ini diri merasa berada bersama masalalumu, bercengkerama dengan hati, kata kata dan sikap yang digerakkan oleh kekuatan luar biasa. Bandung…ya…bahkan kota inipun seperti melambangkan jejak jejakmu. Ah, andai saja kita bertemu raga saat seperti ini, di tempat ini dan dengan angan yang ada kini. Pastilah moment itu akan menjadi moment terindah yang pernah dialami oleh dua orang manusia. Keindahannya bisa menjadi juara seandainya ada kontes rasa terindah di dunia ini. Ya, setiap pertemuan yang kita buat selalu menjadi moment terindah sepanjang kisah cinta manusia. Kita juga menjadi juara untuk kontes rahasia terindah. Ah, rindunya hati melihat lagi gigimu yang kecil kecil itu.
Mengenangkan masalalu yang tercatat di belantara langit, lembar demi lembar kenangan terselip diantar kisi kisi bintang gemintang. Begitu banyak hal yang pernah kita bicarakan rupanya, dan begitu dalamnya kita saling mengenal masing masing. Ataukah hanya orang sinting yang merasakan seperti itu? Ah, pasti tidak. Kita selalu merasakan apa yang kita rasakan seperti layaknya jiwa yang terbelah dua, bukan?! Persekutuan rasa kita tidak pernah sekalipun mampu untuk diragukan. Sekarang rasa rindu menyerang keinginan melihat lagi mata siptmu, yang tinggal menjadi garis ketika engkau tertawa, dengan demikian tidak pernah pupus rasa ingin membuatmu selalu tertawa dan tersenyum…
Terkadang muncul godaan dalam angan angan, bahwa kita kembali menjadi dua orang asing di dunia ini, menjalani hidup masing masing seolah olah kita tidak pernah saling ada melebur sukma dalam penghamburan rasa. Cuaca Jakarta belakangan ini menggiring diri untuk bertahyul bahwa itu firasat kalau dihatimu kini satu demi satu huruf nama matahari rontok di alam batin. Bahkan jika itupun benar, diri masih sangat bersyukur pernah mengalami hal hal hebat bersamamu.
Dari lantai 5 secuil Bandung terlihat berhias kerlap kerlip lampu warna warni. Kuning, Merah, Biru, dan lain lainnya diliputi oleh temaram malam. Kota ini indah, eksotik! Bersama butiran embun yang mengembara melintasi atap atap rumah yang beku, doa terikirim untukmu, tidak putus putus agar bahagia dan tenteram menjadi pengisi setiap detik bagi hidupmu kini, dimanapun engkau berada. Doa yang mengalir dari palung hati bersama rindu menggebu yang tak juga surut oleh pautan sang waktu...
Bandung 090418
Monday, April 13, 2009,8:38 AM
Kehilangan

Setiap kali peristiwa kehilangan baik besar maupun kecil pastilah menimbulkan efek benturan yang mengejutkan, diawali dengan ketidak percayaan dan diakhiri dengan memaksakan harapan hal yang hilang akan diketemukan kembali. Sesuatu yang dierenggutkan paksa lalu diceraikan dari partikel pengisi kehidupan kita pastilah akan mengejutkan dan menyakitkan. Menyakitkan karena kita tidak mengharapkan hal demikian terjadi dan kita alami, bahkan kita tidak sempat mengantisipasinya. Daya rusak yang timbul dari sebuah kehilanganpun sangat tergantung dari bagaimana kita menempatkan nilai sesuatu dalam inventory kehidupan. Tiang patokan paling sederhana dan tidak akan bisa kita pungkiri adalah kebenaran bahwa ketika kita dilahirkan, tidak ada yang menemani perjalanan kita, tidak memiliki benda apapun, dan tidak pula dengan pikiran apapun.
Sang waktu yang memberikan kita hak istimewa untuk tumbuh menjadi mahluk berakal yang terkadang terlalu mudahnya kita mengklaim sesuatu sebagai property pribadi, seolah olah kitalah yang mentasbihkan segala hal yang kita miliki adalah mutlak milik sendiri. Kesombongan semacam itu kerap meracuni darah dan memunculkan perilaku ambisius, materialistik dan yang pasti posesif habis. Tidak ada segala sesuatu dalam hidup ini yang mutlak menjadi milik kita, bahkan nyawa yang memberikan kita
privilege untuk berkontribusi dalam berjalannya peradaban umat manusia. Segala yang terlahir akan mati, segala yang datang akan pula hilang. Masing masing dimainkan oleh sang waktu yang memiliki semua jawaban atas teka teki sebarang hal yang tersembunyi dan menjadi misteri bagi kehidupan.
Mendefinisikan nilai kerugian dari sebuah proses kehilangan barangkali bisa dibedaakan menjadi tiga potong kue besar; kehilangan orang atau pribadi yang terlibat dalam kehidupan emosional kita, kehilangan harta benda materi yang selama ini menjadi pelengkap penegasan status sosial, dan kehilangan hal yang bukan berupa manusia (orang) maupun materi. Jenis kehilangan yang ketiga inilah yang paling berbahaya dan bisa mengancam kesehatan jiwa, berpotensi merusak struktur kerja otak yang mengatur produksi akal sehat. Kehilangan yang terjadi hanya di soal rasa, entah kehormatan, entah kebanggaan, entah harga diri, yang disimpulkan secara sederhana menjadi; kehilangan muka di komunitas!
Setiap kejadian kehilangan yang kita alami sebenarnya hanyalah ujian ujian kecil sampai kita benar benar kehilangan hal sebenarnya yang kita miliki sebagai titipan Tuhan, kehidupan itu sendiri! Dan siapapun tidak akan pernah siap untuk menerima kehilangan, kecuali mereka yang sanggup mendifinisikan bahwa hidup kita hanyalah titipan dariNya belaka. Keluarga yang mengikat hati, harta benda yang kita kuasai, jabatan yang memberikan kita kuasa kendali, sejatinya itu semua bukanlah milik kita. Kita hanya diberi hak untuk mengelola saja, merawat dan siap dicabut status kepemilikannya kapanpun tanpa kita tahu. Bukankah setiap hari kita kehilangan jatah waktu yang berubah menjadi batu masalalu? Batu masalalau yang sebagian menjadi ukiran sejarah perjalanan dan sebagian kita gendong disayang sayang sebagai beban termasuk beban atas sebuah kehilangan.
Disekeliling kita dan kita saksikan dengan nyata, selalu ada orang yang kehilangan lebih besar dan menanggungkan kerugian lebih parah daripada kehilangan yang kita alami. Pengalaman ini mungkin bisa kita jadikan perban peredam perihnya rasa kehilangan sesuatu yang kita miliki. Maka akan baik apabila setiap kehilangan kita mempertanggung jawabkanya kepada Dia sang pemilik sejati, serta bermohon agar Dia yang pemurah segera memberinya kita pengobat hati…
Bambuapus, 090409
Sunday, February 15, 2009,1:23 PM
Anugerah cinta

Alangkah indahnya jika setiap orang menginvestasikan cintanya untuk setiap orang yang dikenal dan dijumpainya setiap saat sepanjang hidupnya. Mencintai seseorang hakikatnya adalah memberi penghargaan, penghormatan, dan itikad baik terhadap orang lain. Mencintai sejatinya adalah pelaksanaan semangat memberi dan tidak harus berharap akan menerima. Ikhlas melibatkan hati dalam kehidupan seseorang, siap membantu dan selalu berusaha menyenangkan; membahagiakan. Bukankah begitu mulianya cinta bagi manusia berakal ini?
Cinta juga mengandung tanggung jawab akan keamanan dan keselamatan orang yang dicintai dari hal hal yang bisa merugikan. Menjadi teman dalam keseharian, menjadi sandaran ketika langkah hati lelah, menjadi lentera ketika pendangan gelap membekap mata, dan menjadi embun yang setia meneteskan sejuk ketika gersang melintas di jiwa.
Mengekspresikan cinta tidak harus selalu dengan kata kata, sebab cinta pulalah yang menggerakkan segala cerita kehidupan manusia. Kehidupan sungguhlah pantas untuk dicintai, dan mencintai kehidupan selayaknya mencintai seluruh isi kehidupan itu sendiri. Cara mengegkspresikan rasa cintapun amatlah sederhana, cukup dengan patuh terhdap nurani kita yang memegang teguh pedoman norma serta tuntunan etika, maka dari sanalah segala perilaku manusia akan mencerminkan cinta. Dan perilaku yang mencerminkan cinta tentu dimiliki oleh pribadi mulia yang kemanapun perginya selalu diliputi rasa damai. Kedamaian yang lahir dengan sendirinya oleh rasa bahagia, kebahagiaan menganak sungai dari rasa ikhlas menyenangkan.
Sebagian kita sering terlupa bahwa hal hal sederhana dalam tata cara interaksi manusiapun sesungguhnya menandakan ciri pribadi kita. Menjawab ketika disipa, menyahut ketika disebut baik dengan ucapan, pesan singkat, e-mail maupun messenger sekalipun cukup menjadi penanda. Cinta adalah peduli, dan ketika sebuah sapaan hanya membentur udara hampa karena tak dijawab dengan sengaja, sesungguhnya sikap abai seperti itu tidaklah membahagiakan siapapun. Dan itu tidak baik. Setiap orang berhak bahagia dan setiap orang seyogianya saling membahagiakan. Jika segan menjawab, senyuman sederhana sekalipun cukup mewakili tatakrama.
Saya membayangkan jika semua orang memberi hormat - sebagai ekspresi dasar kasih sayang - yang layak kepada orang lain (siapapun) atas prakarsa nuraninya, mungkin cinta yang bertebaran di setiap jiwa akan dapat bersinergi menjadi kekuatan luar biasa untuk menuju kehidupan yang adil dan beradab itu. Bermodalkan cinta yang cukup setiap orang akan berlaku adil, tidak ada saling serobot, tidak perlu menjadi tamak oleh ambisi egois, tidak ada peperangan dan kemiskinan. Keadaan seperti itu bisa terjadi dengan dimulai dari pribadi pribadi kita, dengan perilaku untuk mengedepankan kepentingan umum, taat terhadap aturan dan ketertiban, patuh kepadan norma hukum, dan kerelaan berbagi apapun dengan orang banyak.
Kehidupan tentram aman damai dan sejahtera bisa jadi bukan hanya utopia pengisi alam khayali, jika setiap manusia saling mencintai. Sebab cinta adalah satu satunya keniscayaan yang sanggup meleburkan perbedaan. Amin.
Bambuapus 090218
Friday, January 16, 2009,3:17 PM
Rindu Ibu Sepanjang Jalan

Denting gitar akustik Gypsy King menghuni telinga, angin dan deru menenggelamkan waktu bersama hujan deras sepanjang pagi. Haru biru membanjiri hati, segala kenangan mengapung apung berparade dalam fikiran. Pohon pohon menggigil berlarian ditinggalkan jarak, cicit burung mati tanpa sempat singgah ditelinga kiri. Kasihan butir air hujan, yang tak sanggup menembus kukuh kaca jendela, hanya meleleh mencium bumi dan takluk pada kuasa alam.
…Amor mio
Amor mio por favor
Tu no te vasYo cuentare a las horasQue nadia hoyVuelve,No volvere
no volvere
no volvere…
Aku rindu nyamannya menjadi anak kecilmu, ibu. Menggelendot diantara ketiakmu tanpa harus cemaskan apapun dan menghirup wangi petuah dari suaramu yang selalu merdu merayu.”Jangan jadikan dirimu kerdil hanya oleh sebuah kerikil”. Terbasuh semua luka sepanjang pengembaraan, hanyutkan beban masalalu yang menyesatkan akal fikiran. Terobatilah semua luka hati yang dihasilkan oleh ketidak adilan yang harus dialami.
Sunyi ini menjadi gerbang kea rah lorong waktu, bersama catatan yang timbul tenggelam dipermainkan ramalan masa depan. Di langit hanya tersisa mendung, mengurung seluruh permukaanya yang gemerlapan; kini hilang dari pemandangan. Aku rindu ibu, ah..sudah lama tidak bertemu. Dari hari raya ke hari raya lainnya, dari hari libur ke hari libur lainnya, semua lewat dan tinggal menjadi angka mati dalam kalender di meja kerja. Ibu yang sakti, dengan mantra harapan tulusnya selalu menjadi payung dan pengawal langkah kaki.
Dalam hidup terkadang ego bersinggungan dalam pergaulan, tidak jarang pula luka bahkan remuk redam. Ketika ego teraniaya, anak lelaki kecilmu harus kuat menerimanya. Tak menjerit, tak juga memaki. Ia berdiam menghayati perihnya dikesampingkan. Terkadang ia terluka oleh pendapatnya sendiri, lalu diam moksa beberapa saat untuk mendefinisikan ulang lokasi keberadaanya. Sampai didapatnya keterangan, bahwa sesungguhnya salah dan benar tergantung dari sisi mana kita memandangnya.
Jalanan basah melengang, mata merah oleh gundah pikiran, hati gamang melangkah ke tujuan, entah hari ini apa lagi akan terjadi, setelah kemarin dan kemarinnya lagi tinggal menjadi sejarah beku catatan diary...
Ah, betapa aku rindu padamu...Ibu..
Bambuapus – BMC - 090106
Friday, January 09, 2009,10:29 AM
Diatas Langit Masih Ada Langit…. Dibawah Tanah Masih Ada Banyak Tanah…

Keagungan langit menjadi perlambang atas hirarki kemuliaan dan keunggulan. Dari padanya tersusun rantai kekuasaan yang meskipun jauh dari absolut tetap sebagai bentuk kekuasaan, menguasai dan mengendalikan. Sejatinya kekuasaan adalah buah hasil dari inti kemuliaan dan keunggulan. Didalam kekuasaan berlimpahlah udara dan benda benda lainnya yang menopang ketinggian sebuah posisi. Orang bisa terbang kedalam megah dan nyamannya dunia kekuasaan dengan menggunakan tangga bernama ambisi, keberuntungan dan tentu nasib. Kekuasaan adalah bentuk yang menggiurkan, sebab didalalm koin kekuasaan terpatri juga angka hitungan materi pemudah kehidupan. Semakin tinggi jenjang kekuasaan dalam bentuk apapun, semakin baik pula penghargaan materi yang disediakan. Dan semakin tinggi shaf langit, semakin nyaman dan ringan saja kehidupan dijalani. Bukankah hal yang demikian sudah menjadi hukum alam duniawi?
Sedangkan tanah melambangkan kenyataan, hal hal real yang terjadi dan dijalani oleh sebagian besar penduduk bumi. Kita yang kebetulan menjadi penghuninya hanya diberi secuil kekuasaan (terutama kekuasaan atas individu), tak memiliki cukup power untuk mematuhi apa yang dinamakan sebagai kemewahan privacy. Dari individu yang berjejalan itulah dunia diramaikan dengan barter kekuasaan kekuasaan satu dan lainnya, semua bernama kebutuhan. Jika langit berlapis meninggi, maka sebaliknya tanah berlapis menurun. Seperti pyramid, semakin rendah hak kuasa seseorang, maka semakin kecil pulalah hak materinya dan semakin berat pula beban hidup yang dipikulnya. Dibawah lapisan permukaan tanah justru kaya dengan intisari kehidupan itu sendiri. Dari tanah pulalah kehidupan berwal, gravitasi bertumpu, dan kekuasaan langit tercipta. Batu, cacing, septic tank, dan segala bentuk yang tinggal dibawah permukaan tanah menjalani takdirnya sendiri sendiri penuh kesadaran, serta faham betul apa yang dapat diperbuat oleh ruh apapun yang mewakili langit. Bukankah pula itu semua sudah menjadi hukum alam duniawi?
Nuansanya jadi lain ketika kekuasaan digabungkan dengan kebutuhan, langit dan tanah, hidup dinamis dan udara. Langit dan tanah, udara dan mayapada sayangnya tak bias hidup bersendirian. Kekuasaan tidak akan pernah jadi tanpa serangkaian pelaku dan pelaksana yang merumah rayap memperkokohnya. Kebutuhan materi mengikat serangkaian besar kelompok kewenangan, kewajiban dan hak. Yang membedakan antara strata tertinggi dengan strata terendahnya adalah hak untuk menikmati hidup dengan cara yang berbeda. Kontradiksi kekuatan daya beli diantara keduanya sering di gambarkan dengan perbedaan langit dan bumi! Semakin tinggi strata kekuasaan, semakin nyaman hidup dijalankan. Sebaliknya, semakin rendah strata kekuasaan, maka semakin beratlah mengakali keadaan agar tetap bertahan hidup dan layak dengan berpenghasilan. Orang harus pintar pintar membelanjakan hasil gadaian usia jika hak kuasa yang dimilikinya hanya satu garis dibawah rata rata, atau salah salah bisa menebarkan sengasara berkepanjangan nanti.
Dan mereka yang terlahir dalam kubangan kekuasaan, berharap matipun berkalang kekuasaan; hidup dalam pelayanan orang orang sekeliling tanpa harus kaki menyentuh tanah, menjuntai saja di angkasa. Menjadi raja kecil yang tidak faham bagaimana rasanya menjadi penghuni tanah, memvisualisasikan diri sebagai dewa. Kekuasaan berkepanjangan bisa menyebabkan kebutaan hati dan melempemnya kepekaan sosial, menjauhkan hakikat sebagai penguasa terhadap manusia lainnya. Yang paling fatal adalah kekuasaanpun dapat meracuni hati nurani, bahkan tidak memberikan kebijaksanaan sikap meskipun umur telah mendekati liang kubur. Hati hati, salah bersikap saja, kekuasaan dapat bermakna penzaliman terhadap harkat hidup manusia lain, yang berada di lapis bawahnya tentunya!
(Bahwa diatas sesuatu yang tinggi ada yang lebih tinggi, kemudian hukum itu juga berlaku bahwa dibawah yang rendah ada yang lebih rendah lagi…bahwa seberatnya masalah yang kita hadapi, tetap ada orang lain yang tertimpa masalah lebih berat lagi. Alangkah berharap, hati bisa menjadi ikhlas dan legowo dan berhenti terus mengeluh. Mari saling mendoakan, apapun masalah yang kita hadapi, semoga terlalui dengan baik. Amin)
Bambu Apus – BMC 090109
Thursday, November 27, 2008,10:46 AM
Ziarah

Pedang tajam anganku menebas angin, hampa membahana dikurung mendung yang menggantung mengelilingi langit Balikpapan.
Jejak sang waktu telah meninggalkan alam fikiran, menyisakan batu batu nisan pekuburan sejarah. Lengang semata sejauh hati mengembara. Mendudah kenangan yang terkubur, ternyata masalalu telah mati menjadi udara. Bahkan jejak kaki dalam hati kini terhapus oleh timbunan debu dan rimbun semak semak baru. Hari hari dulu telah tenggelam dalam keabadian yang bisu. Rumah rumah kayu diam menggigil dipermainkan usia, danau dan sungai dari anak anak rindu telah kering ditinggalkan musim. Anak anak ikan menjelempah jadi bangkai tak berguna.
Sebuah nama menggamang, tinggal menjadi kesia siaan angin, diterbangkan kian kemari oleh harapan jumpa setelah bertahun menabung tanya “kapan cinta yang tercerai akan dipertemukan?”. Kiranya hanya kabar kebohongan sebagai jawaban, tersembunyi dibalik keengganan untuk lebur dalam kesejatian. Mengundang masalalu kedalam detik pernafasan, terkadang seperti menjaring asap di angin yang lewat.
Gerutupun tak ada guna, hanya menggarami luka yang seolah olah ada. Terkadang membiarkan kenangan lewat seperti bongkah kayu yang hanyut terbawa arus Mahakam, mengayun dan diam dalam kematian, lalu menghilang entah ke dunia mana lagi mesti mengembara. Diri menjadi asing di tempat yang pernah jadi medan kekipu dengan harapan dan mimpi mimpi, dimana malam malam berisi jeritan dan nasehat penguat hati. Tempat tempat nan bersahaja kini memalingkan muka, menolak keberadaan badan semata wayang yeng memburu kenangan sampai ke ujungnya malam.
Usia oh usia, yang memenjara kisah dalam sekat sekat peristiwa, tak sanggup mengembalikan cerita karena zaman telah menelannya. Sungguh kita tak bisa mencipatkan masa depan dari bangkai masalalu yang berserakan. Memungutinya kembalipun tak akan memberikan ruh bagi catatan. Waktu telah menceraikan cerita, ujar renungan disepanjang jalan pulang, bersama gerimis yang menenggelamkan lamunan. Biar saja jejak kaki tertinggal dipermukaan lumpur dan pasir kwarsa, biar saja jejak cinta tertinggal dalam hati, nanti waktu juga yang akan menghapuskannya, menumpas semua kisah menjadi sekedar cerita yang terpapar di dinding ingatan, penghias masa muda yang telah pergi terbawa usia.
Dan, jika kelak akan terulang sejarah yang diimpikan, biarkan saja semua terjadi dalam mimpi kosong siang hari. Sementar biarkan sepi menjadi raja tanpa singgasana.
Samarinda – Balikpapan, 081127
Saturday, November 01, 2008,10:21 AM
Ultah

: NK
Sebatang pohon tumbuh di permukaan bumi, berdiri riang diantara rimbun belantara kehidupan. Batangnya meninggi, rantingnya melebar, daunnya merimbun, seluruh jalinan kehidupannya mengembangkan pupus pupus baru. Sejuk embun pagi yang memupuk semangatnya, hangat butiran sinar matahari yang menuntun keyakinannya. Dari setiap inti sel zat yang diserapnya, tersimpan pengalaman yang menguatkan. Ia menjadi bagian sejarah penuh kisah oleh zaman yang terlintasi setiap hari.
Pada setiap awal bulan November pucuk2 rantingnya mengembangkan putik putik bunga nan elok rupawan, menyerbakkan wangi pada dunia. Putiknya merekah, menjajikan buah. Buah buah pengetahuan dari serbuk pengalaman yang terserap bersama berkurangnya jatah waktu yang berlalu ketika hitungan usia bertambah. Buah buah itu mengandungkan intisari biji yang menjanjikan benih kehidupan baru. Lingkaran kehidupan akan bermula dari benih yang diberkati dengan hidup, didalamnya terkandung intisari kisah peradaban.
Setiap awal bulan November, bunga nan elok rupawan bermekaran di setiap ranting dahannya, melahirkan harapan masadepan dan membekali akar untuk lebih dalam menembus bumi, menganugerahi batang agar lebih kokoh berdiri menyongsong hari hari baru yang penuh teka teki. Dan wangi yang merebak menyemaikan keyakinan bahwa hidup adalah hal terindah...
Selamat ulang tahun, mbak Nova....
RS Dr. Sukanto 081101
Sunday, September 28, 2008,1:09 PM
Pesan dari Bunda

Anakku,
Aku tetap berharap engkau akan turut pulang dalam rombongan, setia seperti matahari yang selalu tenggelam menjelang malam. Pulang ke tanah tempatmu terlahir, dimana darahku tumpah di bumi yang menyaksikan tangis pertamamu pecah. Burung burung Prenjak sudah kejek riuh di pohon mangga depan rumah kita, burung burung yang dulu sering kau sapa gembira sebab mereka mempertandakan seseorang akan datang dari perjalanan menyambangi kita yang terjebak dalam gurun kemiskinan. Seharusnya engkau pulang anakku, sedangkan sejauh bangau terbangpun pasti akan kembali ke sarang.
Wahai buah air susuku,
Aku teringat, hanya doa yang dapat ku bekalkan ketika kaki mungilmu melangkahi batas pagar halaman menuju dunia luas dengan bergegas. Mimpimu menumpuk di angan angan pemberontakan kecil atas tali miskin yang menjerat leher kita dari generasi ke generasi sebelum dan sesudahnya. Mata lugumu mengisyaratkan tempat tempat nun jauh yang bahkan tak pernah terbacakan dalam cerita dongeng pengantar tidur yang aku bacakan untukmu. Dan bulan bulan awal kepergianmu kutangisi malam malam sepi dengan doa dan permohonan agar anak lelakiku dikuatkan dalam pengembaraan, agar selalu dimudahkan menemukan dalam pencarian.
Anakku,
Kabar yang engkau kirimkan lewat angin menggambarkan tanah tanah pijakan yang jauh dan sendirian, tak terbaca olehku kelaparan dan luka lukamu, bahkan telapak tanganmu yang kapalanpun tak kau kabarkan. Semuanya berjalan baik baik saja, dan anakku kini jadi lelaki entah di negeri mana. Selamanya lelaki selalu pergi dari rumah ini, rumah tempat mimpi mimpi mudamu tersusun bersama ketakutan yang kau sembunyikan diam diam dibalik tembolok yang selalu tak terisi penuh oleh cadangan makanan.
Ah, anakku..
Semestinya engkau pulang lebaran ini. Lihatlah teman teman sebayamu pada berdatangan dari perantauan jua. Mereka membawa kisah kisah yang membanggakan tentang hidup mereka di negeri orang, mengusung kekufuran dengan perbendaharaan benda dan bahkan dialek bicaranyapun sudah susah aku kenali lagi. Anakku pasti tidak akan seperti itu. Pahalawanku akan tetap menjadi lelaki dusun yang rendah hati dan sopan santun, tidak membawa sampah perantauan ke desa untuk dipamerkan dalam imitasi kehidupan kota. Cerita tentangmu ramai dibicarakan, anakku yang tertambat oleh kewajiban dan tak bisa meninggalkan tanah rantauan. Ah, demikian kejamnyakah kota yang merenggutkan anak lelakiku dari ibunda yang merindukannya?
Tak mengapa anakku,
Sepenuhnya aku mengerti seperti dulu pernah kuajarkan lewat sikapku untuk mnerima dan menyerahkannya kepada kedewasaan, memilih dan menjalani kehidupan. Dulu waktu kecil aku sering mengomelimu ketika pulang bermain dan menangis karena berkelahi, sebab bagiku lebih baik tak usah berkelahi daripada pulang membawa tangisan. Dari dulu kita memang tidak punya pembela, anakku.
Anakku anak naga,
Ketika takbir berkumandang memenuhi angkasa, ketika seluruh jalanan kampung kita penuh warna warni baju baru dan wewangian macam macam, aku akan menunggumu disini, di ruang tengah rumah purba kita dimana engkau akan sungkem mencium lututku, menyembah kedalam hatiku dan memohon ampun atas segala yang tak berkenan dimasa lalu. Dan aku akan menumpahkan seluruh kerinduan serta sukacita kebanggaanku atas anak emasku yang pulang dari menjelajahi langit dan bumi. Aku akan menunggumu disini, di rumah tempatmu dibentuk jadi laki laki…
Selamat hari raya Idul Fitri, Ibunda….Tertulis dengan air mata – SCBD 080928
,10:10 AM
Kisah Sebuah Buka Puasa

Suatu hari, menjelang sore ditengah bulan Ramadhan. Dari pagi terkungkung pekerjaan, sebentar lagi tiba waktunya pulang. Janji bertemu di tempat parkiran, dimana nanti motor tebengan diberangkatkan. Lalu bebarengan meliuk dikubangan kemacetan sepanjang Tendean hingga Cawang, bermanufer diantara padat kendaraan dan berjejalnya kepentingan. Cerita mengalir sepanjang jalan, membius bising knalpot dan klakson kendaraan yang mengintimidasi kesabaran. Kadang pecah tawa, kadang pula pikiran sibuk mengulum udara.
Waktu matahari perlahan tersesat diantara gedung di barat daya, seluruh isi kota bergegas menjelang buka puasa tiba. Rumah adalah tempat dimana hati berada, dan bebuka dirumah sungguhlah cita2 mereka yang bepuasa. Kesemrawutan lalulintas yang seusia dengan ukuran kecerdasan pejabat pengelolanya memberi jaminan pasti bahwa tepi jalan adalah tempat berbuka puasa massal; rela tidak rela. Kekusutan tata kelola lalu lintas Jakarta sungguh tidak perlu diragukan lagi. Kondisi genting setiap hari seperti itu sudah puluhan tahun dipertahankan dengan sukses oleh Jakarta. Pengguna (yang tidak punya akses kemana mana dikawal forerider tentunya) hanya punya satu hak; menerima keadaan! Dijalanan manusia bisa dengan mudah bermimikri menjadi mahluk buas atas sesamanya. Pantat pedas, mesin panas, isi kepalapun mudah tertular virus ganas bernama angkara murka!
Gambar baginda sang penguasa kota terpampang raksasa ditepi jalan, tersenyum lebar bebaju gamis, seolah siap berangkat tarawih, sedangkan bedug magribpun belumlah tiba waktunya.
"Selamat menunaikan ibadah puasa" demikian pesan sang baginda. Ah, negeriku tercinta, bahkan para pemimpinpun bisa melucu di bulan puasa. Sayang, lucuannya tak lucu! Atau barangkali poster baginda memang salah satu bentuk propaganda supaya mereka sepersaudaraan korban kemacetan dapat lebih melatih kesabarannya selama menjalankan puasa? Hmm, poster yang menggoda untuk membatalkan puasa dengan mengumpat! Dengan banyolan wagu itu pula pemimpin kota ini memprovokasi pengguna jalan untuk lebih bersabar menghadapi ironi kota praja. Pameo
‘bukan Jakarta kalau tidak macet’ melambangkan betapa terbelakangnya pola pemikiran yang seperti antisolusi itu. Maka inilah jalanan Jakarta kita,
an organized chaos it is!!
Ketika bedug bertalu, kemacetan telah berlalu. Matahari telah benar benar pergi dari sudut mata, laju roda perlahan menepi mencari tempat akan berhenti. Warteg dekat pemakaman jadi pilihan, teh manis hangat jadi ta'jil andalan dengan bumbu penyedap keramahan sang pelayan. Dua gelas teh manis hangat dan dua batang rokok lesap sebagai hadiah kemenangan hari ini. Dua puluh lima ribu rupiah terakhir di saku celana menenangkan pikiran atas tagihan berdua. Sungguh amat membahagiakan, berbuka puasa dengan kesederhanaan; teh manis hangat warteg jamuan perayaan kemenangan bersama seorang teman seperjalanan, di ruas jalan kehidupan yang sunyi.
Rasa lapar dipertahankan, sebagai imbalan bagi mereka yang dirumah, yang telah dengan segala upaya menyiapkan hidangan untuk jamuan nanti jika yang seharian bekerja pada pulang. Jarak masih setengah perjalanan, sampai ke nanti kita berpisah sehabis pertigaan.
Hari ini kita telah menang dengan tenang tenang, MP...
Halim kira kira 080912
Tuesday, September 23, 2008,3:46 PM
Catatan Kaki Senja

... Aku ingin rebah
Di sejuk tanah berdebu
Latri sisa hujan musim lalu
Di bawah rindang rumpun bambu
Di tepi kampung halamanku...
Tulisan ini lahir dari fikiran kanak kanak yang nakal namun penurut terhadap ibunya yang adalah nurani sendiri. Seorang kanak kanak yang terperangkap dalam tubuh lelaki berusia hampir setengah baya. Seperti lazimnya aturan adat, usia memberkahi manusia dengan kebijakan setelah masa muda yang melulu berisi pemberontakan. Kebijaksanaan adalah praktek dari kepatuhan terhadap ibunda nurani. Catatan dalam pengalaman batin mengalamatkan bahwa waktu dan tempat yang diberikanNya cuma cuma berupa kegiatan kehidupan bisa berakhir kapan saja, dan selalu tanpa bisa seorangpun menduga kapan dan bagaimana proses kejadiannya. Sang kanak kanak yang abadi terperangkap akan mentertawakan diri karena telah lahir di tahun yang salah.
Usia pakai badan wadagpun berkurang nilai praktis maupun ekonomisnya. Sensor2 motorik syaraf menumpul, otot melemah kulit menhgendur tulang merapuh pandangan mengabur dan telinga menuli. Sebagiannya telah rusak sebelum habis masa pakai, rontok atau hilang aus selama perjalanan umur. Zaman telah meninggalkan keberpihakannya, manis masa muda telah lewat dan jadi sejarah belaka. Sungguh tiap tiap manusia berhak merasa kesepian dalam beberapa saat di hidupnya.
Dari siklus edar sang matahari kita diajar banyak tentang kehidupan yang dimulai dengan panen pengharapan ketika embun beranjak musnah di pagi hari, lalu panas sengangar tanpa tandingan di tengah hari dan ditutup dengan udara hangat sebelum senja lalu selebihnya perenungan dalam gelap ketika bersendirian. Demikianlah siklus nyawa yang dalam pengembaraanya mengandungkan nilai nilai historis riwayat diri, jadi mahkota bahkan belenggu bagi yang salah memanfaatkanya. Perjalanan usia akhirnya melahirkan bayi jiwa baru sebagai produksi dari intisari pengalaman. Di dalam gelap dan sendirian, segala yang ada di fikiran menjadi demikian terang untuk dijabarkan.
Oleh sebab tidak adanya panduan menjadi tua, maka setiap diri menjalani hakekat ketuaanya secara otodidak, alami semata dan hanya berdasarkan pengalaman empiris yang pernah dilalui. Usia juga menghasilkan sampah sampah penyesalan sebagai dinamika riwayat hidup; kematian dan kelahiran silih berganti tak ada henti sampai akhirnya tiba giliran kita dipendam dalam bumi, mati tak berguna meninggalkan dunia.
Menyaksikan batang2 rumput berbunga dimana serangga merubung bak pesta pora, hasrat membuncah menggigil sendirian ditikam pengandaian pengandaian yang berbau mustahil. Lebih baik perlahan membangun mimpi kedua, menyingkir dari ramai adat dunia dan menemukan kehidupan baru diantara desau cemara dimana kedamaian perasaan berhembus dalam kesunyian rumah kayu. Kebun2 rahasia yang terbangun untuk kekasih hati, kerabat bidadari terawat rapi di rumah kayu. Orang orang yang pernah singgah dan menghuni hati akan mengenangkannya diam diam, menyimpan perasaan diam2 sebagai catatan rahasia yang punya andil mewarnai kisah dengan tawa bahkan derai air mata; semuanya serba diam diam.
Menghitung sisa umur, menghitung mundur jatah usia yang kita punya, seperti mengayak butiran2 sejarah yang menjadi cermin bagi nurani yang akan mengejawantahkan siapa diri. Dari sanalah kebenaran hakiki muncul, terkandung rapi dan diam dalam diary jujur, ketika polah manusia menjadi usang karena diri merasa ditinggalkan dan terkucil sendirian. Tinggal rumah kayu penunggu setia mimpi senja...
Fatmawati, 080922
Sunday, September 07, 2008,2:40 AM
Menuai Usia

Usia menua, meninggalkan catatan dan kenangan yang bagai lukisan dilorong masalalu; tinggal keindahan. Ribuan orang sudah datang dan pergi menyinggahi hati, sebagian meninggalkan tahi, sebagian menabur benih melati. Segala yang baik dan buruk jadi menghidupi, pengalaman pengalaman yang bertabur menjadi penghias dan pengingat jalanya cerita kehidupan. Hidup adalah lorong sempit berliku liku, mendebarkan sekaligus mengokohkan harapan. Jarak tempuhan seterjal apa lagi yang bakal ada didepan, telah diperingatkan oleh apa yang terjadi di masa lalu. Hidup bisa penuh kejutan, mengandung kebosanan, dan memiliki keindahan yang tak bisa terjabarkan. Sepenuhnya berisi cerita cinta antar manusia, kadang jadi pelaku, terkadang jadi korban, bahkan terkadang jadi saksi saja.
Jauh sudah kaki berjalan, memburu cita di titian mimpi. Dan Tuhan selalu berada disisi. Jauh sudah jarak tempuhan, terkadang di padang gersang terkadang di lumpur kebosanan. Dan selalu tersedia kebun rahasia, tempat segala keluh kesah bermuara dimana sejuk embun pagi selalu setia membasuh dan jadi pupuk penguat diri melangkah lagi merangkai hari demi hari dalam gugusan cerita dunia. Manusia dan manusia menciptakan rangkaian panjang sejarah peradaban, dan cinta selalu menjadi tema utamanya.
Setiap orang adalah pahlawan, dan darinyalah dilahirkan jejak jejak perjalanan supaya anak cucu tidak kehilangan arah. Niat sederhana dan menjadi terbaik bagi diri sendiri masih terlalu jauh dari begitu banyak rahasia yang tersimpan dalam pikiran, rahasia yang menjadi tentangan bagi kata bijak hati nurani. Jika keberuntungan adalah hikmat bagi mereka yang keras berusaha, maka mimpi yang terpetik tanpa sengaja adalah anugerah yang tak ada bandingannya.
Menuai usia, ketika otot tak lagi kekar, tulang belulang tak lagi kukuh dan keriput menyapai kulit ari, menghantamkan kesadaran kepada nurani bahwa hidup semestinya bersimpuh tanpa daya dibawah kehendakNya. Penderitaan telah menjadi pelajaran yang menghadirkan kepasrahan, setelah protes panjang membentur altar langit tanpa jawaban. Sedangkan karunia terkadang terlupakan oleh gemuruh kota besar yang menjauhkan kepribadian dari sifat sahaja.
Rumah kayu dilereng bukit berdinding ketenangan dan beratapkan tulisan sejarah masa silam, beralaskan renungan panjang atas segala peristiwa dan kenakalan menanti di ujung sana, tempat dimana ujung hidup akan berpulang terpahat dalam tulisan panjang, sejarah seorang manusia biasa.
Setan dan bidadari berlarian datang dan pergi, meninggalkan catatan yang manguatkan dan melemahkan. Keindahan selalu pergi terlalu dini, sedang penderitaan bercokol rapi di alam fikiran, terbawa dalam perjalanan panjang ke masa depan. Dan adat hidup selamanya tetap sama; bahwa masa lalu dan masa depan sama sama nisbi adanya. Hari ini, saat ini adalah hadiah terindah dari Tuhan bagi diri dan mahluk hidup penghuni bumi. Sebab, semegah apapun isi kehidupan, kematian tetaplah jawaban pasti.
Selamat ulang tahun, buderfly…Think again! Life is just awesome!
Kebumen, 080907
Sunday, August 24, 2008,4:19 AM
Manusia baru
Catatan kecil untuk AbbyTanpa sekehendakmu, engkau lahir ketika usiaku merambat tua. Dengan niatan telah tertitip lewat ubun ubunmu harapan dan pesan kelakuan, setidaknya ruh yang menghembus dikala engkau gelisah dalam rahim bidadari, ibu kandungmu membacakan kisah kepahlawanan manusia manusia utama, nun jauh di tempat yang hanya terdapat dalamm cerita buku.
Dalam naungan cinta berlimpahan tubuh mungilmu mengisi ramai dunia, terlahir dari tetes embun sejuk milik sang zaman. Lewat ibundamu kutitipkan cinta yang kental, cinta yang tak mengenal segala acara dunia. Kelak kau mungkin tak akan mengerti bahwa di dunia yang kacau ini selalu ada duni tak bertuan yang menyumberkan kedamaian seperti keabadian.
Kakimu akan perkasa menjejaki langit, seluas pikiranmu menangkapi ilmu dan menggendong jadi bekal pengalaman. Nanti engkau akan mengerti jua, bahwa hangat matahari dan sejuknya pagi selalu berisi energi yang mengembalikanmu pada pengakuan atas keagungan Tuhan, sang penciptamu.
Ketika genangan ketuban mengering, engkau telah resmi menjadi manusia baru tanpa upacara. Dan kewajibanmu, wahai manusia baru adalah menjadi manusia, membanggakan ayahnda pengukir raga dan mendamaikan ibunda yang selama sembilan bulan menggendongmu tanpa lelah.
Jika mata mungilmu terbuka kelak, segala rahasia alam akan terhampar dihadapanmu untuk engkau punguti jadikan perhiasan riwayat kehidupan. Dan dari telingamu segala ilmu pengetahuan akan tersimpan dalam ingatan, menjadikanmu sebagai manusia unggul yang cerdas memaknai kehidupan; seperti ayahandamu juga seperti ibundamu.
Selamat datang ke dunia wahai manusia baru, hiruplah udara dan penuhi paru parumu dengan udara yang penuh akan karunia. Bawalah pesan damai yang dulu sempat kutiupkan di rahim ibundamu...
Gempol 080824
Tuesday, August 19, 2008,6:13 AM
DTB – a hidden story.
: Embun

Rasanya tidak ada lagi apapun yang diperlukan, tidak ada lagi keperluan yang dibutuhkan selama kepalamu bersandar pasrah didadaku, dengan rambut hitam lurusmu terurai memenuhi bidang sandaranmu, seperuh tubuhmu dalam dekapan erat. Mata kita terpejam, kata kata kehilangan makna. Hati berbicara jauh lebih banyak dari apa yang bias disimpulkan oleh kata kata. Tangan kiriku merangkul, melingkari lehermu dengan jari jemariku mempermainkan daun telinga mungil itu. Tidak ada lagi yang perlu dirisaukan, tidak ada yang patut untuk dicemaskan. Hanya nafas memburu yang perlahan menjadi pelan, dan peluh menitik di setiap pori di kulit ari.
Dalam buaian tepi surga, tubuh kita melayang layang diangkasa, diterbangkan oleh gelombang lembut pasca ledakan sensasi bersama, laksana gunung berapi semburkan lahar bagi yang pertama. Diam, kesunyian menjadi begitu indah, musik mengalir dari detak jantung yang perlahan berhenti berburuan berkejaran, mengiring deru nafas yang memudar. Tubuh mungilmu dalam dekapan, dan kita larut dalam buaian. Bibir mungilmu menyembunyikan senyum, tenggelam dalam sonyaruri. Semua diam, tenang.
Di dalam pikiranku pengembaraan jauh melanglang negeri, melewati pulau pulau dan samudera hingga nun jauh ke dusun dimana masa kecilmu bersinar ceria. Kaki mungilmu menapak diantara hamparan buah cengkeh yang terjemur di halaman depan, angin yang beraroma cengkeh mempermainkan rambutmu ketika berlari mengejari kupu kupu kuning yang terbang genit diantar semak. Mata sipitmu mengernyit diciumi hangat udara pagi, dan kulit putihmu semburat dipermainkan oleh sinar matahari yang menerobos diantara daun daun mangga di halaman belakang rumahmu. Aku menjadi matahari, saksi atas sukacitamu pagi itu, berlarian sambil bernyanyi berrsama alam yang menenteramkan, memberi janji janji akan tempat tempat jauh yang kaya akan ilmu pengetahuan. Aku menjadi matahari yang menyaksikan tangismu pecah ketika kelinci kesayanganmu tersesat di tepi hutan.
Di dalam pikiranmu, badan terbang tanpa sayap menjelajahi langit, timbul tenggelam dalam kesadaran. Lalu menemukan lelakimu menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri, pahlawan yang lengan kirinya kini melingkar di leher dan mempermainkan cuping telinga dengan mesra. Lelaki ini muncul bersama dengan kemunculan hari hari biasa, kemudian menjulang diantara angan dan keinginan hati yang terbentengi oleh aturan kepatutan, compliance blanket, dan tatanan peradaban. Tetapi dia tetaplah lelaki pahlawan, yang memberikan nilai tak tertakarkan atas keberadaannya sebagai wanita. Otak memvisualisasikan seribu cerita tentang perjalanan panjang dan sendirian yang sempat terekam lalu diperdengarkan dalam kisah sepanjang malam, yang kini membuai dalam badai pertanyaan betapa mengesankan kisah kehidupan. Lelaki itu, lengannya kukuh merengkuh hati, membiarkan dirinya hampa di titik nisbi dengan angan yang bebas menjelajah pergi meninggalkan raga. Damai tentram semata yang terasa.
“ mandi yuuuk…”
Suaramu membunuh lamunanku….
SCBD - 080819
Friday, August 08, 2008,11:08 AM
Mengenangi Pertemuan

: Huang Fei
Hangat hawa kotamu menyergap dalam pencarianku diantara gelap. Jejak jejak kaki kutemui, jejak jejak kakiku senidri di masalalu. Seakan bayangmupun senyap dibungkam sunyi hati. Bukit bukit yang menyembul diantara jalanan raya mengantarku pada khayal sejarah yang terputar dalam utas pita kenangan. Menghayati kerinduan ketika senja mulai mengurung simpang Enggal, warnanya sayu dipermainkan teka teki malam nanti dan realita tadi pagi dalam bayang bayang patung gajah berpayung susun.
Bertemu lagi dengan tatapan matamu, yang setiap kerling mengandung beling yang menusuk kalbu, mematikan ego, rasanya seperti menapak nyata di alam mimpi. Bising menjadi sunyi dan sunyi berubah girang menjadi kepenuhan kata kata, semua bercerita tentang apa yang terjadi semenjak pergi. Tawa yang pecah di pantai lautan kisah telah membunuh ragu atas keberadaan tubuh dan hati permaisuri sang naga. Diri tersedia menjadi budak atas perasaan senang berlebihan yang berulang setiap kali pandangan menyilang.
Seseorang pernah membius dalam drama percintaan terbaik sepanjang zaman suatu ketika, menebarkan daya magis dengan kekuatan magnet yang tak terbayangkan. Lelaki manapun takkan sanggup melawan, kekuatan akan daya tarik kasih sayang. Menerabas gelap, merenangi hujan, menyusuri khayalan, membelah lautan dan menempuh perjalanan yang tak terbayangkan kini, untuk setetes embun bagi gersangnya hati. Embun yang tidak pernah pergi dari hati, hingga siang kembali ke pagi lagi. Bahkan ketika rumput rumput harapan menghijaukan gurun kesengsaraan, buah dari drama penghianatan.
Kota ini tak pernah menjadi asing meskipun lama tak disambangi dan hanya sekali dikunjungi. Setiap ruas jalan dan bidang bangunan adalah jejak memanjang yang menceritakan tentang pertemuan rahasia yang terjadi di dunia tersembunyi; dunia tak bertuan. Tiap sudutnya menyimpan tatapan mata dan raut wajah ayunya, bahkan suara lembutnya bergema memenuhi langit fikiran. Bahkan tepian lapangan Siburai masih menyisakan tetes air matamu abad lalu, ketika kita harus berpisahan, menceraikan dua manusia beda warna yang mengikut hati setelah rampung melunaskan kerinduan. Ya, hanya mengikutkan kerinduan hati.
Kini dinding kaca pun berterali, menegaskan jarak yang bisa dibuat oleh kebudayaan manusia bernama adat kepantasan yang mengatur tatanan kesusilaan. Tetapi hati tak mengenal terali dan dinding kaca, ia bebas menembus segala bentuk dimensi ruang dan waktu, menghilangkan perbedaan warna hitam dan warna putih. Demikianlah hidup harus berrjalan, seperti yang pernah jadi perkiraan pada awal mula perjumpaan. Dan memang hidup terus berjalan, membawa perubahan dan perkembangan baru, bibit bibit masa depan yang baru dan terus bertumbuhan dipupuk pengalaman masa lalu.
Mengenangkan pertemuan, keindahan yang terkandung dalam setiap elemen keberadaannya, mengantarkan tidur dalam mimpi teramat indah dalam pelukan sepi kotamu...
Bandar Lampung 080808
Tuesday, August 05, 2008,10:49 AM
Bukan saya

Rekaman audio di cockpit pesawat Adam air DHI 574 yang hilang di perairan Majene Sulawesi Barat pada hari pertama tahun lalu tiba tiba beredar dan populer melebihi popularitas album baru band anak muda. “ Allahuakbar…Allahuakbar….” lalu senyap bersama lenyapnya seratus dua orang manusia yang ada didalamnya, meninggalkan luka dalam bagi ribuan orang sanak keluarga korban. Isi rekamannya tetap sama, itu itu juga beredar melalui transaksi informasi nir kabel. Bukti bahwa teknologi informasi secara perlahan lahan menelanjangi cerita kemanusiaan yang terjadi sebena benarnya.
Yang lebih meriah justru cerita cerita sangkalan para pejabat instansi negara yang tadinya berkewajiban menyimpan dan memelihara jawaban teka teki kecelakaan pesawat paling tragis abad ini. Berlagak seoalah tidak kebakaran jenggotl KNKT menaburkan bibit bibit opini yang keseluruhannya mendoktrin publik untuk mendukung kebohongannya menjadi kebenaran. Hal yang sedemikian sederhana di orak arik menjadi susah dicerna. Kisah bau kentutpun di seluruh dunia tetap sama rumusnya, yaitu yang pertama keluar dari mulut dari bau celaka itu adalah
“bukan saya pelakunya”, yang sebenarnya bermakna sebuah upaya mengalihkan kesalahan kepada hantu; pembodohan publik!
Di tivi, si ganteng pemandu acara mewawancarai seorang pejabat tinggi di KNKT. Lelaki tua dengan tiga perempat wajahnya dilapisi kaca mata berwarna grey transparan; dan begitu peduli dengan jas serta intonasi suaranya memperjelas situasi pikirannya yang dihinggapi deja vu sepanjang waktu. Rekaman suara bencana celaka itu diperdengarkan lagi, merobek ribuan hati sanak waris para korban, juga jutaan manusia atas nama kemanusiaan. Bebasnya pemberitaan di media tivi bagai mata cangkul tajam yang mengoyak hati keluarga korban yang sedang belajar sangat keras dan berat untuk bekompromi dengan keikhlasan. Rekaman percakapan yang bocor itulah sebenarnya bencana lebih parah bagi kebangsaan dan kemanusiaan, sebuah pertunjukan peradaban betapa miskinnya bangsa ini dengan empati. Adat sopan santun ketimuran, menguap menjadi sejarah. Vulgarnya pemberitaan adalah anarkisme terhadap bathin keluarga korban, dan selamanya penderitaan sungguh tidak bisa digambarkan seperti apa rasanya. Hanya bisa merasakannya sebagai iblis jahat yang hidup didalam aliran darah disekujur tubuh kasar kita, itupun hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tertimpa derita.
Bocornya rekaman keramat itu ke telinga umum juga adalah sebuah cermin betapa pemikiran tentang pengamanan bagi pejabat sepenting itu sungguh bisa diduga; sangat memprihatinkan. Mestinya, upaya pencegahan terhadap terjadinya kebocoran informasi mutlak menjadi prioritas pengamanan KNKT dari ancaman operasi intelijen partikelir, pencurian, sabotase ataupun kemungkinan terburuk lainnya. Metode metode pengamanan elektronik sampai pengamanan tehnology informasi mutlak harus ada. Dibutuhkan sebuah team pengamanan yang efektif sebagai pendukung sistem sistem yang terbangun dalam melaksanakan pengamanan fisik, serta melakukan pemetaan konsentrasi area kritis dengan sistem administrasi serta prosedur standar operacional yang jelas. Kesadaran para pemangku kedudukan (apalagi pejabat publik) kita masih sangat rendah terhadap pentingnya pengamanan. Penghargaan terhadap profesi petugas keamanan memang sudah banyak kemajuan meskipun masih jauh dari harapan yang wajar. Akibatnya profesionalisme individual seorang petugas pengamanan sering kali pas pasan, sama halnya dengan pendapatan mereka yang juga pas pasan.
Sementara pejabat yang pura pura tidak kebakaran jenggot sibuk mengembang biakkan opini, marilah tunduk kepala kita sejenak. Mengheningkan cipta dan memohon kepada yang maha kuasa, semoga arwah para korban tenang diterima disisiNya, serta keluarga yang ditinggalkan diberiNya kekuatan untuk melanjutkan hidup dan menyingkap keajaiban keajaiban lainnya dalam kehidupan dan juga semoga para pemimpin negeri ini segera disadarkan dari kemabukan duniawi.
Dan, kebenaran yang tak terbantahkan adalah makna dari kata terakhir yang terperdengarkan dalam rekaman masyhur itu
..” Allahuakbar….Allahuakbar…..Allah maha besar..! Itulah kebenaran hakiki dari cerita setiap manusia, tidak peduli bagaimana KNKT akan berkilah menutupi aibnya .
Gempol – Bambu Apus 080805
Sunday, July 13, 2008,3:32 PM
Mozaik buram masa silam

: Tanty Sahara
Malam luruh, sinar bulan menjuntai ditimpa gemuruh tetabuhan dan pekik sorak sorai. Sunyi semata menyelinap dalam dada justru ketika semua suara tumpah ruah dalam pesta akbar di kota purba. Bau kotoran burung layang layang yang berbaris rapi di kabel listrik mengurai kembali kepingan kepingan sejarah diri, memaksa ingatan menengok akan kenangan yang telah lama terkubur waktu. Jalan jalan berisi bayangan, suara suara yang datang dari masa silam.
Satu slide kenangan datang menikam, berisi keperihan akan sepotong hati yang tak sengaja tergores terlalu dalam. Mempersembahkan dosa yang kelak jadi penyesalan peneman pikiran sepanjang jalan. Seseoarang telah menghilang, meninggalkan tangis dalam keabadian. Canda tawa dan tatapan berpengharapan telah buram digilas cerita penutup yang tiada berkesimbangan. Ada sebuah hati yang merana sia sia, datang dari masa lalu dan mencabik senyum jadi sebentuk garis vertical di wajah mengkusam. Asmara yang membuncah kala itu sungguh tak tertipukan hanya dengan lima tahun tanpa berita.
Waktu berjalan, bumi berputar dan cerita penghuni jagad terus saja berganti gantian. Tak ada yang bisa menentukan. Mereka yang datang dari masa lalu menyempatkan menebus lunas pertemuan, melulu berisi cerita kepahlawanan. Telinga hanya mendengar kekosongan sebab hati mencari yang diinginkan, dan yang diinginkan telah memutuskan pita suara, hilang dari pendengaran kabar berita. Kenangan cinta selamanya berisi pedih perih mengabaikan petuah bahwa selamanya kisah manusia adalah cerita hidup biasa.
Uh, kota ini berisi siksa yang memperkosa ketenangan fikiran, menghadirkan isak tangis yang menggenang oleh hati yang tercabik kenyataan. Lima tahun berlalu, dan sedu sedan itu masih mengisi tiap butiran angin yang mengembara disetiap lorong dan atap bangunan. Setiap helaan nafas menyedot kenangan, dan mengunduh lara yang tersemaikan di jejak perjalanan dulu, dan kota ini menyempurnakan kepedihannya.
Wahai kau penduka, penghuni belahan bumi masa lalu. Dalam danau nurani telah tertampung hujan air mata milikmu jua. Disana telah hidup beranak pinak penyesalan dan pohon pohon ampunan, atas masa lalu yang mendukakan. Meski mungkin takkan pernah terbaca olehmu, kutulis jua dengan tinta air mata, kisah panjang atas kekhilafan, tertebus hukuman bagi diri yang tak memuliakanmu seperti pengharapan. Lewat seluruh angin yang mengisi kotamu malam ini, kutitip salam dan setanggi penyesalan atas apa yang pernah merejam hati kita dimasa silam.
Aku turut berbahagia, masa depan ada dalam genggaman tanganmu yang basah oleh air mata …
Soundrenaline - Pekanbaru 080713
Thursday, July 10, 2008,12:52 PM
Filsafat Duka

:
Afni Salmi(terbisik lewat deru para pejalan , bagimu yang menandangkan duka lara)
Hidup tidak selamanya mulus, juga tidak selamanya mudah. Ibarat langit mencurahkan air hujan dan angin topan ketika engkau tengah di perjalanan, maka kaki tetap harus mengayun. Akan lebih berat dan makin terjal jalan tempuhan, licin dan menjebak dalam kebingungan. Gelap yang mengurung ketika matahari padam hanya memprovokasi hati untuk berhenti dan sembunyi. Itu berarti bahwa pengingkaran terhadap kodrat kehidupan sedang terjadi. Jalani saja, tinggalkan jejak menjadi sejarah dan terabas deras pusingan air dan angin liar yang seolah membutakan arah, sebab seberat apapun langkah, kaki harus tetap bergerak pertanda hidup yang terus berderak derak, membawa perubahan dan pengalaman pengalaman baru untuk memperkaya sikapmu jadi dewasa.
Saat ini mungkin engkau merasa sendiri, sebab deru penyesalan dan guyuran air mata duka membentengi pandanganmu dari cahaya hati orang orang disekitarmu. Percayalah, engkau tidak lagi sendirian. Jangan cemaskan, sebab engkau ada dan hidup di hati orang orang disekitarmu, yang hanya mampu berempati atas apa yang menimpa; tak sepenuhnya bisa menyekutu jiwa untuk merasakan gemuruh kegalauan yang mengamuk didadamu.
Temanku,
Selamannya penawar bagi perih sakit hati yang koyak tercerabut dari akar kenyataan adalah dengan berkontemplasi, merenungkan keagungan dan kekuasaan sang pencipta hidup, sebab Dia pula yang mencipta kematian atas segala yang dikodratkan untuk hidup. Berhentilah sejenak dari langkahmu yang gontai, dan biarkan alam mengajarimu tentang hikmah malapetaka. Waktu akan menyerap air matamu yang menggenang, dan kelak pagi akan datang bersama cicit burung dan hangat matahari kemerahan, lukamu akan terbasuh oleh sejuk embun yang tersangkut di setiap ujung batang daun rerumputan. Biarkan kakimu telanjang menyongsong apapun yang akan disuguhkan oleh kejadian pada hari itu sebab semuanya hanya akan tinggal menjadi sejarah belaka akhirnya.
Engkau berharap, peristiwa akan menunda catatan kelam bagimu, tetapi sungguh tiada yang kuasa menghentikan kehendak sang waktu. Usah kau hitungi goresan demi goresan atas penyesalan yang kemudian menggunung dipundak fikiran. Selamanya tidak akan membuatmu bangun kecuali satu kenyataan bahwa engkau telah kehilangan sebagian dari masadepanmu, kehilangan sebagian gumpalan dari gemunung mimpi yang pernah lahir dari rahim rahim harapan. Bukan pula kejam jika kemudian tiba tiba mimpimu terenggutkan, sebab tiada yang nyata antara kemarin dan esok hari; kecuali hari ini sebagai anugerah semata.
Percayalah, kehilanganmu bukan untuk melumpuhkan bibit kehidupanmu tetapi semata hanya pupuk penguat bagi kokoh kakimu menapaki berderet anak tangga yang tak akan sanggup kau duga rasanya; itulah hidup hari ini.
Dari lubuk hatiku yang seperti kaca, kukirim simpatiku bersama doa yang menggaung memenuhi rongga dada…Semoga dia diterima disisiNya…
MET cafe Juanda Airport - Surabaya 080709
Tuesday, July 08, 2008,4:16 PM
Catatan Mesin Ketik
(cerita dari Jakarta VIII)Klak.. tik.. tlak ..tik.. tak ..tik….
Suara ketukan nyaring memecah sunyi malam di gang sempit yang kadang gelap kalau rumah petak paling kanan yang juga keluarga anak landlord rumah kontrakan itu lupa menyalakan bohlam penerang emperan. Pada sisi masing masing pintunya dibangun tembok tipis setinggi enam puluh senti sebagai pembatas antar rumah tangga; antar para pengontraknya, keluarga keluarga perantau yang juga harta kekayaan Jakarta. Masing masing pintu menyimpan rahasianya sendiri sendiri, menyimpan juga masa lalu dan impiannya sendiri sendiri.
Pada pintu ujung sebelah kiri berdiam keluarga suku batak, dengan dua orang anak dan sepeda motor agak tua tapi tidak juga terlalu tua. Kesan sederhana mewakili seluruh penampilannya. Dibalik pintu itulah keluarga Madelin berdiam, dan dari balik pintu itulah nyaring suara mesin ketik berdenting tengah malam begini. Papanya Madelin pasti sedang menuangkan isi fikirannya ke selembar kertas, mencetaknya dalam tulisan yang bisa mengulang isi perasaan persis seperti ketika isi otak dituangkan, kapanpun mau. Begitulah barangkali penulis. Mamanya Madelin, Imelda adalah seorang pegawai negeri, guru bahasa inggris di sebuah sekolah menengah umum negeri.
Mesin ketik dari besi, tak lekang digerus zaman, dilindas teknologi nir kabel dan kedap suara. Dari ketukannya mengalir butir butir pemikiran, menterjemahkan kegelisahan hati seorang lelaki perantauan. Bercerita panjang tentang sejarah yang tercipta ketika jarum arloji melewati angka dua belas. Suaranya nyaring menerbangkan angan angan, menjauh dari langit kemudahan dan mengajari nurani untuk menginjak bumi kenyataan. Bahwa hidup telah terbagi atas para pelakonnya dimuka bumi, atas perbedaan dan ketidak samaan semuanya berdiri diatas kesamaan. Simpati mengalir bersama bisu malam yang menggenang, mengenangkan ketika lampu minyak menjadi teman memeras fikiran, di halaman rumah diatas sejuk rumput teki, dan bulan seujung kuku yang malu malu digauli awan abu abu.
Huruf demi huruf berbaris melalui ketukan, lambat laun menyuarakan lolongan hati yang menangis sambil bernyanyi. Iramanya membeberkan makna dari setiap simpul hati gundah gulana, tentang besok lusa untuk kedua anak tercinta. Rumah petak berdaun pintu triplek, berhimpitan bergelimang keinginan. Menunggu angin malam ini datang dari utara, membawa kabar tentang ibunda tercinta. Berharap embun setetes datangkan damai, seperti dulu sewaktu malam hari tak dibatasi pagi.
Mesin ketik tua dari Pasar Rumput, menemani lelaki menjelajahi malam, dengan pikiran dan bercak bercak kegalauan. Mencatat sejarah tak tercatat, dari hidup nyata di kota Jakarta. Didalamnya, terpendam miliaran kisah hati penghuninya, tak terlahir dalam kata kata. Hanya tulisan penjabar kenangan yang timbul tenggelam dipermainkan nasib dan harapan…
Gempol, 080708
Wednesday, July 02, 2008,1:27 PM
Pupuk Bawang

Siapa itu duduk di sudut tenggara? Murah senyum seperti sakit gila?!
Atas nama basa basi, pantat tertancap di sebuah kursi. Berharap arloji melaju lari, ternyata udarapun mati tak menghasilkan gagasan apa apa. Arwah meniggalkan badan, terbanting di keras batu granit berlapis karpet di “Diamond Room”. Menjelempah menjadi kepingan kepingan yang tidak membentuk sebuah identitas. Jasad bahkan tak mengenali lagi siapa diri, dan kenapa bisa terjebak sampai kemari. Dentam musik dan gelak tawa, menjadi symbol atas keramaian pesta raya. Sebidang ruangan menjelma menjadi planet asing yang mengkerdilkan nyali. Tersesat pencarian hati, bahkan tak menemukan jalan pulang.
Ruangan ini menghadirkan kerinduan pada kesunyian. Ketika fikiran menjadi raja atas badan, dan alam semesta hidup dalam harmoni, dimana diri menjadi renik hidup sebagai bagian dari stakeholder jagad raya. Sunyi menegaskan bahwa hidup adalah keindahan seni itu sendiri. Keindahan yang memanjakan fikiran, mengesampingkan perbedaan dan ketidak samaan. Menerima keadaan diruangan ini sama halnya dengan menyuntikkan racun pada syaraf syaraf kesadaran yang selalu setia menegaskan jati diri. Menunggu hingga riuh berhentipun rasanya hanya semakin bodoh membodohi diri sendiri. Kerling mata indah yang semestinya menggoda iman lelaki, kali hanya tatapan sekilas atas nama ketidak sengajaan belaka.
Begini rupanya tata adat pergaulan Jakarta. Boneka boneka cantik bukan kepalang, tidak menyisakan celah sedikitpun untuk melihat alam pikirannya. Masa lalu dan pengalaman seperti apa yang menjadi harta kekayaan mereka, dan mengertikah mereka bahwa mereka bisa terpesona jika melihat alam pikiran si penanya. Reputasi ternyata tidak diakui berlaku disini. Benar kata Pramnoedya, bahwa setiap orang Jakarta membangun tembok tinggi disekeliling individunya, hanya menyisakan jendela jendela untuk mengintip, tak sepenuhnya membaur larut dalam hidup pribadi. Hanya sederet atas nama, lalu pekerejaan, pengetahuan, daya pesona dan ujung ujungnnya pasti uang. Demikianlah harapannya.
Sangkakan diri adalah berarti, ternyata kosong belaka buah harapan mimpi. Bahkan menjadi runner up, sekalipun masih terlalu jauh dari bumi kenyataan. Rasa malu melemparkan badan keluar ruanngan, melaju dalam deru angin setelah sekian jam hidup menjadi sia sia, kembali menjadi manusia dengan nama dan wujud yang sejatinya. Sebuah pelajaran hidup mendewasakan diri hari ini, cermin raksasa yang menyodorkan kenyataan sampai ke balik retina mata. Menjadi nomor dua bisa jadi adalah prestasi pribadi, tetapi menjadi nomor dua dari belakang tidak ubahnya karakter yang mati kaku ditelan peradaban.
Aku rindu kembali kepada sunyi…duniaku yang sejati.
Jakarta - Surabaya, 080630
Thursday, June 26, 2008,1:54 AM
Sampah

Detik ini, sebentar lagi tinggal hanya menjadi masa lalu, dan masa lalu semsetinya kita perlakukan seperti sampah, dibuang baik baik dengan prosedur yang benar. Seperti sampah juga, jika kita meletakkan masalalu secara sembarangan, maka kita juga harus bersiap untuk memanen berbagai kesulitan, bahkan terkadang tata kelola sampah yang salah bisa menyebabkan sebuah tragedi, bencana celaka. Semestinyalah kita tetap memperrlakukan masa lalu dengan hormat, sebab ia memberi kita jalan menuju apa yang terjadi pada detik kita menyadari bahwa nyawa masih dikandung badan. Betapa beruntungnya kita diberi kesempatan seperti itu. Apapun namanya sampah, sudah kodrat bahwa ia tercipta dari apa yang tidak kita perlukan lagi, tidak kita butuhkan. Masalalu adalah onggokan waktu yang tidak lagi member manfaat langsung untuk saat ini.
Maka dari itu saudara, mari kita lebih berhati hati lagi dalam memproduksi sampah. Selain tata kelolanya harus arif bijaksana, bahan bahan yang kita konsumsi manfaatnya lalu kita sepah menjadi ampas itupun punya andil luar biasa dengan output bermacam macam sampah. Sampah makanan atau daging akan menjadi busuk, sampah biji bijian ada kemungkinan tumbuh menjadi batang pohon, serta banyak karakter sampah lain lagi. Sebagian membekas tak mau musnah oleh waktu. Perilaku yang baik akan mengahasilkan sampah menjadi, simpati, kebahagiaan, kedamaian dan kebaikan pula. Kebaikan, sebagai masalalu ia akan dikenang menjadi sesuatu yang membanggakan bagi kehidupan. Sedangkan perilaku yang buruk akan menebar kemudharatan kemana mana, melahirkan keburukan keburukan baru yang beranak pinak, menebar permusuhan, petaka dan macam macam bencana peradaban, tragedy umat manusia sebagai akibat buruk dari keburukan yang dikonsumsi.
Sampah, masalalu adalah jejak dari cara kita menjalani kehidupan. Dan jejak itu permanen membekas di permukaan bumi, berbaur dengan miliaran jejak lainya yang membentuk satu kesatuan cerita peradaban umat manusia. Kebijaksanaan hati yang tercermin dalam perbuatan dan perkataan selalu bisa menjadi nutrisi penyejuk dari gersangnya ladang budi pekerti dai kebun jiwa banyak orang. Sikap taklim, berdisiplin dan murah hati, rendah hati sejak zaman pewayanganpun sering ditaklukan oleh angkara, nafsu durjana. Kebaikan akan terlihat seperti kalah, tetapi sebenarnya kebaikan tidak mengenal istilah kalah dan menang. Hati yang bijak dan baik tidak menempatkan diri lebih tinggi atau lebih rendah dari umat manusia lainnya, tetapi sejajar dengan penuh rasa hormat dan tenggang rasa, menghargai perbedaan sebagai sebuah keragaman, melestarikan keragaman sebagai asset kekayaan umat manusia sekaligus media belajar lebih banyak lagi tentang kehidupan. Kebaikan hanya menjalani kehidupan seperti yang diamanatkan dan kita sepakati sebalum kita dilahirkan di dunia. Perilaku yang baik adalah semata cerminan dari hati yang baik pula. Dan hati yang baik adalah keaslian yang terjaga dari arus manis dan indah duniawi beracun.
Sebaliknya dalam keburukan sifat, tabiat maupun niat, implikasinya harus negative. Orang lain yang negative, dan menggunakan segala macam cara untuk menciptakan opini umum bahwa diri sendiri adalah positive alias baik. Orang baik tidak melakukan itu, tetapi orang buruk selalu menggunakan itu. Bahan buruk yang yang selesai masa produksinya akan menghasilkan sampah toxid yang bisa merusak
kamuradan (
tatanan kehidupan – red). Si sampah akan beranak pinak dengan keburukan keburukan baru yang makin tumbuh mengembang dengan pesatnya. Pada akhir masanya, maka seluruh isi kepribadian bagi orang yang membekaskan jejak keburukan adalah keburukan itu sendiri, kerendahan kualitasnya sebagai insan manusia. Dalam hidupnya orang seperti ini akan mendewakan hukum materi, memperdalam ilmu berkilah, menjadi master dalam bidang berbohong secara ilmiah. Akibat dari tingginya ilmu berdusta yang dipraktekkan, maka esensi tentang “tuntunan dasar berperilaku baik” menjadi seolah olah lelucon.
Barangkali ada yang salah dalam pembinaan mental bangsa kita ini.
"Agama sebetulnya bisa jadi salah satu filter untuk mencegah kita berbuat buruk. Apapun agamanya, saya yakin jika setiap orang mau menjalankan ajaran agama masing2 dengan baik, tindakan2 dan kejadian2 buruk di negara ini dapat diminimalisir. Sayangnya masih ada saja yang tega menggunakan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi ataupun golongan. Dengan dalih agama, orang bisa seenaknya menghancurkan orang lain, atau dengan dalih kebebasan beragama orang bisa seenaknya merasa tidak menistakan agama tertentu. Kalau sudah begini...jadi terlihat bahwa agama baru sebatas tampilan fisik, urusan dengan Tuhan hanya sebatas ritual doa...sedangkan untuk hal lain, agama dipinggirkan dan baru akan di pakai ketika dibutuhkan. Lihat para koruptor...ketika mengambil uang rakyat tidak ingat akan ajaran bahwa mencuri itu dosa, tapi ketika tertangkap dan menjalani proses peradilan...tampilan berubah, begitu agamis. Ah, begitu banyak contoh sampai saya muak sendiri". (dikutip dari opini dahsyatnya Miss Cowet, RI-2 wannabe).
Lalu jika seseorang berperilaku buruk, mungkin karena dulu waktu diperkenalkan kepadanya, agama adalah dogma hitam putih baik dan buruk, dosa dan pahala, surga dan neraka saja. Orang yang baik dan rajin beribadah akan masuk surga, sedangkan orang yang jahat dan berdosa akan masuk neraka. Titik. Sedangkan saudara, surga dan neraka itu konon tidak ada dalam kehidupan di dunia, nanti setelah kita mati dan melewati proses pengadilan akbar di hari kiamat, dimana segala amal perbuatan kita semasa hidup harus kitat pertanggung jawabkan. Jarak antara kehidupan dunia dan akherat tergantung dari tebal tipis keyakinan kita kepada Tuhan Sang Maha Kuasa. Jadi agama adalah urusan manusia dengan Tuhan saja. Oh, ini dia yang salah ternyata! Pemahaman yang tidak menyentuh akar rumput tentang fungsi agama sebagai acuan nilai nilai moral dalam berhubungan dengan segala isi dunia.
Setuju dengan Miss Cowet, wakil presiden republik titik titik, bahwa jika setiap orang mau menjalankan ajaran agamanya masing masing dengan baik, maka hal buruk akan bisa diminimalisir. Sesungguhnya agama diturunkan di dunia sebagai SOP (Standard Operating Prosedure) supaya perilaku manusia lebih tertata dan teratur, intinya agar manusia menjadi baik. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan. Nah, karena agama sebagai produk budaya paling tinggi ini keberadaannya diperuntukkan bagi kemaslahatan manusia, mungkin kita perlu merubah pola kaderisasi generasi baru bangsa ini, bahwa agama tidak semata soal surga dan neraka, tetapi implikasi dan dampak dari pelanggaran dan ketaatan terhadapnya bagi kehidupan umat manusia yang jika kita runutkan adalah semua saudara kita sendiri.
Alangkah indah jika utopia itu menjadi fakta, dimana sampah masalalu setiap manusia tidak menjadikan polusi, apalagi iritasi sebab agama telah berfungsi maksimal sebagai pengendali nafsu duniawi, menjadi guideline agar setiap manusia menjunjung tinggi nilai nilai budi pekerti, perdamaian dan solidaritas tanpa pandang bulu.
Gempol, 080626
Saturday, June 21, 2008,6:18 PM
Obat Bagi Bangsa

Bangsa ini sedang sakit, hatinya yang sakit. Maka satu satunya obat bagi yang berhati sakit adalah tawakal. Tawakal dalam menerima hal hal yang tidak disukai dan tawakal dalam menerima hal hal yang disukai. Hati yang sakit mengakibatkan jiwa yang terganggu, mengidap gejala gila yang kemudian dimakmumkan menjadi sebuah ajaran modern dari hal yang paling tradisional sekalipun. Kegilaan semacam itu sangat mudah ditemukan dalam berita berita media massa setiap harinya. Orang lupa dengan jatidiri, bahkan Tuhan dikomoditikan menjadi kendaraan taktis. Ya! Tuhan! Bahkan perkumpulan ulama yang seharusnya mengedapankan factor dakwah dan control terhadap budi pekerti pemeluk agama justru tercebur ke selokan hukum materi yang terkadang lebih busuk dari selokan aslinya. Selokan itu berisi peraturan peraturan buatan manusia, kebebasan untuk menentukan siapa yang tidak benar dan – tentu saja – diri sendiri selalu benar.
Neo jahilliahisme adalah sebuah paham jahat yang merusak bayi bayi tatakrama. Paham itu ada tetapi kita tidak sadar keberadaanya. Kebanyakan orang yang bersuara lantang biasanya menentukan hanya apa yang tidak benar, tentu saja menurut penalaran si empunya kata kata. Sakit bangsa ini sungguh akut, seperti tumor yang menjalar pelan pelan, mencengkeram pangkal pangkal syaraf dan aliran darah, menjanjikan sebuah kematian mengenaskan yang bisa datang kapan saja. Kekerasan telah menjadi kebiasaan, hukum menjadi alat permainan tingkat tinggi dengan takaran uang, dan masyaallaaah….jabatan dipandang sebagai sebuah kesempatan untuk memperkaya diri. Tentu tidak semuanya, sebab jika keadaan itu menyeluruh, tentunya bangsa ini sudah tidak ada lagi. Indonesia sudah tidak ada lagi, kembali menjadi kerajaan kerajaan kecil yang dipimpin oleh dictator dictator kecil berejubah superhero, bertopeng malaikat dan mengenakan make up tebal bernama kepalsuan.
Sebab sebuah bangsa terdiri dari individu individu, maka individu individu itu pulalah yang semesetinya bisa memotivasi diri untuk menyembuhkan penyakit celaka yang memelintir bangsa. Zaman yang kata orang serba susah, hanya sebatas di perkataan saja. Jika ibaratnya badan yang biasa dimanja, maka kesakitan akan menjadi siksa. Akan tetapi bangsa kita bukan semacam itu, bangsa kita adalah bangsa yang tangguh, innovatif, menjunjung tinggi tenggang rasa, gotong royong dan persaudaraan. Bhinneka Tunggal Ika, semboyannya. Berbeda beda tetapi tetap satu! Perbedaan perbedaan itu semestinya diterima dengan penuh rasa syukur karena dengan banyaknya perbedaan justru kita adalah bangsa yang kaya, kaya dari semua seginya.
Begitu banyak dan besarnya kekuatan energi bangsa ini, pasti bisa dipakai untuk berhenti berambisi sejenak, dan mendefiniskan kembali keadaan Indonesia secara jujur, lalu menerimanya sebagai sebuah rasa malu. Itulah tawakalnya bangsa. Membangun sebuah bangsa haruslah bermula dari individu yang menghuninya sendiri. Ketaatan terhadap falsafah bangsa dan mengedepankan kepentingan Negara diatas segalanya, belajar percaya kepada pimpinan supaya tidak terjadi multiple dualisme kepemimpinan, dalam segala bidang dan yang didapat dengan segala cara. Kebanyakan dari kita menempatkan diri sebagai raja kecil, atau paling tidak berambisi menjadi raja kecil (bahkan ke tingkat yang paling tidak umum). Jika diteruskan maka akan muncul kekuatan kolompok kelompok kecil yang mengedepankan kegarangan kata kata dan kelihaian berdiplomasi yang bisa mencekoki pemahaman warga terpencil yang tidak tersentuh oleh lezatnya enampuluh tiga tahun kemerdekaan. Raja raja kecil ini begitu nakal dan ambisius, sehingga harus membuktikan kekuatan massanya, membuktikan kegarangannya didepan kelompok yang lain, raja kecil yang lain.
Memulai dari sendiri sangatlah tidak susah, saudara. Belajar untuk tetap setia kepada nurani dan memberikan penghargaan yang wajar bagi ajaran ajaran perilaku seperti agama, meletakkannya sebagai
compliance blanket bagi setiap kalbu, setiap hati dan jiwa, maka yang tercipta adalah sebuah colored pink coutry, sebuah Negara penuh cinta dan kasih sayang. Agama ditempatkan bukan dikepala, apalagi diukur dengan undang undang buatan manusia. Tuhan bisa murka kepada bangsa kita yang mempermainkan namaNya dalam pernyataan pernyataan pembohongan publik oleh pejabat, Tuhan juga bisa murka dengan cara sebagian orang dari bangsa kita mengajarkan kebenaran Tuhan melalui kebencian dan kekerasan, penghujatan dan penghianatatan nilai. Tuhan akan sangat murka kepada kita jika kita terus beranggapan bahwa setiap orang berhak menjadi Tuhan dibalik baju gamis hasil upeti.
Tumor gila seperti itu hanya bisa dilawan dengan tekat kuat dan bulat untuk sembuh, dan memang berupaya keras untuk sembuh. Jika masing masing dari individu kita rajin bercermin pada nurani masing masing, pastilah Negara yang kaya lagi subur makmur ini bisa menjadi raksasa baru di Asia, bahkan kita bisa menjadi salah satu pilar kekuatan berlangsungnya kehidupan alam semesta, sebuah Negara gemah ripah loh jinawi yang dihuni oleh warga bangsanya yang bersemangat untuk ramah, sopan santun, cerdas dan berbudi pekerti luhur. Alat pemerintahannya berfungsi maksimal dalam melayani kepentingan warga bangsa, para pengemban tugas jabatannya menghayati jabatan sebagai sebuah amanah dan ibadah. Kelompok kelompok organisasi yang ada benar benar punya semangat profesionalisme, dalam ikut mengontrol jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap pernyataan dikeluarkan dengan sangat hati hati dan arif, jauh dari provokasi dan pembenaran diri, serta konsisten menjaga misi organisasi.
Mari, agama kita tempatkan dalam hati, dalam nurani sebagai penuntun perilaku, bukan di batok kepala konsumtif sebagai komoditi kelompok saja. Dan Tuhan adalah dzat yang tak terbantahkan, tak terdebatkan. Serta yang pasti saudara, semangat patriotisme demi keagungan nama Indonesia.
RI 1 – wannabe.
JGF Karawang, 080620
Friday, June 13, 2008,9:49 AM
Penduka
: ex-lucifer(Tertulis risalah ini padamu, individu mulia yang tersia siakan oleh cinta yang durjana… )
Ketika malammu luruh menjadi gelap, pengap dan mati, pembaringan lakasana sabana kosmos maya, luas tanpa tepi tempat segala khayal dan sesal silih berganti tertayang di langit langit remang yang lalu menyisakan raungan, gemelatak gigi diperdaya amarah membuncah, seolah menyobek dada, memprotes atas kebahagiaan cinta yang tidak berpihak padamu. Bahkan cicak dan serangga seolah mengejek, tertawa terkekeh tak sanggup berhenti, mentertawakan kemalangan nasibmu. Tawanya tersambung tangisan, tangis sedih atas nasibmu yang tak lebih beruntung dari mereka yang melata di dinding ruangan.
Tangismu pecah sepanjang malam, tetapi sekelilingmu hanya keleluasaan sunyi yang mengurung. Badai nasib membutakan mata hatimu, hingga yang terasa hanya pedih ke pedih, hampa ke hampa seperti tak pernah berujung padahal engkau sendiri tak mengerti kapan bencana dimulai, apalagi kapan akan selesainya. Engkau lelah mengurai sebab musabab terjadinya bah air mata, bahkan keyakinanmu sendiripun perlahan tak sanggup kau fahami. Tak kau mengerti penyebab petaka datang tak mau pergi pergi. Di tidurmu yang tersingkat, semua kenangan menjadi beban, dan harapan tinggal tulang belulang ditingkahi kenyataan pahit meremukkan impian. Matahari datang dan pergi sekedar lewat dan mencatat hari hari yang terbunuh mati seolah tinggal menunggu kiamat, tinggal menunggu semuanya pulang kepada keabadian yang misterius.
Berdoalah wahai sahabatku, berdoalah dari dukamu yang paling diam. Mintalah agar sebelah hatimu yang hilang dikembalikan dari ketersesatan. Kembali menjadi pelengkap dari perbedaan yang menciptakan kesamaan. Tumpahkan airmatamu dalam tangis permohonan, agar uap uap udara mengusungnya ke Yang Maha Mendengar. Yakinlah bahwa Diapun Maha Tahu dan menampung semua sedu sedanmu.
Sahabatku,
Sungguhlah nyata bahwa tak ada cerita yang tak sama. Sepanjang sejarah bumi hanyalah melulu kisah peradaban yang terhimpun dari hubungan manusia dengan manusia. Dan nyatalah bahwa waktu akan sanggup membalut lukamu, menyembuhkanmu dan memberikanmu makna makna baru tentang masa lalu, kekinian dan masa depan. Bertahanlah, badai pasti kan berlalu dari hatimu…
Palembang, 080613
Thursday, May 22, 2008,4:55 PM
Rindu Buta Tuli

Aku rindu pada perempuan itu, yang pernah mengigit pundak dan mencubit pahaku, meremas hati. Yang pernah membagi setiap helaan nafas dengan oksigen yang sama, menelusuri sifat dan menjelajahi persekutuan asing yang menyenangkan dalam debaran jantung kencang. Matanya menatap harap, seolah menemukan separoh dari langit yang melingkupi duniannya. Harapan yang menempatkan di singgasana paling rahasia dalam hati dan hari harinya. Menempatkanku sebagai laki laki bagi keperempuanannya.
Tiga abad tak bertemu, hatiku tertimbun rindu. Rindu yang beranak pinak memenuhi setiap lorong di rongga dada hingga kepala. Pada tatapmu yang teduh merayu sempat menjadi titipan serpihan hatiku yang hancur berantakan kala itu. Menyediakan
panic button dan; piranti komunikasi istimewa yang hanya kita berdua memahami cara menggunakannya. Begitu pribadi dan berlumur tawa bahagia.
Aku rindu cerita tentang ketidak mengertianmu atas hidup yang berjalan misterius, terkadang melenceng dari garis harapan. Pada hari hari yang sunyi, kita pernah saling menemukan diri. Aneh! Justru di kesunyian itu kita bertemu di halte tempat kita biasanya setia menunggu. Dunia yang sepi, tempat kita berteman dengan iblis dan matahari, kedua duanya jauh dari jangkauan kendali kita. Kecil dan berpelangi, tempat kita tak pernah berjanji, hanya bertemu dan kemudian bertemu kembali. Apakah kita memang berputar putar dalam selasar yang sama di bidang labirin bernama nasib?
Di peraduanmu yang sunyi dan maha luas, tubuh ringkihmu kau serahkan pada malam. Jutaan bintang nun jauh di atas atap rumahku menyambangimu, di tempat yang jauh tak terjangkau oleh hangatnya jemariku yang ditelikung rasa merindu atasmu.
Ah, perempuan indahku…aku rindu, sungguh sungguh merindukanmu…
(simpanlah rindumu untukku, agar dihamburkan nanti ketika kita bertemu suatu hari…di taman hati…)SCBD - 080521
Thursday, May 08, 2008,4:38 PM
Ranting Patah Si Pohon Rindang
: sahabat hati
Sangkakan rinai gerimis selimutkan sejuk kesegaran, rupanya yang datang curah hujan sekepalan sekepalan tangan. Bagaimana lagi mesti menghormat ketika kepala telah merunduk serendah mata kaki, merelakan arogansi ego merontok oleh pengharapan akan sebuah penghargaan. Telah menyengaja kokoh menjadi penjaga hati rapuh laksana sebutir telur, menyembunyikan air mata kepasrahan di setiap jamban singgahan. Aku telah begitu keji membunuh egoku sendiri sebagai bukti tertinggi nilai cintaku padamu dan apa yang telah terbangun sepanjang usia perkawinan.
Lama lama aku menjadi budak yang bertuankan ketaatan kepada nilai nilai sesuai aturan kepantasan, tatanan perdaban. Aku rela memperbudakkan diriku padamu, itupun sebagai bukti betapa aku mencintai dan menghormatimu. Aku menyembunyikan sedihku atas ketidak mampuanku mengurai simpul simpul kemacetan di dalam sindroma demotivasi laki laki yang terjadi di dunia batinmu, kekasihku.
Hari ini ada kesedihan datang, hati perih terinjak injak oleh sikapmu yang seperti layang layang kehilangan kekang. Sebaik baiknya kewajiban telah terbayar tunai sejak subuh hingga petang, memanfaatkan keberuntungan yang langka di kehidupan. Andai aku bisa memberi pasti engkaulah orang pertama yang akan kubagi. Tetapi Tuhan memberikan apa yang tak bisa terbagi dengan individu lain. Tuhan menganugerahi kita dengan property intelektual yang kini menjadi pupuk penyubur yang memberi kehidupan atas dunia kecil; perkawinan kita. Tetapi bahkan pupukpun telah sengaja kau pilih untuk menjadi kambing hitam si penerima kesalahan ketika usia merongrong perlahan.
Pohon rindang, peneduh segala kesenangan, surga kecil ditengah ganas gurun tak bertuan, rantingnya patah tertebas tajam pedang atas nama dominasi gender. Patah melayu, getahnya meleleh menyusuri lekuk lekuk dan pori pori kenangan dan penyesalan. Kekecewaan memproduksi rasa sakit hati sebagai akibat dari pengharapan yang menemui pepesan kosong, bertepuk sebelah tangan, kecele yang menyedihkan. Luka parah sampai ke ujung darah hingga tabib satu satunya yang paling sakti hanyalah sang waktu. Waktu akan rajin memberi asupan gizi pengalaman pengalaman baru, hingga sampai pada satu moment yang mengamini ketika bathin merasa bahwa hati yang pecah, ranting yang patah hanyalah satu dari cerita kejadian yang harus terjadi, harus dialami. Sang waktu akan dengan sendirinya meracik obat sakit hati dan memberikan kesembuhan. Dan setiap kesembuhan melahirkan rasa syukur yang amat mendalam, betapa kesulitan telah memberi kemudahan untuk melintas di jalan kehidupan yang makin terjal.
Bertahanlah sahabat hatiku, di setiap tepi mendung tebal selalu ada garis keperakan, pertanda kecerahan tetap ada di balik gelapnya dukamu saat ini. Biarkan sang waktu menjalankan tugasnya, mencatat setiap kejadian yang dialami bathin manusia, lalu menorehkannya pada dinding zaman sebagai cerita manusia, para pelakon sandiwara bernama kehidupan dunia.
SCBD - 080507
Wednesday, April 30, 2008,9:45 AM
Duabelas Tahun Kemudian

:
Lucifer
Penanggalan di pendulum ingatan menghilang bersama pagi yang membelah mimpi. Hari ini entah hari keberapa lagi harus kuhitung detik demi detik yang akan membawa pergi terbang berlari menyusuri kenangan demi kenagan purba, melintasi awan dan melayang diketinggian, mempermainkan jarak dalam hitungan jari tangan.
Menghirup nafas bekas hembusanmu di pagi sejuk ketika embun bermalas di pucuk bambu hias, diri kehilangan kesadaran akan kekinian. Betapa bersyukurnya kita atas keberuntungan, menemukan lagi dalam percakapan panjang pembias makna. Duabelas tahunkah kita mengingkari pohon cinta dalam ingatan, yang kini menyembul menguasai kepala dan ubun ubun kita yang menua? Oo…Waktu berjalan demikian cepat, duabelas tahun melompat tanpa cacat. Rintih dan perih siksa cinta kita paparkan, berharap malam malam akan berisi nyanyian puja bagi hati yang terluka.
Ribuan ton beban di pundak kanan yang kita bawa sepanjang jalan sejarah, tumpas sudah oleh pertemuan sederhana, sesederhana kehendak hati yang saling menginginkan. Jejak jejak karatan kita bersihkan, memandanginya dan memamerkan betapa kita menghayati setiap langkah ketika kita sama sama menjauh dari kebersamaan. Tangismu menyaru tawa bahagia, ketika matamu yang redup lindap di sudut dadaku, diantara celah ketiak yang menjadi tempat paling menenteramkan katamu. Sebuah sentuhan dengan miliaran keraguan telah mencairkan gunung batu sepanjang zaman, yang kita simpan jadi kenangan entah hidup entah mati. Dan mimpi mengetuk ngetuk pintu untuk ikut lahir dalam kenyataan malam itu.
Lalu kepatutan dan aturan kepantasan membayangi, ketika tiba tiba hujan jatuh berwarna abu abu. Ragu menikam hatimu, berbisik parau tentang hal yang semestinya dan tidak semestinya seperti ratusan tahun diajarkan kepadamu secara turun temurun, dalam lingkup kemapanan moral yang membentukmu jadi rapuh. Angan diam tak bergeming mengecupi kebimbangan hatimu yang datang bersama angin pancaroba musim ini. Air mata yang tumpah di puting dada menumbuhkan empati sukarela atas beban derita dari pilihan hidupmu yang ternyata keliru.
I have been there, diterkam oleh keadaan dan dicabik cabik lantak oleh kenyataan. Toh waktu juga yang menyembuhkan segala bentuk luka dan menumbuhkan tunas tunas senyum yang sempat meranggas gersang.
Dua belas tahun yang panjang menunggu sebuah pelukan, bisik kalimat pengakuan dan tumpahan pandang penuh perasaan sayang lunas sudah hanya dalam beberapa butir perkataan, perkataan yang diucapkan oleh hati yang tak pernah letih mencintai dan mengistimewakan dalam cinta platonik panjang. Cintaku padamu, duabelas tahun lalu…
Nighty night…sleep tight…mind the bugs don’t bite…
Yogyakarta, 080410
Friday, April 18, 2008,4:24 PM
Si Lucky

Namannya Lucky, profesinya sopir mobil charter dari Surabaya yang ditugaskan mengantar kliennya mulai dari menjemput di bandara Adi Sumarmo Solo sampai kemanapun si klien memintannya. Kebetulan kali ini ke Purwokerto, untuk urusan pekerjaan tentu saja. Boleh mampir dimana saja, terserah apa kata tamu yang dibawanya. Puluhan kilometer jarak tempuhan, diiring musik cadas Van Hallen tahun delapanpuluhan atau musik sederhana dari Koe Ploes tahun yang lebih tuaan. Mengingatkan zaman bahwa diamasa lalupun kehidupan berjalan sama seperti hari ini dan kemarin, ada tragedi dan kegembiraan, ada hidup yang hidup dalam setiap hati manusia penjalan hidup.
Malam dingin luruh menusuk tulang belulang, mengantarkan bulan menelusup diatap rumah rumah tua di kota kecil Purworkerto. Hujan sesore tadi membasahi rumput di halaman kamar dimana mobil sewaan terparkir siap mengantar kemanapun dan kapanpun atas kendali Lucky, atas kuasa klien.
Hal demikian menciptakan gunung tebal pemisah antara klien dan sopirnya, hanya terbatas oleh dinding tipis kamar hotel tempat si klien menginap. Didalamnya sebuah ranjang ukuran nomor dua, selimut lembut tebal dalam lingkupan hawa sejuk pengatur suhu ruangan, dengan segala kemewahan hotel menjadi hak mutlak sang klien, sedangkan Lucky harus melingkerkan tubuhnya yang letih setelah mengemudi sesiangan di dalam mobil yang notabene bukan mobilnya sendiri pula.
Manusian menciptakan aturan, menentukan batasan dan hal demikian sudah wajar dalam budaya kapitalisme dimana uang menentukan status, keterpaksaan bahkan standar kenyamanan. Terkadang menjadi ambigu sendiri ketika privacy menjadi terganggu hanya oleh rasa iba, namun demikian tetaplah berjalan sesuai kehendak sang malam. Tubuh melunglai oleh letih yang membelai, dan embunpun mengurung mobil sewaan dengan tubuh sang sopir tinggal raga dengan ruh mengembara nun jauh ke tanah kelahiran.
Lucky mungkin tidak sesuai dengan namannya. Keberuntungannya menjauh oleh sebab profesi yang dipilihnya, pilihan yang mungkin bukan kesukaannya. Idealisme dan kecanggihan penalaran tak mampu menolongnya untuk keluar dari kungkungan nasib, menerima pasrah pada kehendak hidup dan menjalani setiap menit kehidupan dengan berusaha terus bersyukur dan menrimannya sebagai sebuah keberuntungan sesuai dengan nama yang disandangnya, hadiah dari ayah ibunya.
Hati sang klien mungkin tak semulia malaikat dalam buku cerita, namun ia tetaplah manusia yang memiliki nurani yang bersuara, menggugat logika yang membatasi hak kenyamanan. Kedua duannya sama sama hanyalah menjalankan pekerjaannya, berupaya bertahan hidup dalam persaingan yang kian hari kian mengetat jua. Lepas dari itu semua, dua duannya menjadi lelaki yang menjadi pahlawan bagi siapapun yang ada didalam hatinya.
Lucky di luar kamar, di dalam mobil dan sang klien si orang penting didalam kamar dalam kenyamanan yang membentangkan jarak antara kebersamaan seharian. Dan diantara sekian banyaknya kesamaan, hanya nasiblah yang membedakan.
Apa hendak dikata, kehidupan dunia memang penuh dengan aturan budaya produk manusia…
Marlboro Rocks Purwokerto 18 April 2008
Monday, April 07, 2008,1:59 PM
Jejak pincang ditepi malam

Bintang gemintang berkerlipan di titian kabel sepanjang lapangan Merdeka mereinkarnasikan kenangan masalalu yang berhamburan dalam pencarian semu. Melesat angan pergi jauh tingalkan jasad yang dikurungi sunyi dalam gaduh malam birahi. Isi hati menyelinap pergi diantara liku bentor karatan dan kompleks makam sepanjang jalan, mencari penganan bagi dialog jiwa yang kelaparan.
Betapa mahalnya harga sebuah pertemuan yang bisa melahirkan kebersamaan, ketika jarak berkongsi dengan waktu menganiaya batin yang mengigil asing di tanah yang jauh. Telah terbiarkan diri mengecap rasa pengetahuan yang datang dari segala penjuru arah oleh mulut mulut sepanjang jalan dan kesimpulan yang menjadi property intelektual individu. Sebagian menyangkut hampa di lampion merah merah atau tercecer di baliho reobek pengiklan tirani, atau menggantung ragu bersama bintang gemintang di titian kabel membentang.
Mimpipun tan kunjung tiba ketika waktu hanya berisi realita. Duniapun pasti tahu bahwa hidup tidaklah hanya berisi keinginan dan ketidak inginan semata. Wangi parfum dan kerlingan mata mata genit hanyalah piranti biasa ketika senja beranjak pegi di tepi kota Binjai dan matahari mengerdip bersama ribuan naman dan wajah baru yang hanya melintas sesaat di teras hati.
Dewa dewa perawat nasib menyambut para penjamja selera yang menghitung rugi sebagian menimbang laba di sudut kuil tua di Kampung Keling. Orang asing menangisi jalan yang kehilangan trotoar, meraup semua pengertian dari ketidak tahuan akal.
Diantar deru kota Medan, 7 April 2008
Wednesday, March 12, 2008,10:34 AM
Tentang makna kehidupan
Apa makna kehidupan menurutmu, sh?Masih dalam pencarian. Semua aktifitas yang kita jalani setiap hari adalah proses pencarian makna itu, dengan menjalani dan mencoba mengambil intisari pelajaran filsafat atas persitiwa dan pengalaman yang terekam. Tetapi yang pasti, hidup adalah karunia terindah yang wajib disyukuri dan patut dinikmati. Selalu ada pelajaran setiap detiknya, selalu ada kejutan di setiap kesempatannya. Kita bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa disekitar kita atau yang menimpa kita, baik dan buruknya.
Sepanjang hidup kita diperkenankan menyaksikan matahari terbit dan tenggeleam dalam siklus yang nyaris terabaikan, yang menentukan cerita isi dunia. Memperkenankan kita untuk belajar tentang makna hidup, berguru pada butir embun, tunas rumput bahkan kepada bangkai seekor lalat. Semuanya memberikan kejadian adalah symbol dari kekuatan alam dan kekuasaan Tuhan atas segala hal yang hidup dan mati dumuka bumi. Kita sering tidak memperhatikan matahari terbit dan tenggelam, kita juga sering menaruh harapan besar bahwa jika nanti matahari mulai meninggi, kehidupan akan berjalan baik seperti keinginan. Kadangkala hal itu tidak menjadi kenyataan, menimbulkan kekecewaan yang beranakkan kekhawatiran.
Matahari pagi mengajarkan kepada kita makna konsistensi dan optimisme, matahari yang tenggelam mengajarkan kepada kita tentang pentingnya introspeksi kedalam diri senidri atas apa yang telah dilalui hari ini, mempersiapkan koreksi bagi kesalahan sikap dan pikiran. Butir embun mengajarkan kita kepada cikal bakal kehidupan yang sekali lagi adalah karunia termewah, memberi semangat untuk memlihara dengan bersyukur dan menikmatinya. Rumput dan pepohonan mengajarkan kita banyak filsafat tentang menerima apa yang pantas kita terima tanpa mengharap lebih dari apa yang bisa kita dapatkan, mengkonsumsi isi kehidupan secukupnya untuk dikembalikan lagi kepada kepentingan lebih luas bagi kehidupan sebagai imbal balik. Imbal balik yang lebih besar dan baik dari apa yang diterima. Kemudian bangkai lalatpun memberi pelajaran betapa pada prinsipnya kita yang juga mahluk hidup bisa mati kapan saja dan mengakhiri sejarah diri disitu dengan sebab yang tidak terduga. Semestinyalah hidup kita mampu memberi warna dan makna bagi kehidupan yang kita tinggalkan ketika kita akhirnya mati. Bangkai lalat dan bangkai manusia tidak ada bedanya, tidak ada artinya apa apa lagi, tidak bisa memberi kontribusi kepada alam semesta lagi. Dari sanalah semestinya kapal penjelajah alam fikiran kita diberangkatkan, dari kesadaran bahwa kita hanya memiliki ketiadaan, terlalu kecil dan lemah jika untuk menuntut hak atas manfaat diri bagi kehidupan.
Kehidupan seperti lautan kesempatan, kadang bisa menenggelamkan dan kadang bisa menghilangkan kesadaran. Tak tertebak dan rapuh, demikianlah menggambarkannya. Kita yang menjalani kehidupan semacam itu akan dituntut untuk memiliki kekuatan yang memang dibekalkan cuma cuma sejak kita lahir, dan terus kita bangun dan pelihara kekuatan itu sehingga syaraf dan otot motorik kita aus dimakan usia kelak. Belajar dari kesalahan dan terus berupaya meningkatkan kualitas diri dan memperkaya pemahaman kita tentang tenggang rasa adalah pilihan bijaksana ketimbang membiarkan hidup yang mengendalikan kita sesukannya. Memang, ada kondisi kondisi dimana terkadang kita tidak diberi banyak pilihan selain menjalani, atau menjalani pilihan pilihan yang sama sama tidak mengenakkan.
Kita juga perlu hasrat yang kuat untuk mengisi kekosongan demi kekosongan diri kita atas pengetahuan yang hanya kulitnya saja kita mengerti. Ambisi dan nafsu manusiawi kita harus benar benar kita control supaya tidak menimbulkan kerusakan maupun kerugian terhadap peradaban. Nurani sebagai wasit dalam pikiran harus terus tetap terjaga supaya keseimbangan antara hati dan logika tetap terpelihara. Berusaha dan terus berusaha menjadi baik, menjadi orang baik dan berbuat baik tanpa bercampur tangan menentukan hasil pencapaian. Semau upaya pemeliharaan lestarinya kehidupan bagi seluruh mahluk hidup adalah kewajiban yang telah kita sanggupi sejak menit pertama kita dilahirkan. Demikianlah penghormatan yang ideal bagi hidup sepanjang kita menjalankan dan mengambil manfaat tak terbatas atasnya.
Memelihara kebaikan dalam diri kita adalah wujud penghormatan atas karunia termewah bernama hidup…
Ciracas, 080312
Tuesday, March 11, 2008,1:18 PM
Risalah Perpisahan

: Orang orang Nutricia
Sudah jadi adat dunia, bahwa pertemuan selalu membawa konskuensi kebalikan: perpisahan. Siang dan malam, lelaki dan perempuan, suka dan duka, kebaikan dan keburukan, dan lainnya. Semua tidak bisa berdiri sendiri sendiri, dan dalam interaksinya memerlukan sinergi, keseimbangan dalam menjalaninya. Tidak akan ada hulu jika tak ada hilir, tidak akan ada kegembiraan jika kita tidak pernah mengalami apa itu kesedihan. Sebab hidup sebenarnya hanyalah perjalanan dari dua titik, antara kelahiran dan kematian belaka. Lain tidak. Sebuah konsep besar yang mewakili keseluruhan kejadian dalam kehidupan. Kisah manusia adalah kisah pengembaraan diantara kedua titik tersebut.
Sebuah pertemuan yang menggembirakan, bisa jadi akan berakhir dalam perpisahan yang merobekkan hati, merontokkan keteguhan diri. Atau sebuah pertemuan yang meragukan akan bisa juga berakhir dengan sebuah perpisahan yang penuh keyakinan, tanpa beban.Tangis dan tawa hanya warna dunia musik pengiring seperti halnya udara dan hujan.
Apabila dalam sebuah kisah sejarah, kita pernah mengalami satu lintasan dalam tempuhan yang sama, atau sekedar berpapasan saja, maka milik kesementaraan sematalah hal itu akan terjadi. Singkat atau lambat, ujung dari kisah cerita akan bermuara kepada satu kepastian yang tak bisa ditolak oleh siapapun. Lalu kita hanya akan menjadi butiran debu yang dipermainkan angin dan musim, mengembara dari tempat asing ke tempat asing lainnya. Semestinya demikianlah hidup dimaknakan, supaya terkikis ketamakan dan sifat binatang yang biasa dimanjakan.
Isi dunia digambarkan dalam sebuah stasiun kereta dimana perpisahan dan pertemuan terjadi setiap hari. Diantara perpisahan dan pertemuan akan terurai kisah kisah perjalanan yang penuh berisi pengalaman, disimpan dalam saku ingatan dan dibawa ke perjalanan lain lagi. Masing masing kita memiliki cara tersendiri menyimpulkan kisah biografi, menjadi peredup dan penerang langit perasaan. Penghormatan kepada pribadi pribadi yang singgah dalam sanubari akan berupa kenangan dan ingatan, berjubah pengaharapan dan terkadang hasrat untuk melupakan. Sikap bersahaja mengajarkan kewajaran, menghormat bagi mereka yang menghormat, mengabaikan bagi mereka membanggakan kerendahan budi.
Simpul simpul kematian yang menentukan rute tempuhan perjalanan liar di bumi tanpa marka ini mungkin akan mempertemukan lagi masalalu dengan masa depan. Segala kemungkinan mutlak menjadi milik alam semesta, miliaran kemungkinan dan hanya akan ada satu yang dapat dibuahi menjadi kenyataan. Itupun masih dalam bungkus misteri yang tak tertebak dengan cara apapun. Jalani saja, ayun langkah ke depan. Integritas akan menuntun kepada kelapangan hidup, lapang dalam menerima yang kita suka dan menolak apa yang kita takuti; lapang menerima kesempatan yang menyambangi keberuntungan nasib, maupun kemalangan yang mungkin akan menguatkan.
Jika perpisahan melahirkan sesal, mari jadikan pelajaran betapa kebersamaan adalah sebuah karunia yang tidak bisa begitu saja diproduksi hanya dengan ketidak sengajaan. Semuanya mengandung makna, pembelajaran sebagai bekal melangkah di titian kalender selembar demi selembar. Sungguh hanya jejak kaki yang tersisa bagi waktu yang telah merampas usia kita.
Mari memberi yang terbaik bagi kehdiupan tanpa ikut campur dalam menentukan hasil pencapaian. Biar saja hukum alam yang akan memutuskan, pahala dan siksa serupa apa yang layak atas apa yang kita perbuat di hari kemarin dan masalalu. Setidaknya, satu pelajaran berharga tentang hidup telah terangkum di sanubari, memberi peringatan dan penguat bagi aral dan anugerah yang bakal datang.
Jika pertemuan melahirkan perpisahan, maka perpisahanpun berpotensi menciptakan pertemuan, entah dimana, entah kapan…sebab kita hanyalah pengembara di bumi tanpa marka.
Ciracas, 080311
Monday, March 10, 2008,5:46 AM
Forbidden past
: tetBisikmu mengetuk gelisah tidur malam, menyeruak dalam mimpi panjang. Mata bertemu mata, hati bertemu hati setelah sekian abad dipisahkan oleh jarak dan tembok pengetahuan yang mengurung. Hidup terus berjalan dan jejak jejak masalalu membekas dalam ingatan, semakin nyata justru ketika usia merampas keinginan muda.
Malam tadi hadirmu menyisakan tangis menyesak sampai ke ujung pagi, ketika semburat jingga menjadi penguasa di atap atap rumah di timur jauh. Lelaki kecilmu, telah tumbuh dan mengadopsi sikap sikapku yang kau kenal dulu. Justru setelah sungai, laut, gunung dan lembah telah lunas tersusuri mengikuti jejakmu yang selalu saja seratus langkah didepanku.
Sepi menjadi milikmu, jauh dari segala yang kau sangka mampu kau jalani penuh hati dulu. Sepi kali ini sepi lain lagi setelah puluhan tahun kau lewati penuh keikhlasan. Menyesali masalalu yang seolah mengabaikanmu sebagai anugerah indah bagi hidupku.
Semestinya tidak ada aral apapun yang sanggup menghalangi laju angan, mencapai kalbu bekumu dan merengkuhnya dalam hangat rasa yang mengalahkan segala aturan peradaban, namun kau jauh, entah dimana. Hanya sisa bau nafas dan kefanaan tubuhmu yang mengabadi dalam ingatan, melahirkan harapan demi harapan yang makin jauh dari gapaian.
Mimpi panjang tentangmu, merubah malam menjadi mati ditinggalkan kekinian. Menyeret dan menyesatkan dalam pusaran ingatan yang melulu berisi tentangmu. Air mata meleleh menyusuri pipi, menyadarkan diri bahwa hidup masih berjalan dalam putaran nasib yang penuh misteri. Barangkali saja Tuhan telah merencanakan masadepan dengan pertemuan, biarpun hanya sekedar menatap lagi sorot matamu yang penuh makna, atau memandang lagi matamu yang menyempit menahan kantuk; menggajah begitu dulu pernah aku menamaimu.
Mimpi malam tadi, mengusung rindu segunung yang menimpa menjadi kepedihan tersendiri, bercakap dengan masalalu yang tak sempat selesai hanya dengan kata kata. Kini, dimanapun engkau berada, aku tahu bahwa hidupmu bahagia dan aku ada didalam sana menjadi fosil bagi sejarah indah di kehidupanmu. Dari musim ke musim, kubawa kenangan tentangmu mengikuti arus hidup dalam keindahannya.
Subuh ini, rinduku padamu mencincang hati…
Ciracas, 080310
Wednesday, January 23, 2008,4:41 PM
Farewell

:n
Teriring kata maaf, atas luka yang merobek hatimu, luka dari erupsi gunung anakan yang kau ciptakan hampir empat tahun lalu, udara berisi kawah beling tempat iblis berkubang dendam. Selama itu pula susah payah diri bertahan, memendam sakit, menimbun perih sendirian, mengerang dan menangisi kekalahan tanpa terdengarkan. Nyatanya waktu tak cukup menyembuhkan, luka bakar yang parah disekujur badan. Merubah bentuk jadi monster mengerikan, mahluk menjijikkan yang tak lagi beridentitas. Hilang semua sifat baik sebagai manusia, sebagai lelaki pelindung dunia.
Duka mengambang, bercampur perih dari tikaman penyesalan. Betapa telah sia sianya seluruh kekuatan yang dicadangkan, jika akhirnya runtuh dan rubuh tembok pertahanan, pelindung nyawa bocah yang hanya tahu tugasnya mengenal dunia. Dialah inti kebersamaan, yang kemudian kau manfaatkan sebagai senjata dan sekaligus tameng pelindung. Menganiaya batinya, meninggalkanku dalam ketidak berdayaan; hanya duka yang menggenang. Suara bergetar bagaikan gempa, mata perih karena selaputnya koyak oleh air mata yang mendesak muntah. Keprihatinanku melebihi udara yang mengitari diri.
Inilah adat dunia, sebagian kita diperintahkan oleh keadaan untuk menerima dan menghayati rasa. Tidak berdaya menghindar, tidak kuasa menolak apalagi mengelak. Pilihan satu satunya adalah menerima, apapun rasa dan bentuknya. Seperti halnya sakit hati yang terbikin, yang membuat hari menjadi rusak, budipekertipun ikutan lasak. Hampior empat tahun tangis tertahan dan perih tertelan, menjaga titisan tetap dalam lindungan. Nyatanya hanya murka jadi balasan. Dan tangis yang terkurung dalam rapuh tahanan perasaan. Udara dan badan halus mengandungkan pedih dalam setiap keping kenangan yang tersisa. Hampir empat tahun saja siksa dahsyat menerpa, hingga hati mati untuk durjana.
Titisan bukanlah benda, ia manusia yang dititipkan kepada kita untuk menjaga dan membahagiakannya. Memanfaatkannya demi nafsu tak terbatasmu sungguh aib yang melebihi aib. Kuterima kejadian dunia sebagai penghianatan kesekian, sebelum perlahan akan kubalut luka, kususun langkah mencari pijar nyala asa yang kau padamkan dengan semena mena. Betapa aku telah salah menempuh jalan dalam gelap ciptaanmu, wahai setan betina.
Telah kukemas masalalu, terkumpul dalam kardus kardus kenangan, teronggok diruang ingatan bersama sampah dan makanan basi. Inilah sumbangsih terakhirku bagi hidupmu, penyokong akan niatmu pergi mempecundangi diri. Dan kukubur masalalu tanpa nisan, disepanjang jalanku setapak terang benderang...
(…
harus tabah menjalani, dan jangan lelah hidup – demikian pesanmu yang jadi pemanduku, dik...Dan dik, ingatlah selalu pesanku padamu, betapa aku selalu sangat menyayangimu sepenuh hatiku, selamanya…)
Ciracas, 0801122
Thursday, January 17, 2008,5:53 PM
Senja di Kalisari

Jam lima tigapuluh sore, terbang diantara pepohonan dan kering jalan Binamarga, merasakan hanya membawa badan kosong membelah udara sore diatas roda. Perjalanan dari kosong ke kosong. Sepi menikam jantung, detak darah mengikuti irama sendu; sebuah kesedihan yang tidak terjabarkan.
Ibunda memenuhi angan angan. Ah, rembulan yang tidak pernah padam itu, malaikat yang selalu mendamaikan. Siang tadi dalam tidur yang gelisah, mimpi serentak menghaduirkan sosok ibunda, juga seorang istiemewa dimasa lalu. Sendiri diatas pucuk pucuk bukit gundul, hanya berisi tonggak tonggak besar bekas dari pokok pohon raksasa yang tumbang dibunuh orang bertahun tahun silam. Bukit yang hijau, tempat yang tinggi, sungguh amatlah menenangkan. Ada ibunda disana, tidak berkata apa apa dan hanya ada disana karena memang demikian kemauan pencipta mimpi.
Udara sore mengundang muda mudi berkeliaran di jalanan. Para lelaki muda menggambarkan dirinya sebagai tunas muda yang kokoh dan terus berkembang, menjadi gagah menjulang seperti profil lelaki idola dalam sinetron sinetron di tivi, dan yang wanita mudanya membawa diri sebagai bidadari yang selalu bisa memikat perhatian. Jalanan tenang, sore yang tenang, dan pikiran yang tak berhenti beterbangan terus berjalan, seperti kehendak kehidupan, kehendak alam. Senja ini rumah hati tampak suram, cahaya matahari yang redup mempertajamnya pelan pelan.
Menikmati senja yang turun diatap rumah panjang Kalisari seusai menyantap nasi, di tepi sungai yang seperti kehilangan arah. Senja turun berwarna kuning keperakan, memerah saga lalu perlahan tanpa sadar gelap mengurung diri. Gelap disekeliling redup, sepi didalam hati yang takjub.
Keengganan datang seperti kawan, menyapa lalu mengakrabi diri seperti layaknya sahabat lama. Kerinduan kepada masa masa manis dalam hidup datang menyapa. Rindu pada damainya rasa mencintai…
Senja di Kalisari, menorehkan catatan pilu tentang lelaki yang ditikam kenangannya sendiri…
Warteg Sampurna Jaya - 080117
Tuesday, January 15, 2008,3:06 PM
Perkawainan, Perceraian dan Anak

Hakikat perkawinan adalah penyatuan dua orang asing beda kelamin, legalisasi untuk seks bagi umat manusia. Perkawinan adalah investasi sosial seumur hidup, membangun satu partikel kecil didalam kungkungan partikel partikel lainya bernama masyarakat. Perkawinan adalah ikatan tanggung jawab terhadap Tuhan, dan itu berarti tanggung jawab terhadap nurani diri sendiri. Perkawinan dan menghasilkan anak adalah kontrak mati terhadap nyawa anak sebagai manusia. Tanggung jawab dua orang yang membuatnya.
Katanya, didalam kekuatan yang besar mengandung tanggung jawab besar. Dikodratkan lelaki sebagai figur yang lebih kuat, dengan demikian memiliki tanggung jawab yang lebih besar juga. Sedangkan, kualitas seseorang diukur dari kesanggupannya memikul tanggung jawab.
Perceraian tidak bedanya saling menarik ke arah yang berlawanan dua tangan anak yang dihasilkan hingga terputus, terbelah menjadi dua bagian sesuai kekuatan suami dan isteri. Perceraian dalam bentuk apapun adalah pencacatan terhadap pribadi sang anak, yang akan dibebani dengan perasaan ‘selalu ada yang kurang’ dalam hidup, terasa hanya sebelah dan sebagainya. Anak kecil yang seharusnya dalam tahap pembelajaran awal tentang hidup, mencicipi hal hal baru setiap hari akan dipaksa menelan kepahitan dan perihnya ketidak pedulian bapak dan ibunya. Si anak hanya akan bisa menerima, tidak punya kuasa dan daya untuk memberontak dari keadaan itu. Betapa tidak teganya membayangkan si kecil yang merupakan larutan dari darah, daging dan cinta suami isteri harus dibebani dengan kenyataan seperti itu. Betapa teganya orang tua yang melakukan itu demi egonya sendiri. Betapa tidak beradabnya, betapa rendahnya kualitas sebagai manusia, sebagai lelaki terutama. Dipermalukan dan dikhianati berulang ulang memang menyakitkan, tetapi membiarkan anak menjadi korban adalah kesalahan yang tidak termaafkan.
Sebagai laki laki, barangkali memang semestinya lebih tegar, lebih kuat dan lebih memiliki daya cipta. Itu digunakan untuk melindungi dan menghidupi istri dan anak yang menjadi tanggung jawabnya secara hukum dan kewajiban. Jadi perkawinan yang menghasilkan anak bukan lagi sekedar ikatan hukum, melainkan bakti atau integritas seorang lelaki terhadap perkawinan, terutama anak sebagai konskwensi dari perkawinan itu. Sungguh tidak ada yang pantas dibanggakan dari menganiaya seorang anak dengan mengatasnamakan ego.
Ada kalanya seseorang diberkahi dengan kekuatan berlipat lipat untuk memberontak dari keadaan. Kekuatan hati dan juga kekuatan materi. Tetapi hanya sedikit orang yagn samasekali tidak punya kekuatan untuk melawan panggilan nurani sendiri. Tanggung jawab kepada anak bukan hanya sekedar menyediakan makan, pendidikan, pakaian, dan kesenangan, tetapi lebih dari itu, merasa bertanggung jawab atas perkembangan mental serta pertumbuhan psikis sang anak yang nantinya akan membentuk karakternysa sebagai pribadi yang dewasa kekak. Orang tua adalah contoh pertama bagi si anak untuk ditiru. Itulah pelajaran pertama yang berkesan abadi bagi setiap orang.
Terbelah karena kematian masih lebih bisa diterima daripada terbelah karena perceraian. Melahirkan keturunan baru, sama artinya dengan kontrak tanggung jawab sampai akhir hayat terhadapnya. Dunia anak akan merekam pengalaman empiris yang dialaminya sendiri, dan membentuk karakter si anak dikemudian hari. Menjadi orang tua bagi anak anak adalah mempersembahkan hidup bagi si anak, memberikan yang terbaik mencintai dengan cara yang terbaik. Prinsip mencintai adalah saling menyenangkan dan teikat secara emosional.
Bagaimana orang tua yang dengan dalih lebih mencintai anak maka memilih cerai? Itu alasan pembenar yang bertolak belakang dari keadaan yang ada. Memang ada perkecualian, tergantung dari seberapa parah kerusakan hubungan ayah ibu si anak menyebabkan bahaya ataupun berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih fatal. Diluar dari kasus diatas, maka sepenuhnya perceraian adalah wujud anarkisme terhadap anak, hukum dan komitmen diri. Sumpah diucapkan bukan untuk dilanggar, janji di ikrarkan hanya untuk ditepati. Tidak ada opsi lain.
Setiap orang dari kita selalau memiliki ‘teman’ tak terlihat yang selalu mengawasi apapun yang kita lakukan dalam hidup, bahkan teman istimewa ini punya kemampuan untuk ikut bermain dalam alam fikiran. Ketika melakukan keculasan, ketika melakukan kebaikan, si teman ini tidak luput dari mengecam dan memuji. Kepada si teman itulah kita merasa harus mempertanggung jawabkan setiap keputusan yang kita ambil meskipun berat dan sebagian melemahkan kekutan secara diam diam dari dalam. Keyakinan keyakinan tentang hubungan antar manusia menjadi bergeser ke pengertian pengertian baru. Tetapi pemahaman terhadap perkawinan, peceraian dan tanggung jawab moral yang terkandung didalamnya tetap harus ditaati.
Demikian juga dengan konskwensi mempertahankan perkawinan sambil memendam dendam serta ribuan perasaan negative terhadap pasangan, ibu dari sang anak yang bermetamorfosa menjadi sebentuk tanggung jawab mulia berupa perkembangan si anak secara lahir dan batin. Siksa atas sakit hati, kekecewaan yang membebani, penyesalan yang terus saja menjadi batu muatan di tas punggung, serta ketidak mampuan membendung setiap siksaan yang datang menghampiri, semua menciptakan suasana yang tidak layak bagi sebuah hubungan suami istri. Perkawinan kehilangan intisari maknanya, tinggal ikatan pembungkus kewajiban hukum semata.
Bahkan pengertian awal bahwa perkawinan merupakan produk budaya yang membuat dua orang dianggap ‘boleh’ melakukan hubungan seks semaunya atas dasar suka sama suka, itupun perlahan bergeser makna. Seks adalah hal yang layak dinikmati meskipun syarat ijin melakukannya harus dengan landasan penghayatan atas perasaan serta keterikatan emosi. Rumah tangga yang tak punya jiwa tinggal rumah kosong tanpa penghuninya. Cita cita dan rencana ikut mati, menikmati saja umur mencabuti tiang penyangga hak hidup kita satu persatu dengan tanpa terasa.
Itu konskwensi yang harus terjadi dengan mengambil keputusan mempertahankan perkawinan sambil membopong luka menganga di dada kanan. Dan suami atau istri harus tetap hidup, sebab sebagian besar dari hidup si anak adalah tanggung jawab suami istri. Anak adalah amanah, mengecewakan atau membuatnya bersusah adalah aib yang susah dicari pengampunannya. Waktu akan menyembuhkan luka hati, kenanangan buruk akan berubah menjadi sejarah diri, serta hidayah datang menganugerahkan kedamaian bagi hati yang terasa gersang berlama lama. Yang namanya waktu terkadang menyimpan keajaiban, membawa pengobatan dan juga memberikan kesembuhan bagi apapun yang sakit maupun rusak. Ya, waktu memang mengandung banyak rahasia, terkadang tragedy, terkadang keajaiban yang datang.
Segala hasil yang baik membutuhkan kekuatan hati dalam proses penciptaanya. Siapa yang menaburkan benih kebaikan disetiap detik kehidupan, kelak akan memanen kemuliaan…
Gempol, 080112
Thursday, January 10, 2008,11:26 AM
Altar Langit

Jejak menciptakan jarak, melewati kenangan, mimpi dan kesakitan. Badan telanjang tak bertuan, menguliti kesendirian dengan khayal tentang kekasih pujaan yang tak ada. Di lautan yang bergoyang ia berlayar dengan perahu egonya, jutaan mil jauhnya dari kenyataan. Terbang mengambang, sirna gravitasi, lupa persenggamaan. Pantulan kaca cermin dengusan alam menemani sepanjang pengembaraan rahasia, hingga membentur dering telepon yang kepagian.
Malam ini langit bening menjadi milik para bidadari yang kesepian. Kebat kebit menanti munculnya sang pangeran datang membawa luka dari pertempuran menaklukkan kenyataan. Ternyata menerima kenyataan tidaklah semudah yang dibicarakan. Keikhlasan tidak datang dengan di desain sebelum lahir premature dari nurani. Jika dipaksakan bisa mati. Mati tanpa kehidupan, kematian rasa kemuliaan yang pernah menjadi kebanggaan. Perasaan telah dibayarkan dengan hukuman tikam seumur hidup dan menjadi martir yang tak pernah dikenal. Sesuatu akan tumbuh dalam lindungannya dimana sebuah dunia sedang dalam proses penciptaanya. Kita semua adalah dalam proses penciptaan belaka.
Mengenangkan wajah ayu yang bertuba adalah mengenangkan penganiayaan sepanjang hidup. Hanya topeng, dari bopengnya hati sang khianat durjana. Dinding langit kampung sunyi menyimpan gambar kesakitan dan tangisan penuh kepedihan. Ditinggalkan sebab hidup berjalan ke depan. Masa lalu sejatinyalah bangkai yang menyesatkan pikiran, menganak pinakkan dendam yang kelak menjadi penguasa badan, dengan mental menjadi bulan bulanan demit.
Hati mengalir, mengikuti takdir. Waktu berlalu, mewarisi manusia ilmu. Kebahagiaan dan penderitaan mempertentangkan kekuatan menjadi penguasa. Keduanya sampyuh dalam makna, kembar siam yang tak disadari dimana bertautan abadinya. Kita tidak bisa merasakan derita sampai kita merasa kehilangan kebahagiaan kita. Kesederhanaan dan ketersediaan membahagiakan hati. Lalu kekecewaan dan sakit hati menghampakan ruang pikiran, terkadang. Kepedihan meruntuhkan kebahagiaan, dan disaat lainnya kebahagiaan menaklukkan penderitaan; pabrik asli dari kepedihan.
Perang besar tak henti berkobar, menghimpit batok kepala dengan jerit kesakitan dan kadang makian. Kaki terbelenggu, tanganpun terikat paku, seluruh kekuatan otot dan syaraf memberontak atas kecurangan nasib yang melenceng dari pakemnya. Setiap butir udara yang terhirup nafas adalah bayi bayi masadepan yang menjanjikan pembaharuan. Kuasa waktu menjadi oksigen yang memberi kehidupan bagi semangat jiwa. Telaten mengumpulkan bangkai waktu sebagai materi bangunan dinding pertahanan dari kesakitan yang mungkin lebih dahsyat yang mungkin akan datang. Kebengisan diterima sebagai kebengisan, tangisan diterima sebagai tangisan, masalalu menjauh dari masadepan.
Dan memang ternyata, tak ada api cinta yang tiba tiba padam. Yang ada adalah perlahan meredup lalu hilang…
Gempol, 080110
Tuesday, January 01, 2008,5:00 PM
2008

Pijar bunga api dilangit basah menembusi gerimis yang mengambang. Keduaan berkawinan dengan perayaan atas usia yang bertambah tambah juga. Selamanya dalam hukum kefanaan, segala hal yang lahir akan menjadi tua lalu mati, musnah seperti tak pernah terjadi. Bahkan batu karangpun perlahan menjadi gerang, tanah kehilangan nyawa dan mati membawa petaka. Gunung gunung jugrug, balok jegot menenggelamkan rumah rumah, menenggelamkan kesukaan dan harapan. Tak tersisakan lagi asa, hanyut ke laut untuk kelak menjelempah bagaikan bangkai ikan dipantai yang kesepian, atau tersangkut di semak semak jadi tontonan sementara.
Segala sesuatu ada masanya, demikianlah perjanjian atas penciptaan dunia. Bumi semakin renta, rapuh oleh waktu yang terbantai dan cerita hidup yang silih bergantai laksana adegan wayang purwa. Mereka yang muda tak mengenal ketuaan, seolah selamanya hidup berisi perayaan. Keyakinan yang kelak akan menyesatkan isi hidup dalam harapan yang hanya menggapai gapai udara hampa, lalu bermetamorfosa menjadi sesal abadi penghuni kurungan hati.
Setiap detik yang baru lahir adalah keajaiban hidup yang tak terbanding dengan apapun yang ada. Setiap detik baru adalah hamparan harapan yang terkadang lebih banyak disia siakan. Bukankah jutaan tahun kehidupan juga berawal dari satu detik perawan? Dan setiap detik yang tergilas mati oleh jarum arloji menjadi tidak penting lagi. Tidak penting lagi apa yang pernah terjadi kecuali menjadi pelengkap ‘sandangan’ bagi mahluk hidup yang mengalami. Sebagian menggendongnya jadi daging penambah beban langkah kaki. Bukankah semesetinya yang berlalu dipelihara sebagai sejarah, benda mati yang kelak akan menjadi usang lalu rapuh sebelum musnah seperti halnya segala sesuatu?
Tahun baru. Setiap tahunpun ada tahun baru, dan setiap tahun pula resolusi diam diam dipupuk dalam ingatan. Bergantinya tahun, bertambahnya umur bumi berarti semakin rapuh demikian juga kehidupan. Peradaban akan berjalan mengiringi zaman, masa silam menjadi anak anak tangga pijakan menuju kekinian. Almanak di dinding sebentar akan terpuruk di gerobak abang pemulung, menjadi bangkai tak berarti, menjadi sampah penjijik pandang. Tidak ada waktu yang terlahir baru, semuanya hanya maju satu millimeter dari utas panjang cerita kehidupan. Kelahiran dan kematian selamanya bersandingan. Terompet dan jejingkrakan menyempurnakan kenaifan. Pesta merayakan ketidak mengertian akan bertambahnya usia hidup yang mengandung konskwensi pendewasaan.
Tiap butir air yang telah jatuh dari langit akan tetap menjadi air esok dan kelak. Dua butir gerimis yang datang menghampiri tanah malam ini akan menjadi limpahan bah yang menghanyutkan segala sukacita kelak. Biji buah akan tumbuh menjadi pohon, sebagian mati ditengah perjuangannya, mati tanpa menjadi pahlawan. Dan atas kuasa air, pepohonan akan memberi kehidupan sampai akhrinya kematian datang menjadi titah semata. Demikianlah hukum alam berjalan selama jutaan tahun. Dan dari tiap butirnya, kebijakan terkandung penuh makna.
Hidup adalah perjalanan dari dua titik bernama keabadian. Dan tahun demi tahun berisi catatan tentang kelahiran, tragedi, lalu kematian. Dan yang baru, adalah anugerah hidup; detik pertama setelah kematian detik sebelumnya. Mari memberi pada bumi, seperti yang selalu bumi berikan kepada kita; cuma cuma.
(Kita semua pengembara di dunia ini. Dari rumput manis sampai rumah pagan. Dari kelahiran sampai kematian. Kita mengembara diantara keabadian. - Broken Trail)
Gempol, 080101
Saturday, December 22, 2007,9:44 AM
Pakta koloni manusia

Membina hubungan atau membentuk sebuah relationship dari ketiadaan sesungguhnya adalah bentuk perjuangan tersendiri. Prinsipnya sederhana, bahwa sikap menjaga dan sama sama menghendaki adalah pemupuk paling mujarab yang tidak terbantahkan. Hubungan antar manusia dengan manusia, sesama jenis kelamin maupun berbeda jenis kelamin, sama saja.
Rasa hormat dan menghargai, terbuka dan berusaha menempatkan partner lebih kedepan, tenggang rasa harus menjadi azas yang tidak boleh dimodifikasi dengan cerita bohong demi pembentukan image bahwa dia adalah orang baik, orang hebat, orang ini itu dan sebagainya. Unsur pemalsuan identitas seperti itu akan sangat mudah terbaca oleh mereka yang peka perasaanya, terkadang hanya dari pandangan matapun bisa ditebak. Orang yang bicara dengan kita tanpa memandang mata kita misalnya, adalah orang yang ingin mengenal kita kerena sesuatu yang bukan dari kepribadian kita.
Makna ‘sukarela’ menjadi sangat jelas dalam sebuah hubungan. Suka menimbulkan rasa senang, menyenangkan dan disenangkan, rela adalah keikhlasan untuk terlibat dan masuk kedalam kehidupan orang lain, mengambil saripati pelajaran hidup dan juga membuka diri demi memberi kesempatan kepada partner kita untuk membaca diri kita dan kemudian memberi kebebasan untuk menyimpulkan sesuai dengan standar kepahamannya.
Soal kesimpulan, selamanya menjadi milik pikiran, milik kebebasan semesta. Orang bisa saja menyimpulkan bahwa yang berpenampilan alim dan halus, bahkan religius itu adalah orang yang menjunjung martabatnya tinggi tinggi, mulai dari cara berbicara sampai dengan cara berinteraksi dengan mahluk lain. Idealnya memang begitu, maka kemudian banyak orang mencitrakan hal demikian. Tetapi bagi yang mengenal secara pribadi, tentu kesimpulannya lain lagi.
Pendidikan yang tinggi semestinya identik dengan ketaatan moral yang tinggi juga. Tetapi sering terjadi, pendidikan tinggi, kedudukan tinggi justru merendahkan martabat sendiri dengan perilaku yang merugi. Merasa tinggi dan tidak menghargai orang orang yang dalam pandanganya lebih rendah, lebih membutuhkan dia membuat si tinggi menjadi hanya obyek cibiran di balik kegelapan semata.
Intinya saudara, jika ingin dihargai orang lain mestinya kita lebih menghargai orang lain. Jika ingin dimanusiakan orang maka kita juga wajib memanusiakan siapapun yang masuk dalam kategori manusia. Jika menjawab sapaan saja berat entah karena sebab apa, maka jangan berharap kita akan mendapat tempat baik dihati orang lain. Bisa bisa tidak akan menerima sapaan samasekali lagi sebab sebagian orang belajar dengan sangat cepat dari pengalaman empirisnya sendiri. Sikap pura pura juga sering mendatangkan malapetaka dalam sebuah hubungan, pura pura tidak mendengar, pura pura tidak melihat, pura pura tidak merasa, bahkan pura pura tidak tahu!
Apabila sebuah hubungan sudah bergeser dan kehilangan makna kesejatiannya, maka tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan dan menganggapnya sebagai sebuah hubungan timbal balik yang masih mengandung nilai luhur dan manfaat silaturahmi. Memutuskan untuk tidak lagi meneruskan hubungan akan lebih bijaksana daripada memelihara nilai nilai negative yang perlahan bisa membusukkan jiwa.
Maka jika sebuah hubungan sudah tiba pada titik pengingkaran, mengakhirinya akan lebih baik dan aman bagi semua orang. Kecuali dalam soal rumah tangga, sebuah hubungan yang rusak bisa bisa terhempas jadi remuk dijajah oleh selembar kertas bernama akta nikah. Sebab maknanya berganti menjadi ikatan hukum dan tanggung jawab, bukan lagi sukarela dan tenggang rasa!
Kuburan Cina – Radar AURI 071222
Wednesday, December 19, 2007,8:41 AM
Sampul

Standar fisik sebagai ukuran penampilan bawaan lahir yang ideal bagi seorang manusia baik lelaki maupun perempuan adalah komposisi yang proporsional antara tulang, daging, dan kulit yang membentuk paras menjadi berbeda antara satu dan lainya. Keadaan ideal atau sedap dipandang itu kerap dinamakan cantik bagi perempuan atau tampan bagi lelaki. Sebutan cakep mungkin lebih afdol, karena bersifat lintas gender, tidak peduli wanita maupun lelaki. Jika sudah begini, maka yang menjadi tolok pembeda adalah bentuk, ukuran dan keselarasan pandangan semata.
Wajah yang elok, paras yang membuat rasa selalu ingin memandang terkadang menjadi topeng yang sempurna bagi kebusukan jiwa maupun keganasan siksa yang disembunyikan dibalik tampangnya. Katanya kecantikan seseorang terpancar dari kepribadiannya, yang meskipun tidak tampak tetapi lebih berkuasa. Tetapi toh korban ketertipuan atas penampilan fisik ini juga berjatuhan setiap hari.
Bagi sebagian kita yang pernah secara empiric mengalaminya sendiri betapa si rupawan sebenarnya mengandung racun yang lebih mematikan ketimbang si biasa yang tidak begitu rupawan. Pembedaan penampilan adalah hal vulgar yang kerap memerangkap seseorang dalam pikiran impulsive yang menyesatkan, bahwa penampilan yang tidak menarik tidak menimbulkan daya magnet perhatian. Ho ho ho…jangan salah, sebagai pelengkap cerita dunia, pada sebuah kejadian justru si rupawan menemukan kerupawanan yang lebih dalam dari kepribadian dan jalan pikiran si penampilan kurang tadi.
Kita tidak bisa mengukur apapun dari hanya penampilan saja. Coba kita umpamakan, penampilan air yang setiap melintas dalam pikiran kita terbayang kesejukan, kesegaran dan kehidupan induk dari segala keindahan, dibalik itu ia juga berfungsi ganda sebagai alap alap pencabut nyawa. “Don’t judge the book by its cover” bisa fatal! Tetapi tetap saja air tidak bisa berubah menjadi hal yang patut untuk dipersalahkan, apalagi hanya karena penampilanya sebagai air. Iapun diterima dalam kehidupan sebagai air. Demikianlah pula si non-rupawan, ia akan diterima sebagaimana adanya sebab dibalik penampilannya ia memelihara kehidupan.
Sesungguhnya, semakin usang hidup kita, maka semakin arif kita melihat bahwa kecantikan budi pekerti jauh lebih bermakna daripada kecantikan fisik. Para malang yang pernah menjadi korban si rupawan tentu akan cepat menyetujui teori ini. Meskipun, penampilan fisik tentulah juga masuk dalam salah satu criteria yang tidak diutamakan. Tidak ada hal apapun yang bisa menandingi kesempurnaa hasil karya Tuhan; kehidupan. Bersyukurlah diri yang merasa tidak memiliki cukup karakteristik untuk disebut sebagai si rupawan, paling tidak atas dasar penilaian subyektif yang diproduksi dari pantulan kaca cermin.
… lalu kenapa semakin rupawan seseorang, maka semakin beresiko akan mendatangkan malapetaka kesakitan hati?Renungan super kilat ini mungkin bisa sedikit mengurai, karena; semakin rupawan seseorang, maka semakin tajam duri duri yang menyelimuti tubuhnya. Susah dipegang! Kita mengakui kerupawananya yang juga berarti mengakui ketidak rupawanan kita sendiri. Sebuah proses monolog yang melibatkan fihak ketiga sebagai biang keladinya. Karena kerupawanannya pula maka kita tahu kalau persaingannya akan menjadi semakin ketat. Keunggulan rupa itu membuat kita sebenarnya tidak rela ditinggalkan, bahkan hanya diacuhkan saja. Tetapi jika ternyata kelakuannyapun lebih bangis dari iblis, maka keelokan rupa itu akan menjadi bias, kecantikan yang menjijikkan dan tidak mengundang semangat untuk memandang. Hina dina dalam pandangan diam.
Beruntunglah sebagian dari kita, yang menemukan pribadi pribadi cantik dan terbungkus oleh penampilan yang rupawan. Lelakinya tampan dan baik hati, dan jika perempuan tentu cantik dan baik hati juga. Kebaikan hati diukur dari kemampuan memberikan penghargaan yang wajar atas kehidupan orang lain, pemikiran orang lain dan taat kepada azas azas tenggang rasa. Menghormati orang dengan memperlakukannya dengan sebaik mungkin dan sebagainya. Siapa tertantang untuk menjadi seperti itu? Mungkin sebagian dari nafsu kita mengatakan “aku orangnya seperti itu”, tetapi juga akan ada counter opini dari nurani yang mengatakan “ oh, ideal sekali, aku belum bisa seperti itu tapi aku ingin seperti itu” . Terkembali kepada cara kita menjalani hidup, taat pada nurani atau manja dibuai nafsu. Tinggal pilih, hidup itu bebas memilih, dan boleh memilih apa saja tanpa takut salah.
Sebab saudara, orang yang berpenampilan menarik tetapi berkelakuan tengik, tidak ubahnya tubuh tanpa ruh yang tinggal menunggu keriput, lalu ketika mati tidak meninggalkan kebanggaan apa apa. Sedangkan orang yang berpenampilan kurang menarik dan berhati tengik, ialah yang selalu menjadi pemenang didunia. Orang yang berpenampilan kurang menarik tetapi berhati baik, biasanya mengenakan jubah pahlawan. Kalau penampilanya cantik serta hatinya baik…Belum ada!
Gempol 071219
* tertulis sebagai saksi betapa kecantikan memiliki racun yang menghancurkan, tidak mematikan.
Tuesday, December 18, 2007,4:21 AM
Gerungan di persimpangan

Api berkobar dimatanya sore itu, ketika matahari mengendap endap meninggalkan bumi. Sorot mata yang liar mengandung ribuan beling dan racun bagi pikiran, milik singa yang terluka, memberontak atas penganiayaan sia sia. Kemarahan menjauhkannya dari cinta. Dan murka telah menjelmakan musuh musuh baru disepanjang perjalanan nafas. Jangan tatap matanya atau engkau kan terluka oleh karena tajamnya. Mata yang sanggup merobek dan mengoyak apapun dan siapapun yang tak sanggup melampaui titik didih sebuah dendam. Betapa ia telah terciptakan sebagai visualisasi dari mahluk bengis tak mengenal belas kasihan bahkan terhadap bayi orok sekalipun. Permaafaan dan ampun menjadi retorika yang hanya dikumandangkan sebagai penghibur rasa perih belaka.
Iblis tak cuma menggeliat di setiap sel otak yang berulat. Tingkahnya mempereteli setiap mili keyakinan yang dibangun susah payah; pencitraan diri. Arus kebencian begitu perkasa memporak porandakan keteguhan yang dibangun diatas nisan nisan kenangan. Angin sore Binamarga yang biasanya membawa harum bunga mahonipun berubah berisi uap api neraka, melahirkan gerungan penyebab muka sepucat warna mayat. Seribu penjuru angin menyiksanya, mengusirnya pergi dari dunia ramai tempat tawa dan cinta dipamerkan di setiap etalase jalan raya dan jalan sepi.
Hujan air mata dari mendung simpati tak mampu meredam amuk panas sang murka, bahkan ketika hati yang melepuh bersimpuh memohon agar kekasih lekaslah sembuh. Telinga dan hati disediakan bagi penggerutu dan pemaki kehidupan pilihannya sendiri. Manusia dan manusia, selamanya menciptakan konflik batin berjajar memanjang dari ujung bumi ke ujung satunya. Penjajahan baru atas jiwa yang merdeka telah mengakibatkan kerdilnya nilai luhur sebuah investasi sosial. Menerbangkan si jiwa lemah jauh ke angkasa dimana ia lepas kepemilikan, menjadi butiran debu yang tersesat dan kepayahan.
Sore yang tenang telah berganti jadi desingan dendam dan makian sepanjang jalan, mematikan percintaan. Ia telah begitu tidak bijaksana diperdaya oleh aniaya yang tanpa sadar telah menjadi bagian dari ruh dan daging tubuhnya. Betapa perkasanya ia yang berjuang sendirian melawan penyesalan yang membatu, membandul bagai tumor di mata kaki, menyertai setiap langkah yang tak boleh berhenti. Kematian dibicarakan seperti harapan yang tak bertemu kenyataan, layaknya mimpi yang hanya menyisakan busuk air liur di pembaringan. Ia telah mati sebagian dan bermimpi tentang penguburan yang tenang dimana tak akan dijumpai kehidupan manusia setelah ia terlempar dari satu permainan ke permainan lainya. Kekagumannya pada pesona telah membuahkan luka yang menganga, mengundang apapun untuk dikeluhkan sebagai bentuk pemberontakannya yang diam.
Lalu ia menyusuri malam mengemudikan angin di kegelapan, berharap bertemu titik embun yang dulu setia menyapa wajahnya yang menyembunyikan tangis sangat diam diam. Ia terus melolong tanpa seorangpun patut mendengarkan hingga ia terdampar linglung di persimpangan moral.
Binamarga 071217
Thursday, December 13, 2007,10:59 AM
JB* = jalan raya, terminal atau pasar?
Cerita dari Jakarta 8
Menyusuri jalan TB Simatupang dari arah Pondok Indah selepas senja, dengan nyanyian ringan dalam ingatan dan mata jelalatan menjilati sesama pemakai jalan, tua muda, laki perempuan, pejalan kaki dan yang berkendaraan. Manusia manusia Jakarta mewakili individu masing masing dalam kepentingan masing masing, tertutup rapat dalam misteri masing masing, misteri yang amat rapat dirahasiakan, hampir tanpa tebakan. Ke arah terminal Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) Kampung Rambutan, melintasi perlintasan dengan jeda lampu lalulintas di beberapa perempatan yang selalu saja sibuk oleh pemakainya di sepanjang sisi kiri kanan tol lingkar luar Jakarta.
Secara geografis JB menempati posisi yang sangat strategis, pertigaan kecil, jalur putar balik kendaraan komersial dari terminal Kampung Rambutan yang bersiap siap untuk mengantar penumpangnya ke Bogor, Bandung dan kota kota di Jawa lainya melalui tol Bekasi nantinya. JB juga tempat transit banyak penumpang dalam kota sendiri, angkot ke Jakarta bagian timur maupun ke arah Bekasi dan kota kota penyangga Jakarta lainya. Di JB juga sudah dibangun megah sebuah halte busway bernama halte Tanah Merdeka. Busway yang ini melayani rute Kampung Rambutan sampai ke Kota bahkan Ancol di tepi utara Jakarta. Tidak heran jika kemudian JB berkembang dari sekedar tempat persinggahan atau transit, tetapi juga tempat dimana banyak manusia akan memanfaatkan kondisi itu untuk mengais rezeki.
Limapuluh meter dari titik singgung persimpangan dimana bus bus AKAP memutar balik setelah lepas dari labirin terminal Kampung Rambutan, telah tampak betul kesemrawutan dari kejauhan. Jalanan bercabang kecil itu penuh dengan kamuflase khas Jakarta; Pedagang Kaki Lima yang menawarkan bermacam komoditi dari busana, hiburan hingga ke boga, alias barang barang yang punya alamat akhir lubang kakus, atau makanan, dari buah buahan sampai ke minuman ringan. JB telah lama kehilangan trotoarnya, berganti menjadi etalase pasar tradisional dengan musik kencang penjual CD bajakan, kaos kaki sepuluh ribu tiga pasang hingga ke counter pulsa portable! Dalam pajangan jangan ditanyakan soal kedai makanan, mulai dari warteg, warung padang, baso, mie ayam atau apapun yang mungkin orang akan butuhkan. Semua pasti ada, seperti halnya mudah dijumpai di sudut kota yang lain. Pasar buah di JB sebenarnya mengadopsi dari perempatan besar Pasar Rebo, yang berjarak hanya sekitar satu kilometer saja. Disana PKL buah buahan telah memperoleh legitimasinya denga menempati kios permanent selain yang berjubalan di sepanjang trotoar.
Sekali lagi, dari jarak limapuluh meter sebelum memasuki titik pusat ‘kehidupan’ JB, pengguna jalan yang budiman akan disuguhi dengan pemandangan yang menakjubkan; sebuah jalan raya yang seolah tidak ada celah sedikitpun yang bisa ditembus dengan kendaraan roda dua maupun roda berapapun. Penuh sesak oleh berbagai jenis kendaraan, seperti etalase hidup bagi para dealer. Disini mission impossible dimulai dengan mereka reka celah mana yang hendak dilalui untuk menembus kesemrawutan JB sambil menikmati dentuman musik dari CD bajakan, atau menikmati wajah wajah gelisah para penunggu jemputan maupun angkutan umum yang membawa mereka pergi dari situ. Angkutan umum menaikkan dan menurunkan penumpang di tengah jalan, penumpang naik dan turunpun di tengah jalan, tentu saja lengkap dengan teriakan dan suara bising klakson. Kombinasi yang harmonis untuk sebuah kondisi lalulintas!
Lepas dari kesimpulan awal bahwa JB merupakan pasar tradisional, kesimpulan baru tiba tiba terbentuk bahwa JB merupakan terminal bayangan atau tak resmi. Penumpang, kendaraan besar kecil pencari sewa, para calo yang memaksakan jasa kepada awak bus dan mikrolet dengan dalih mencarikan sewa atawa penumpang, sampai ke petugas berseragam dengan lampu gatur kedip kedip minta perhatian dari tempat persembunyiannya, warung kopi dan rokok ditepi jalan, mereka petugas yang mengabdi untuk negara demi lancarnya tertibnya lalulintas. Lampu pengendali arus lalulintas berkedap kedip dalam interval waktu yang sama, demikian juga rambu rambu lalulintas ditepi jalan bisu mandul terbalut debu polutan dari semua jenis knalpot, mesin dan manusia. Kehilangan makna dan fungsinya. Konon di tempat ini hukum bisa digadaikan oleh penegaknya dengan harga terjangkau rakyat jelata.
Melintasi JB selepas senja adalah ujian emosi tersendiri sebelum menyadari bahwa JB tidak ubahnya adalah jalan raya biasa yang punya fungsi menghubungkan satu tempat ke tempat lainya. Persinggahan dan pemberhentian kehidupan individual dari kampung kampung dan kota kota, yang masing masing berhak atas kepentingannya sendiri sendiri. Maka pemahaman soal hak itulah yang telah menciptakan kesemrawutan yang mendekati sempurna di JB. Di Jakarta, tiap jengkal tanah baik itu jalan raya maupun bukan jalan raya adalah lahan rezeki, sedangkan mengupayakan hal itu adalah hak azasi. Masing masing berebut kepentingan sendiri sendiri di tempat ini, sehingga kepentingan umum menjadi hal yang tidak mendapatkan prioritas. Kepatuhan atas ajaran budi pekerti berupa tenggang rasa dan mengedepankan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi seperti dulu diajarkan sewaktu kita SD menjadi bias disini. Fungsi dasar sebagai fasilitas umum di JB boleh saja kabur demi kepentingan pribadi yang kemudian di artikulasikan sebagai kepentingan umum.
Melintasi JB selepas senja di ujung minggu, serasa menyaksikan keseluruhan Jakarta dalam sepotong jalan raya. Kehidupan, peruntungan, keculasan. Diantara udara bercampur karbon dioksida yang kental terbaca pikiran pikiran gelisah tentang hidup yang berkejaran dengan waktu, mencoba berpacu dengan Jakarta yang tumbuh bongsor dalam usia yang makin tua, dalam peradaban yang makin langka; jauh dari kesunyian alam maupun gaung waspada dari sudut pedesaan dimana angin dan udara bersetubuh mesra setiap waktu.
Jalan Baru, 071209
*JB = Jalan Baru
Monday, December 10, 2007,8:25 AM
Pondok Yang Indah

(
Cerita Dari Jakarta VII )
+ Nak, inilah jalan busway yang sering diributkan di tivi itu.
- Ooo..ini rupanya ya? Lihat, jalanan beton telah dibangun untuk jalan busway.
+ Ini kampungnya orang orang kaya, mereka tidak mau kampung mereka dilewati busway. Bagaimana pendapatmu, nak?
- Mungkin karena mereka orang kaya, mereka merasa menjadi orang penting yang bisa mengatur. Ini kan jalan umum, jalannya pemerintah, lagian yang lewat sini juga bukan orang Pondok Indah saja.
+ Bhahahahaah….!!!
Setuju!
Dengan pemikiran yang sederhana sekalipuan, sebuah ruas jalan umum tentunya diutamakan untuk kepentingan umum, mulai dari komunitas tertentu, daerah tertentu sampai kepada negara tertentu. Umum berarti secara universal, sebuah hukum relativitas yang mengukuhkan akan mutlaknya bekerja sama sebagai perlambang dari rakyat yang berperadaban serta hukum baku sebagai mahluk sosial. Kepentingan yang lebih luas memiliki pula kuasa soal, kuasa waktu dan kuasa tempat atas fasilitas umum.
Pondok Indah, kawasan elite orang orang gedongan, orang orang kaya yang tentu lebih tahu soal peradaban justru menunjukkan sikap bertolak belakang dari moral sosiologis dasar dari tenggang rasa. Atas nama lingkungan, atas nama kelayakan, atas nama peraturan bahkan atas nama pohon pun dikemukakan demi didengar keberatannya pembangunan jalur busway koridor 8 yang membelah Pondok Indah, mulai dari Lebak Bulus sampai ke Kebayoran Lama. Salah satu jalur yang menjadi urat nadi transportasi Jakarta. Maklum saja, Jakarta ini sudah seperti orang mantu setiap hari. Sibuknya luar biasa, urusannya ribet luar biasa dan masalahnya juga banyak luar biasa. Jakarta memang kota yang luar biasa!
Yang terbayang dengan Pondok Indah adalah tempat tinggal para selebritis, pejabat, pengusaha bahkan pelacur kelas kakap, atau warga biasa tinggal, menempati gedung gedung bak istana yang tidak saling mengenal antara tetangganya. Egois, dan individualistic sesuai dengan karakter normal masyarakat cosmopolitan, metropolitan atau jumpalitan mungkin. Orang orang top, hebat dengan sumber daya manusia yang mendatangkan rezeki begitu mudah dan dalam jumlah yang besar pula. Orang dengan kelas demikian tentu saja memiliki komunitas yang berbeda dari kebanyakan orang lainnya. Jauh lebih ‘maju’ dalam pola pemikiran maupun pemahaman tentang di zaman apa dan sikap bagaimana semestinya diterapkan untuk mempresentasikan diri sebagai manusia smart, unggul diantara yang lainnya dalam bidangnya. Mereka tahu banyak soal perkembangan dari seluruh permukaan bumi satu detik setelah satu detik lainya terbunuh mati.
Seperti biasa, sebagian kecil orang bisa keblinger dengan keadaan yang terlalu maju tersebut dan membuatnya perlahan kembali menjadi mahluk yang sebenarnya; binatang yang paling sempurna. Pemahamannya dipaksa sama dengan suku Apache atau puluhan suku Indian yang harus menyingkir ketika rel kereta api dibangun di lembah lembah perawan milik leluhur mereka di pedalaman Amerika ratusan tahun silam. Si sebagian kecil ini juga hinggap di sebagian yang lebih kecil lagi dari komunitas pondok indah. Kegelisahannya persis layaknya kegelisahan sang singa ketika territorial yang sudah ditandainya dilanggar oleh binatang lain, entah pemangsa entah mangsa. Pondok Indah dan seluruh pohon, jalan, tanah, batu, bangunan serta udaranya adalah hanya milik si sebagian lebih kecil dari warga Pondok Indah itu. Takutnya, orang orang semacam ini justru tersesat oleh pikirannya sendiri yang terlanjur tidak bisa sederhana. Apapun lantas dilakukan untuk menggagalkan proyek pembangunan jalur angkutan umum yang diperuntukkan bagi kemaslahatan umum, mulai dari argumentasi dan teori soal amdal sampai memasang portal! Dan itu disebut sebgai perlawanan! Gigih bukan?!
Coba saja kita berhenti memanjakan ego sejenak, kembali ke masa kecil kita yang entah indah entah getir, kemudian kita definisikan kembali soal ‘jalan umum’. Jalan umum adalah misteri yang tidak terkuakkan dalam hayalan kecil kita. Tidak pernah seorangpun atau satu kelompokpun kita dengar menjadi pemilik dari salah satu jalan umum. Kita hanya bisa bersyukur bahwa telah ada jalan itu jauh hari sebelum kita lahir. Siapa yang membuatnya, itu adalah cerita turun temurun yang selalu memiliki segudang hal yang mengundang ketertarikan untuk mengetahuinya lebih jauh. Ribuan orang pernah kita lihat menggunakan jalan yang juga kita gunakan setiap harinya, bahkan orang yang tidak ada kepentingan dengan tempat kita atau orang yang dilintasi jalan itu. Jalan dibuat semata untuk menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Kita membersihkannya supaya orang yang lewat lebih selesa, kita merawat dan memperbaikinya karena kita sendiri juga menggunakan jasanya.
Lalu kita ke Pondok Indah, dimana jalur busway koridor 8 sedang getol dibangun dan juga getol ditentang pembangunannya. Kisruh intelektual yang bisa kita jadikan cermin bersama, betapa memprihatinkannya kerusakan moral sebagian warga bangsa karena teracuni oleh peradaban yang dianggap layak sebagai dewa baru, semudah kemunculan nabi baru; palsu!
Antara Pondok Indah – Pondok Aren, 071209
Friday, December 07, 2007,11:17 AM
Gerutu Hujan

Marah yang membuncah merobek pagi lewat mimpi. Damai terbunuh oleh gemuruh dendam yang tiba tiba hidup dari kematian suri panjang. Gigi gemeletak menahan letupan benci, hati teraniaya sedangkan segala rumus kebaikan telah disuguhkan sebagai upeti. Tawa penghinaan dan senyum ejekan mencabik cabik segala percaya diri, menempatkan sebagai korban kesekian dalam palung luka yang sama, lumpur pekat yang sama; ketidak berdayaan itu.
Pagi datang tanpa matahari, Kamis dan setiap hari tak sama lagi. Semua berubah menjadi gerang dan gersang, pembosanan atas kehidupan. Bertemu dengan manusia manusia dengan parang terhunus ditangan ketika terjaga, bertemu iblis yang berpesta pora ketika lelap membekap, sakit dan sedih semata. Lantas kemana tempat tanpa tipu daya dan ganggu jiwa? Mendung menghias langit, menutup warna keperakan pada setiap tepi mega yang katanya mengandung harapan akan kecerahan. Gerimis yang biasanya membawa syahdupun berubah menjadi gerutu oleh sebab hampanya rasa sesiang ini.
Rencana. Beribu rencana teronggok bagai bangkai kuda nil dalam angan angan. Rencana rencana yang mati pada saat kelahirannya sendiri, terlilit oleh pesimisme yang menggelayuti hati. Dengan siapa hari ini akan terbagi, sesungguhnya telah terpasrahkan diri untuk segala bentuk kehidupan manusia dan benda mati, menyerahkan diri pada keperkasaan mereka mereka yang mengendalikan dunia. Perintah diterima, perintah diteruskan semuanya melulul berisi dikte dikte otomatis dari mulut ke mulut dan lupakan tenggang rasa.
Rintik hujan disiang hari mewakili tangis yang tertahan sejak pagi. Tangis meratapi kemalangan bagi si beruntung dan keberuntungan bagi si malang; diri semata wayang. Jika nanti saatnya hujan berhenti, rasanya kaki ingin pergi meninggalkan bumi, terbang menjelajah negeri negeri sampai ke Timbuktu. Sejauh mungkin mengendarai angin, menembusi genangan demi genangan kenangan masalalu yang tak mau juga mengering meski waktu telah membakarnya jadi abu. Kenangan ternyata tak mau mati, meski perih meradang sebagai ekspresi.
Bahwa penderitaan memang melahirkan jiwa jiwa perkasa yang lahir kembali dari keterpurukan. Memahami betapa kebahagiaan tidak akan bisa terasa tanpa ketidak bahagiaan yang pernah dialami dan kesenangan sesungguhnya tidak bisa dinikmati tanpa merasakan ketidak senangan terlebih dahulu. Tersisihkan dan diacuhkan menciptakan keberanian untuk mengatakan ‘cukup’ dan lalu melambaikan tangan tanda perpisahan. Cukup adalah cukup, setelah mengemis pengertian sekian ribu tahun dan hanya membentur dalam cibiran yang menyakitkan, atau malah penghakiman yang mengerikan. “ kamu selalu negative…!”
Maka pergilah kepada hingar bingar keinginanmu. Sunyi ini akan menjadi indah tanpamu, tanpa cemooh dan permainan hatimu. Tenggelamlah diantara jubah dan topeng peradaban, menjadi palsu oleh keinginan dan pengingkaran atas realita duniawi yang tak bisa kan lepas dari status. Menarilah terus bersama irama irama cabul, pesan pesan mesum yang membuatmu serasa menjalani hidup yang semestinya.
Tetes embun, rumah kayu, kali kecil, pematang sawah, ikan gobi, sejuk lereng gunung, kebun strawberry dan cita cita indah itu mati bersama prasangka yang kau hujam deras ke ulu hatiku. Aku mati sudah untukmu…
Ciracas dibawah hujan dendam, 071207
Wednesday, December 05, 2007,5:02 PM
Pejalan sunyi

Dia yang kecil melangkah ringan, garis dibibirnya datar, menatap tak lurus tak juga menunduk, hanya berjalan saja menjauh dari kerumunan, pergi menjauh searah tenggelamnya matahari diujung bumi ketika senja mengurung padang belantara rerumputan. Malam sebentar lagi menyembunyikan ngarai dan lembah, jurang dan perbukitan bahkan pokok pokok pohon rindang yang biasanya menyajikan keteduhan akan segera lenyap dari pandangan. Sayup sayup masih terdengar di telinga mungilnya teriakan sang ibunda, berisi pesan kebaikan seperti layaknya seorang ibu kepada bayinya yang belajar mengenal kehidupan; “ jangan bicara dengan orang asing, jangan lupa bersihkan belakang telinga ketika mandi, jangan berenang sendirian, dan larangan larangan lainya yang mencerminkan betapa besar keinginan sang ibunda agar anak emasnya bebas dari segala sengkala dan celaka.
Pelukan terakhir, ciuman terakhir, dan doa yang menyamudera menyertai langkah mungilnya kini. Tekad sudah dibulatkan, niat sudah dikuatkan, dan berangkat adalah pilihan. Menejelajah belantara, menemukan kesejatian hidup diantara rahasia pepohonan dan lebatnya belantara. Ia terusir dari kelompoknya, terusir oleh perasaan ‘tahu diri’ yang ia artikulasikan sendiri dalam pikirannya. Betapa ia telah berusaha mengesankan siapa saja bahwa ia tidaklah berbeda dengan anggota komunitas lainya, tetapi tetap saja ia berpredikat beda. Orang orang yang dikenalnya telah serta merta menempelkan stigma rumit bagi dirinya sebagai orang negative, dengan pikiran dan sikap yang negative. Sungguh, ia hanya ingin menjadi yang sewajarnya. Ia terusir dari tempat dimana ia mengenal udara sebagai kehidupan dan cinta sebagai oksigen bagi jiwa.
Kaki kecil, langkah kecil bergerak zigzag menjelajah padang ilalang dan rumpun perdu, membawa rasa terbuang dalam angan angan. Mata mungil menembusi setiap lorong udara, mencari makna dari apa yang tak terlihat dari pandangannya. Bumi damai penuh cinta dimana semua tersedia melimpah, nun jauh dari bengis kelakuan para sebangsanya menjadi tujuan langkahnya. Sepanjang jalan sepi menelikung, menghadirkan sosok sosok raksasa yang lahir dari gumpalan masasilam yang berantakan.
Diperjalanannya ditemukan guru pemandu jiwanya, ialah yang mengajarkan etika dan tatakrama, tenggang rasa serta pentingnya mengalahkan diri sendiri untuk kehidupan disekelilingnya. Embun, angin, mendung, langit, pohon, daun, tanah, ranting, batu, satwa, rumput, dan segala yang hidup dan mati dari bagian bumi memberinya ajaran tentang kasih akan kehidupan, makna akan kesementaraan.
Kesendirian mengajarnya menjadi pribadi dewasa yang kuat dari terpaan puting beliung sekalipun. Kesunyian menjadi dunia miliknya, lengkap dengan monolog demi monolog panjang antara hati dan logika. Berinteraksi dengan sesama ternyata memberinya begitu banyak goresan luka, goresan luka yang diakibatkan oleh harapannya sendiri yang membentur karang terjal dan menghempaskannya dalam kekecewaan yang hanya layak dikonsumsinya sendirian. Mempertahankan diri dalam lingkaran matarantai sosial rekaan hanyalah membebani mereka yang merasa lebih penting dan baik bagi kehidupan. Dirinya hanya secuil dari mata rantai makanan terbawah yang tidak memiliki pilihan selain lari, sembunyi dan menunggu kebaikan para pemangsa kebahagiaan.
Ia menjadi raja atas bukan siapa siapa dan atas bukan apa apa. Savana maha luas menjadi istananya, dan berjuta anak pemikiran menjadi kawan dan musuhnya. Dunia dibawanya dalam pikiran, mengembara mengumpulkan helai demi helai pengalaman yang kelak akan dianyam menjadi sebuah mahakarya warisan bagi kehidupan selanjutnya. Ia tak punya tujuan, ia tak perlu tujuan. Ia berhenti ketika hati memintanya berhenti, ia berlari ketika pikiran memerintahkannya demikian.
Segerombolan orang mengaku teman tetap ada dalam angan angannya, mereka menyeringai dengan pedang bernama ego terhunus ditangan, siap mempersembahkan sobekan pada kulit dan dagingnya. Dalam kesendiriannya, ia menjadi seorang lemah yang perkasa, menempuh lebih jauh dari siapapun yang kini jauh ditinggalkannya, belajar lebih banyak dari siapapun yang dulu merendahkannya, dan bersyukur lebih banyak dari siapapun yang pernah menganggapnya permainan bagi kesenangan belaka. Ia kini punya dirinya sendiri seutuhnya, tempat kesalahan dan kebenaran ia muarakan dalam diam.
Pernah suatu ketika dikirimkannya pesan rindu lewat daun gugur kepada mereka yang pernah mengenalnya sebagai seorang pribadi, dan makian serta penghakiman didapat sebagai balasan. Dalam setiap nafasnya, ia titipkan doa kebaikan bagi sesiapa yang karena keadaannya pernah menjadi duri bagi hatinya…
Ciracas, 071205
Tuesday, December 04, 2007,4:59 PM
Rencana Pembatalan

:MP
Sebuah rencana bisa jadi dibuat dalam kurun waktu yang sangat lama, bisa berhari hari, bisa juga berbulan bulan maupun bertahun tahun. Rencana sama saja dengan menyiapkan segala sesuatu untuk membuat sesuatu terjadi. Sedangkan untuk membatalkan sebuah rencana (baik besar maupun kecil) maka kita hanya perlu ukuran waktu dalam satuan detik untuk melakukannya.
Terkadang pembatalan terasa seperti matahari yang tiba tiba padam. Dalam kegelapan seseorang yang dipancung dengan pedang bernama pembatalan harus mencari cari pegangan, dan hanya menemukan diri sendiri yang pantas untuk disalahkan. Menyalahkan diri sendiri karena terlalu berharap. Kekecewaan memang lahir dari harapan yang dibangun sendiri. Menerima. Ya, menerima itulah reaksi bijaksana yang juga menciptakan rasa aman bagi semua orang kecuali si yang menerima. Bagaimanapun kita tidak bisa mengkontrol orang lain untuk membuat sebuah keputusan, termasuk ketika seseorang harus membatalkan sebuah rencana besar yang sudah demikian diyakini bakan menjadi sebuah kenyataan yang mendatangkan rasa sukaria.
Kekecewaan yang terasa bisa saja datang dari rasa malu karena dipermainkan harapan dan keinginan sendiri. Memberi peluang kesenangan terhadap diri sendiri terasa sebagai sebuah kemewahan egois yang berlebihan terkadang. Kecele oleh keinginan dan keyakinan sendiri kemudian merubah bentuk antusiasme menjadi kekecewaan yang harus diterima sebagai milik pribadi sekali. Soal rasa memang hak milik yang sangat pribadi bagi setiap manusia.
Idealnya setiap orang tidak boleh memiliki hak untuk marah kepada orang lain,sebab setiap orang seyogianya tidak diperuntukkan untuk mengendalikan keputusan orang lain. Tidak ada satupun pasal yang mewajibkan siapapun untuk mewujudkan sebuah rencana rahasia yang disusun atas dasar keinginan semata. Setiap individu adalah pribadi yang bebas. Dan semesetinya kita merasa sangat beruntung sebab dalam kebebasan itu kita dipilih untuk menjadi sesorang dalam kehidupan pribadi orang lain. Hanya saja, memang ada kenyataan dimana terkadang kehidupan yang bukan pribadi justru menempatkan seseorang dengan penghargaan dan apresiasi yang memadai ketimbang sebuah hubungan pribadi yang semestinya penuh makna tenggang rasa.
Pembatalan sefihak tetap saja melahirkan korban. Tanpa berharap dianggap sebagai pembelaan, tetapi menempatkan kepentingan orang lain sebagai “korban” tidak lebih baik dari tragedy terburuk dalam kehidupan. Anggap saja sebagai pengabaian atas diri dan segala yang terkandung dalam pemikiran maupun emosi justru ketika diri begitu yakin kalau punya cukup nilai yang pantas untuk dipertahankan sebagai seseorang yang eksis dalam kehidupan seseorang lainya. Merasa menjadi korban atau menempatkan diri sebagai korban memanglah bukan sesuatu yang menguatkan. Pilihannya tinggal membiarkan segala hal menimpa, sebagai konskwensi dari kehidupan. Sudah sepantasnya kita berdoa semoga hidup setiap manusia diberkati dengan banyak kebaikan, terhadap siapapun yang memperlakukan kita sesuai keinginan mereka.
Entah apa lagi, entah siapa lagi yang akan melukai nanti. Biar saja, tidak penting untuk dipikirkan. Toh sebenarnya hanya kita sendiri yang bisa menyakiti diri sendiri sebab tidak seorangpun yang bisa melakukanya lagi.
Cisarua 071201
Wednesday, November 21, 2007,11:13 AM
Sembunyi

Dimanakah dimuka bumi ini tempat untuk bersembunyi, dimana tidak ada manusia dan hanya ada alam; langit dan seisinya. Benar benar sendiri ketika segala perhubungan menjadi penjajah bagi batin bimbang. Manusia menjadi wakil dari ribuan jarum yang merajam hati kesakitan satu persatu tanpa henti.
Aku ingin sembunyi, menghindari tatapan dan prasangka keji. Sembunyi dan diam tanpa kata kata membiarkan segala kehidupan berjalan dalam lindungan rasa aman tenteram, tanpa harus merasa kecewa karena manusia.
Kutemukan tempat sembunyiku, teduh rimbun dalam balutan sepi, adalah kamar tempat dimana mimpi mimpi menjadi raja atas hidupku. Tenggelam dalam ketidak sadaran dan mengembalikan fitrah pada kepasrahan. Menayuh harapan dan kecemasan yang menjadi tali ayunan sepanjang hari.
Tempat tempat yang jauh tak menjanjikan privacy, hanya jarum tajam berbentuk beda, tetap saja mengandung keperihan setiap kali nama demi nama disebutkan. Tuntutan untuk menjadi sempurna telah meletihkan semua unsur syaraf dan menyisakan lolongan tanpa suara nuin jauh di lubang rasa.
Lalu aku ingin diam. Diam berjuang memendam semua suara yang berjubal di kerongkongan, menghindar dari setiap kata yang menyerang melalui udara. Diam dan sembunyi dari manusia, hanya ada alam angan angan berbatas langit keinginan, menikmati perih siksa masalalu yang setia menjadi warna darah.
Engkau boleh bercerita tentang perjalananmu menembusi malam, menembusi gerimis dan kegembiraan, melupakan bahwa akupun punya pengharapan.
Di mimpiku tak kutemui manusia, disana tempatku menyembunyikan rasa dan raga. Disana hanya ada segerombolan iblis yang berpesta, mencabik cabik kulit tulangku sesenti demi sesenti sampai tak terasa beda antara perih dan gembira. Disana tempatku bebas mengutuki nasib diri, tanpa perlu menipu berpura menjadi lelaki.
Gempol, 071121
Saturday, November 10, 2007,3:45 PM
Risalah Pengantin
:Embun
Kutulis kesaksian, menyerta lompatan dan potongan waktu yang lahir dan mati dengan cerita. Demi kisah yang bergulung dalam sistem penanggalan, kutancapkan kerelaan pada lelaki dan perempuan dengan segenap cinta kasih. Perempuan restu ibunda hingga akhir hayatnya. Perempuan lapang dalam duka, damai dalam suka. Perempuan pilihan, tempat anak-anak bersenda di pangkuan. Tanpa keraguan, sebagaimana anak panah yang melesat menembus bilik-bilik kesunyian semesta.
Bersama, menara mimpi terbangun, kisah-kisah dan legenda terpatri pada pintu dan jendela. Membukanya ketika fajar. beranjak ketika bayang meninggalkan cahaya. Menjalin angin yang menyelusup di antara kisi-kisi hati. Merebahkan jiwa pada gugusan malam dengan sepenuhnya sukacita. Menjadi pagar besi bagi kegundahan hati. Menjadi pengasih bagi kedukaan. Menjadi bapak dalam kekanakannya. Menjadi anak bagi keibuannya.
Engkau perempuan, yang menyulam kain menjadi baju-baju. Merenda dinding kasih keniscayaan hari ini. Menjemput bunga-bunga tumbuh semusim di taman imaji. Menyiraminya dengan titik air yang meleleh menelusuri kali-kali dari hulu sudut matamu. Mengembus ubun-ubun dengan kehangatan napas kesturi.
Dia laki-laki, yang datang padamu tanpa sepatah janji-janji. Tiada sangka takdir mengulurkan tangan di hadapan. Menarik diri menelikung nurani. Merengkuh batu-batu, melunturkan luka berabad-abad. Menghadapkan wajah-wajah pada tanah keabadian.
O, Tuhan! Izinkan mereka membelah ladang-ladang. Melahirkan keturunan dari perempuan restuMu. Mengalirkan darah yang memancar membasahi lorong-lorong persemaian.
Hanya mantra doa-doa sebagai pelipur lara. Bahkan aku menziarahimu melepas segala sesal. Pada dunia lain aku berharap, sunyi akan mendengar dengan keluasan semesta. Membelaiku dengan tangan rasa penuh luka. Menghapus air mata yang menderas, mengenangmu pada cermin masa lampau.
Tak ada yang berubah atau berganti rupa. Aku tetap manusia anak manusia sediakala. Di jantungku tak lekang prasasti tentang asal-usul sejarah pertemuan. Ada darahmu yang mengalir dalam darahku. Jangan biarkan aku jadi durhaka. Lepas bakti tinggalkan jasa. Tanpa ilmu kenakan alpa dan keangkuhan. Menyusahkanmu tiada henti. Sementara waktu semakin menjadi tua. Menjadi abu. Menjadi segala yang akan kembali pada asalnya terjadi. Mungkin menjadi arang atau tanah liat, yang menanti dengan setia, seluruh kejadian terangkai untuk dikembalikan seperti semula.
O, wahai orang tua! Perkenankan waktu menyunting anak anak terkasihmu. Akan berangkat pada ketinggian derajat. Mengayun perahu batu karang. Menebar jala mengail suka. Memupuk amarah merangkum rindu. Bawa berlari menerabas halang esok hari. Meniti harapan serambut dibelah tujuh. Lepaslah dalam bentangan tiada tara.
Lepaslah bersama jiwa-jiwa bebas penerus generasi! Wahai, pengantin! Engkau menapaki jalan yang pernah aku lewati. Dengan busur dan selusin anak panah, lepaslah engkau sebagai ksatria di medan perang. Esok hari akan kembali ulang dengan kemenangan. Sekali langkah ke depan takkan dijumpai surut sejengkal. Meski tak selamanya berarti keluasan, ia hadir bersama makna-makna.
Melempangkan jalan lebih baik daripada menimbunnya dengan batu-batu. Biarkan mengalir dalam sungai-sungai yang akan pasti ke muara. Sementara sebelumnya, ia berkelok mengikuti sifat asalnya. Aku masih bagian jwamu. Seperti siang mengisi keterbatasan waktu malam, begitu pula sebaliknya kejadian. Siapa dapat menebak perhentian rumah tangga?
Wahai, pengantin! Kutulis risalah ini sebagai mahar untuk pernikahanmu. Tiada intan atau emas permata bakal kau terima, kecuali kata-kata yang berdenging di telinga, persembahan paling berharga yang sempat kumiliki. Engkau tahu, betapa tubuhku bergetar dipenuhi rasa bimbang untuk menuliskannya. Aku mati rasa menyusun kalimat demi kalimat. Dihantui ketakutan teramat sangat, membayangkan engkau yang paripurna.
Namun, wahai pengantin. Kekuatan hati telah menyatu bersama risalah ini. Tak ada bahasa lain yang mampu kusampaikan, selain lompatan huruf-huruf yang engkau mugkin tidak tertarik untuk membaca dan mendengarnya. Karena semua telah menjelma butiran-butiran di atas gemuruh jantung.
Dan ketika senja mengusung segumpal awan-awan, aku bergerak melambai pada cakrawala. Mungkin aku melebur menjadi semburat jingga, yang meriak di kaki langit meski sekejap. Dan esok lusa, aku akan muncul kembali dalam bentuk dan rupa lain. Seperti siklus berputar berwarna-warna. Siapa mampu menghadang kehendak, selain siapa yang berhak memilikinya.
Ciracas, 071110
Friday, November 09, 2007,4:48 PM
Selembar foto kenangan

Kuncup kuncup daun rumput menguning dikalahkan musim, dicerca oleh debu yang timbul tenggelam dalam permainan angin pancaroba. Jauh mimpi dari nyata menyasarkan pencarian pada ketiadaan demi ketiadaan, badan badan wadag yang tak berisi apa apa. Dari kosong melompat ke kosong lainnya dalam kepincangan nasib yang dipertaruhkan dengan diam.
“Aku merasa sendirian sepanjang jalan, berteman dengan kecemasan yang tak henti mencumbui kehendak diri”Matahari selalu lahir prematur menumpas sisa embun yang terurai. Semalam tadi curah hujan mengaburkan tangis, menyisakan penindasan kenapa subuh tak datang belakangan setelah semua mimpi terlunaskan dalam tidur yang dalam. Begitu panjang jarum arloji merabai setiap permukaan perasaan, suara detaknya bagaikan genta memekakkan telinga. Di bumi ini kesendirian bisa jadi mengerikan, ketika keindahan telah kehilangan bentuk karena dipermainkan oleh keinginan dan ketidak berdayaan maya.
Remah remah di kamar tempat dulu kita tinggalkan noda di spreinyapun ikutan mati berpupur debu. Tinggal kentara sebagai kenangan yang tak lagi punya nafas hidup meski tak mati jua. Seluruh persediaan air mata telah tumpah sepanjang jalan matahari, tinggal mengering menjadi gurun raksasa tanpa nama. Sepi yang sejati tak mengenal tenggang rasa, berdiri sendiri dan tak terbagi meski hanya dengan kata kata.
Inilah adat dunia; dari ketiadaan lalu menjadi ada kemudian menjadi sesuatu dan oleh waktu ditindas menjadi udara hampa, hilang ditelan sejarah masa. Hidup menjadi sekilas sekilas, sepotong sepotong kemudian lengang tak bertuan. Prosa atau puisi menjadi catatan yang melekat dalam darah, demikian juga sakit hati.
Pikiran mengingatkan masa dimana matahari tiba tanpa selimut awan, hanya embun pagi yang setia memupuk semangat sepanjang hari. Mata bening yang cerah senyum simpul pantang menyerah seoalah mengurai sepotong demi sepotong sejarah masasilam. Waktu membangkai, menyisakan lingkaran debu dalam cerita dan angan angan.
Selembar foto kenangan menyimpan beribu cerita kehidupan, berisikan kisah kisah panjang tentang sesuatu yang selalu bermula baru. Gambar yang terbaca melambangkan kehilangan panjang setelah jarak dan cerita kehidupan menceraikan.
Ciracas dibawah hujan, 071109
Friday, October 19, 2007,3:26 PM
Catatan Lama

Serak sumbang suara teriakkan letih jiwa malang yang sendirain nun jauh di kota asing, membangun harapan dari puing harapan lainya yang hampir tak kentara. Ternyata ia hanya boleh mengikuti irama hidup seperti apa yang telah di takdirkan tanpa ia ketahui ujung dan muaranya. Ia berbekal lugu dan semangat, mencoba mengganjal cerita hidup yang lain dari kebanyakan. Diyakininya harapan meski iri dan perasaan terbuang kerap kali memojokkanya di tempat penuh api dan dendam yang berkarat; kemiskinan.
Ia mengenal gadis menanamkan cinta suci dihatinya meski seperti memburu angin. Serentet cerita duka menggunung, kerinduan akan kampung halamannya mencatat kesendirianya yang teramat sepi dan berat. Iat tak begitu pintar mengakali hidup sebab terbentuk oleh kesahajaan dan sifat alam yang membumi fana.
Di negeri perburuan ia temukan arti hidup yang dipertahankan dengan ototnya yang lemah. Ia terbentuk menjadi seorang lelaki kecil dan tumbuh tua tanpa sempat menjadi muda. Hari hari yang tercatat hanyalah ekspresi jiwanya yang tak pernah berhenti bercakap dengan keadaaan dan keterbatasan yang nyata. Bumi aneh dan garang yang diakrabinya ternyata membawa banyak pelajaran dan medidiknya untuk tetap kokoh berdiri di kakinya sendiri yang mungil.dan tetap berpijak pada tenggang rasa yang kekal.
Cerita tentang ia yang terkucil dan sengsara, tak banyak orang mendengarnya. Sebab ia enggan memperdengarkannya kecuali menghayatinya dengan banyak tanya dan gejolak muda. Begitu banyak bangkai hari hari sepi yang pernah ia lewati, begitu bahyak episode getir dan kusam yang harus ia jalani. Tangannya melepuh oleh tiang besi pembobok bumi, dan kakinya berkapal oleh jarak yang seperti tak berujung. Sepanjang jalan ia sisir rezeki. Begitu jauh dan lengang pematang yang harus ia tempuh sendirian untuk menemukan hidup yang hilang, hidup hilang yang perlahan menjadi impian yang ia kejar diam diam.
Tanpa sadar ia menjadi bocah tua yang menciptakan dunianya sendiri seperti apa yang diingini di masa kanak kanak dulu. Ia temukan juga pelajaran berharga tentang tenggang rasa, iri, benci, kasih saying dani nilai luhur persamaan dan interaksi sesama. Iam nomanden, membuka diary yang ia simpan teramat rapi buat cerita anak cucu dan sahabat kelak…
Gang Jempiring 16 B – Denpasar Desember 1992